Breaking News:

Coffee Break

Bu Tejo

NAMA Bu Tejo benar-benar viral pekan ini. Wajahnya terpampang di mana-mana, terutama tentu saja di media sosial. Meme-nya pun bertebaran.

Bu Tejo
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan

NAMA Bu Tejo benar-benar viral pekan ini. Wajahnya terpampang di mana-mana, terutama tentu saja di media sosial. Meme-nya pun bertebaran, terutama berisi gambar dan celetukannya: Dadi wong iku kudu solutif—jadi orang itu harus solutif. Orang-orang juga membuat stiker di WhatsApp dengan wajah Bu Tejo, antara lain bertulisan "Ih, ya Alloooh, ya Alloooh."

Semua itu terjadi berkat penampilannya di film pendek Tilik karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo, yang sebenarnya dibuat pada 2018.

Dalam bahasa Jawa, tilik berarti menjenguk orang sakit. Film ini memang mengangkat kisah rombongan ibu-ibu yang menempuh perjalanan dengan truk untuk menjenguk Ibu Lurah di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, ibu-ibu itu berceloteh tentang banyak hal, tapi yang paling dominan tentang sosok Dian, seorang kembang desa di tempat asal mereka.

Bu Tejo, yang diperankan Siti Fauziah, terkesan sengaja menggunjing terus mengenai Dian yang hidup melajang, padahal teman-teman seusianya sudah menikah. Gunjingan mengenai Dian makin "panas" ketika Bu Tejo menyinggung bahwa perempuan itu baru bekerja, tapi sudah mampu membeli barang-barang mahal. Ia curiga Dian adalah perempuan "nakal".

Kata-kata Bu Tejo selalu ditanggapi secara berlawanan oleh Yu Ning (Brilliana Desy), yang memiliki hubungan saudara dengan Dian, sampai-sampai Bu Tejo dan Yu Ning berselisih dengan sengit. Di antara mereka, ada tokoh Yu Sam (Dyah Mulani) yang kerap mencari posisi aman di tengah konflik Bu Tejo-Yu Ning.

Namun, film ini tidak melulu menampilkan sisi emak-emak yang gemar bergunjing. Terselip berbagai sindiran terhadap sejumlah fenomena yang kerap ditemui di masyarakat. Tak ketinggalan bahasan tentang hoaks yang menyebar dengan mudah serta praktik suap saat orang ingin menduduki jabatan penting.

Perjalanan mereka menuju rumah sakit pun tidak mulus karena sempat diadang polisi. Namun, dengan the power of emak-emak yang luar biasa, mereka berhasil lolos.

Seperti biasa, sesuatu yang viral selalu menimbulkan tanggapan yang beragam. Banyak kritikan, bahkan cibiran, tentang kebiasaan bergunjing (gibah) emak-emak yang diwakili Bu Tejo dan rombongannya; bahwa bergunjing adalah perbuatan dosa dan sebagainya. Akhir cerita Tilik, yang terkesan membenarkan gunjingan Bu Tejo, memperkuat kritikan kelompok ini betapa sia-sianya bergunjing.

Ada pula yang menyoroti soal jilbab. Menurut mereka, ada stereotip yang ditimpakan kepada perempuan tak berjilbab, yakni dengan kemunculan Dian yang tidak berjilbab yang mereka posisikan sebagai "cewek nakal".

Di sisi lain, tak kalah banyak yang memuji film ini karena, dari sisi filmnya, plot ceritanya rapi, akting pemainnya natural, sudut pengambilan kamera dan pencahayaannya pas, teknik menangkap gambar dari jarak jauh atau ketika close up wajah ibu-ibunya proporsional, serta penyuntingannya halus.

Mereka pun senang-senang saja menonton film ini. Penulis dan aktivis media sosial Kalis Mardiasih, misalnya, menilai film itu mengingatkannya kepada ibunya sendiri "bersama mbokde-mbokde lain yang menjadi sahabatnya .... Ibu-ibu ini kalau mulutnya nggak njedhir-njedhir gitu, ya, jadi hidupnya kurang sehat gitu, lho. Istilahnya, kurang bergairah. Rasan-rasan itu kayak ngambil utangan ke bank BRI: semangat hidup."

Saya sendiri berkali-kali tertawa saat menonton film ini. Bu Tejo dan kawan-kawan sungguh gambaran realistis masyarakat kita, tidak hanya ibu-ibu, tapi juga kadang bapak-bapak, meski dengan nuansa yang berbeda. Mimik wajah, gerak bibir, dan gestur tubuh Bu Tejo terasa nyata, mewakili sosok-sosok di sekitar kita.

Saya jarang menonton film. Namun, setahu saya tak banyak film yang mengasyikkan dan menghibur sekaligus memiliki nilai mendalam seperti Tilik. Kita membutuhkan hiburan kreatif macam ini, bukan cuma film-film epigon.

Dadi wong iku kudu solutip, eh, solutif. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved