Breaking News:

Coffee Break

Logika Korona

LOGIKA yang saya maksud di sini bukanlah dalam makna keilmuan tentang kaidah berpikir, melainkan dalam arti sederhana: jalan pikiran yang masuk akal

Logika Korona
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

LOGIKA yang saya maksud di sini, tentu saja, bukanlah dalam makna keilmuan tentang kaidah berpikir, melainkan dalam arti yang sederhana: jalan pikiran yang masuk akal. Korona, tak lain, virus yang sedang menggempur seluruh dunia saat ini. Jadi, dengan logika korona, saya bermaksud menyinggung sebuah situasi pandemi yang kadang tidak masuk akal.

Begini. Angka penderita Covid-19 di Indonesia terus bertambah tiap hari. Nyaris belum ada tanda akan berkurang, apalagi mereda. Pada hari kemarin saja, dalam sehari pecah rekor baru, yakni bertambah 3.308 kasus. Sejumlah daerah menunjukkan tren yang sama. Di Jawa Barat bertambah 500-an kasus. Jakarta masih tetap mencatat pertambahan tertinggi di Indonesia, yaitu 800-an kasus.

Entah apakah angka-angka pertambahan ini masih membuat kita waspada atau tidak. Nyatanya, aturan yang paling sederhana saja, memakai masker jika di luar rumah, susah sekali ditaati. Masker di zaman pandemi ini ibarat helm. Banyak orang memakai helm bukan dengan tujuan perlindungan diri, melainkan karena takut kepada polisi. Kini orang memakai masker bukan dengan tujuan untuk melindungi diri dari korona, melainkan takut terkena sanksi polisi atau pihak berwenang lainnya.

Lalu, kemarin, Tribun Jabar memuat berita utama di halaman satu dengan judul "Korona di Indonesia Jadi Lebih Ganas". Tidakkah judul ini memberikan pukulan keras bagi kita? Saya merasakannya. Dunia sudah setengah tahun lebih dilanda pandemi korona dan, kini, alih-alih mereda, virusnya malah berkembang menjadi lebih ganas.

Tribun memberitakan, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menemukan adanya tipe mutasi virus korona baru di Indonesia. Tipe mutasi ini diyakini tidak hanya lebih ganas dan mematikan, tapi juga jauh lebih menular.

Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan, tipe mutasi virus SARS-CoV-2 ini sebelumnya juga telah terdeteksi di sejumlah negara, seperti di Malaysia. "Yang mungkin menjadi perhatian utama saat ini adalah pertanyaan apakah ada di antara virus-virus yang whole genom sequencing (pengurutan keseluruhan genom)-nya sudah dilaporkan ke GISAID. Apakah ada yang mengandung mutasi yang menunjukkan virus itu memiliki potensi bisa menular lebih cepat, yaitu disebut D614G?" kata Amin dalam konferensi pers virtual LIPI, Jumat (28/8). "Dapat kami sampaikan saat ini memang sudah diidentifikasi dan sudah dilaporkan."

Nah. Namun ....

Bukannya bertambah waspada, sejumlah pemerintah daerah malah terus berusaha mengembalikan situasi seperti sebelum pandemi. Alasannya, menggairahkan kembali ekonomi. Salah satu rencananya adalah membuka kembali gedung bioskop.

Masih dari halaman Tribun kemarin, Pemerintah Kota Bandung dikabarkan tetap akan membuka kembali tempat hiburan malam, padahal Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum merekomendasikannya. Alasannya, kata Ketua Harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandung, Ema Sumarna, "Kita harus konsisten dengan apa yang diatur dalam perwal. Kita tidak mungkin meralat itu karena sekarang sudah menjadi hukum positif. Di dalam perwalnya sudah diatur. Yang penting mereka melaksanakannya sangat ketat, sesuai dengan protokol kesehatan."

Inilah yang saya maksud logika korona: wabah korona masih menunjukkan tren mengerikan, tapi orang-orang, termasuk para pemimpinnya, terkesan mengabaikannya. Logika yang sehat, saya yakin, pastilah menganjurkan agar pemerintah menahan diri dulu, jangan tergesa-gesa membuka kembali tempat hiduran malam, termasuk bioskop. Namun, dalam logika korona, anjuran itu tidak berlaku: lebih baik mematuhi "hukum positif" daripada meralatnya demi memutus penyebaran korona.

Pandemi membuat orang seakan-akan kehilangan nalar sehat. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved