Breaking News:

Coffee Break

Menulis dengan Cinta

Komunitas-komunitas daring itu sebenarnya banyak yang sudah berdiri sebelum pandemi. Namun, pandemi menjadi katalisator sehingga makin berkembang.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Menulis dengan Cinta
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

DI tengah pandemi yang belum menunjukkan tanda akan mereda dan berbagai pembatasan karena pandemi, berkembang berbagai komunitas yang mungkin kurang terdengar di dunia nyata: komunitas menulis daring. Selama ini kita mengenal sejumlah komuntas menulis luring (luar jaringan) macam Forum Lingkar Pena, yang anggotanya mencapai belasan ribu di seluruh Indonesia, bahkan hingga di luar negeri.

Komunitas-komunitas daring itu sebenarnya banyak yang sudah berdiri sebelum pandemi. Namun, pandemi menjadi semacam katalisator sehingga makin berkembang luas. Komunitas Bisa Menulis, misalnya, kabarnya kini sudah memiliki jutaan anggota.

Sebagai penulis pemula, pada awal 1990-an saya juga pernah bergabung dengan Himpunan Pengarang dan Penulis Muda (HPPM) Nurani, yang beranggotakan puluhan penulis di Kota Bandung. Sayang, usia komunitas ini hanya beberapa tahun, seiring dengan bertambahnya usia dan kesibukan para pengurusnya.

Hanya beberapa minggu sebelum pandemi, saya mulai terlibat di Nulis Aja Dulu (NAD), sebuah komunitas yang baru berumur sekitar dua tahun dan kini memiliki lebih dari 14 ribu anggota di seluruh Indonesia dan luar negeri. Aktivitas komunitas ini terutama tersalurkan melalui Facebook. Tiap bulan sepanjang tahun selalu ada kegiatan menulis, antara lain berupa kompetisi yang memperebutkan hadiah, baik berupa barang maupun uang. Sebagian karya mereka juga sudah mewujud menjadi buku.

Karena oleh admin NAD diposisikan sebagai mentor, saya tentu saja tidak boleh mengikuti kompetisi. Saya dan beberapa penulis hebat tingkat nasional macam Kurnia Effendi, Iksaka Banu, Agus R. Sarjono, dan Joni Ariadinata malahan mendapat kehormatan menjadi pengajar di beberapa ruang belajar daring, antara lain ruang belajar cerpen, puisi, artikel, dan penyuntingan. Kadang-kadang kami diminta menjadi juri. Namun, sesekali kami juga memosting tulisan (cerpen, puisi, esai, dan lain-lain) di halaman FB NAD.

Dari beberapa tulisan itu saya jadi tahu bahwa ada sebagian anggota yang mengaku masih takut ketika menulis. Tepatnya, mereka takut melakukan kesalahan dan akan mendapat kritik. Mereka menyebutnya krisan, akronim kritik dan saran.

Entah mengapa, kata krisan seakan-akan menjadi semacam "horor", padahal kritik dan saran adalah sesuatu yang pasti ada dalam proses kreatif seni apa pun: menulis, melukis, menyanyi, dan sebagainya. Kritik dan saran adalah semacam jamu: pahit tapi akan membuat tubuh kita sehat. Kritik dan saran akan membuat kita mengetahui kekurangan dan kelemahan dalam karya kita. Dengan mengetahui kekurangan dan kelemahan itulah kita akan bisa terus memperbaiki diri.

Lalu saya teringat dua pemain sepak bola terhebat di dunia selama bertahun-tahun belakangan: Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Dengan cara bermain masing-masing, keduanya selalu menunjukkan sepak bola yang indah dan berlevel tinggi, yang membuat keduanya meraih berbagai prestasi tinggi dan tim yang mereka bela merebut trofi-trofi bergengsi.

Pertama, mereka sama-sama menjalani proses penempaan yang panjang, sejak usia belia, hingga menjelma menjadi pemain bola yang luar biasa. Kedua, inilah yang ingin saya tekankan, mereka bermain sepak bola dengan berani dan gembira. Mereka menikmati apa yang mereka lakukan. Meskipun setiap pemain lawan siap menerjang dengan tekel-tekel yang keras, bahkan kasar, mereka tidak pernah takut berlaga di lapangan hijau.

Di sinilah poinnya. Saya yakin Albert Einstein sangat menikmati ketika sedang membangun teori relativitas, Raden Saleh sangat menikmati ketika melukis adegan penangkapan Pangeran Diponegoro, dan Pramoedya Ananta Toer sangat menikmati ketika menulis kisah Minke dalam Bumi Manusia. Padahal, ketiganya, ketika melakukan proses masing-masing, sedang berada dalam tekanan yang sangat berat.

Nah, bagi Anda yang berminat menulis di tengah pandemi, mari bergabung di komunitas menulis daring. Marilah kita menulis dan marilah kita menulis dengan gembira.

Kita menulis dengan gembira karena kita menikmati dan mencintai apa yang kita lakukan.
Jadi, menulislah dengan penuh cinta. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved