Breaking News:

Coffee Break

Selamat Jalan, Orang-orang Besar

Tentu saja selalu ada perasaan sedih mendengar kabar seperti itu. Pada saat yang sama, saya merasa bahwa saya bukan siapa-siapa.

Selamat Jalan, Orang-orang Besar
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SETIAP ada tokoh besar meninggal dunia, kemudian orang-orang menulis kenangan atau kedekatan mereka dengan orang yang meninggal, disertai foto-foto kebersamaan mereka, saya selalu merasa mengerut menjadi liliput. Tentu saja selalu ada perasaan sedih mendengar kabar seperti itu. Pada saat yang sama, saya merasa bahwa saya bukan siapa-siapa.

Ketika Sapardi Djoko Damono meninggal dunia beberapa waktu lalu, banyak sahabat saya yang menulis kenangan dan kedekatan mereka dengan sang pensyair besar, tentu saja dilengkapi bukti berupa foto-foto. Foto-foto itu seakan-akan menunjukkan bahwa mereka menjadi bagian dari kebesaran nama Sapardi. Saya iri karena sama sekali tidak bisa menunjukkan apa pun sebagai bukti bahwa saya pernah dekat dengan sang pensyair.

Tatkala budayawan Sunda Ajip Rosidi berpulang, hal yang sama terjadi: banyak sahabat yang mengungkapkan rasa kehilangan mereka, memperlihatkan kedekatan mereka dengan lelaki luar biasa asal Jatiwangi itu, seraya menyampaikan kekhawatiran akan masa depan sastra Sunda tanpa Ajip Rosidi. Mereka pernah menjadi bagian dari kebesaran nama Ajip.

Logika Korona

Ke mana saja saya selama ini? Bagaimana bisa saya tidak pernah menjadi bagian dari kehidupan dua sastrawan besar itu? Saya hanya mengenal (sebagian kecil) karya mereka. Saya pernah melihat Sapardi di sebuah acara di Lembaga Kebudayaan Prancis di Jalan Purnawarman, Kota Bandung, entah berapa tahun lalu, tapi saya tak punya keberanian untuk mendekatinya. Situasinya memang sulit karena saat itu sedang berlangsung acara diskusi sastra dan rasanya tidak mungkin saya mendekatinya untuk memperkenalkan diri misalnya. Seusai acara pun, Sapardi menjadi salah satu magnet yang membuat orang-orang mengerumuninya.

Dengan Ajip, saya sebenarnya lebih sering bertemu. Maksud saya, lebih sering melihat Ajip di berbagai acara, tapi, namanya di sebuah acara, tak pernah ada kesempatan—mungkin lebih tepat tak pernah menciptakan kesempatan—untuk menemui Ajip. Pertemuan pertama terjadi di sebuah acara diskusi di rumah Ibu Aam Amilia pada 1990. Namun saat itu nama Ajip begitu besar, sedangkan saya hanyalah liliput: saya merasa sudah senang cukup dengan memandangnya berbicara di depan, menceritakan banyak pengalamannya sebagai sastrawan. Tak sebutir pun keberanian untuk berkenalan secara langsung. Termasuk selama 30 tahun berikutnya.

Ketika Jakob Oetama, pendiri dan pembangun kelompok Kompas-Gramedia, pergi untuk selamanya, tatkala banyak orang memosting tulisan untuk mengenangnya, disertai foto-foto kedekatan dengan Pak Jakob, saya lagi-lagi bingung. Apa yang hendak saya tulis? Saya tidak punya kedekatan dengan Pak Jakob selain merasa dekat secara psikologis karena saya masih bekerja di lembaga pers yang masih tergabung dengan grup Kompas.

Bu Tejo

Tentu saja, pada akhir 1994, saya mulai bekerja di Bola, tabloid olahraga kelompok Kompas. Setelah dilepas pada 1998 karena media-media grup ini banyak yang goyah akibat krisis moneter, saya berkesempatan masuk lagi ke grup ini pada awal 2000. Lalu, selama 20 tahun, meskipun di kelompok yang sama, saya tak pernah mengenal, apalagi dikenal, Pak Jakob. Tentu saja, dia ibarat dewa, sedangkan saya manusia jelata. Saya seperti burung pungguk yang bertengger di dahan pohon yang hanya bisa diam-diam mengagumi rembulan.

Dari berbagai postingan sahabat-sahabat media sosial itulah saya justru bisa lebih mengenal bagaimana kebesaran para tokoh itu, termasuk Pak Jakob.

Sapardi, Ajip, dan Jakob adalah orang-orang besar dan saya menyesal karena tidak pernah kenal dekat dengan mereka, apalagi sampai menimba ilmu mereka yang niscaya seperti sumur yang tak pernah kering airnya.

Meskipun mungkin terlambat, saya ingin turut menyampaikan ucapan: selamat jalan, wahai orang-orang besar, semoga Anda semua meraih kedamaian yang hakiki di sisi-Nya. Amin. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved