Cerpen

Laki-laki yang Menyimpan Hatinya

Bagaimana mungkin kau begitu enteng memandang sebuah kematian? Padahal yang kutahu kau tak begitu pula menjalankan ibadah dengan tekun.

Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Bocah Gerimis 

Semenjak itu, aku jauhi kau demi syariat. Kau terkejut dan berusaha mencegatku. Kau protes dan meradang, mengatakan aku tidak adil padamu. Bagaimana aku bisa memutuskan silaturahmi dengan cara tiba-tiba, sementara kau tidak mau mengerti jalan yang kupilih. Kita itu bukan muhrim dan kita haram bertemu muka.

Aku bersikukuh dengan keputusanku. Kalau ingin bertemu aku, kau harus ke rumah dan harus ada Bapak, paling tidak kakak laki-lakiku. Tapi, kau bilang tidak mau, risi katamu.

Lalu setelah itu, kita tak pernah bertemu lagi. Kau tahu? Berpisah denganmu adalah hal terberat bagiku. Bagaimana mungkin aku dengan mudah melupakanmu? Sepuluh tahun kedekatan kita sungguh penuh warna, suka dan duka. Pertengkaran-pertengkaran kecil malah semakin menguatkan kebersamaan kita. Sampai tak kita sadari, akhirnya kita saling tergantung. Kau membutuhkan aku dan sebaliknya. Lama aku tak berjumpa denganmu, rasa rindu ternyata bagaikan belati, yang mata pisaunya dapat menghunjam lebih tajam dan menyakitiku. Namun, keimananku tak tergoyahkan. Aku lebih takut kepada Tuhanku daripada menyerah kepada rasa sakit akibat rindu.

Hingga suatu hari, ada kabar yang sangat mengejutkan datang tentangmu, kau masuk rumah sakit. Bisa kau bayangkan bagaimana paniknya aku? Dengan menahan tangis aku tergopoh diantar kakak sulungku, Mas Rio. Aku menengokmu dengan rasa bersalah yang menyudutkanku sepanjang perjalanan.

"Aku ingin meminangmu!" katamu saat aku baru saja tiba di rumah sakit. Belum sempat kuatur napasku sedemikian rupa. Di tengah rasa sakit yang menderamu, kau melamarku.

Aku tertegun, entah rasa apa yang tengah berkecamuk dalam hatiku. Bahagia apakah sedih? Lalu, lewat kakakku kau mengatakan bahwa kau tengah sakit keras. Dan kau takut sekali mati. Kalau kau mati, kau ingin mati di pangkuanku. Tapi, itu tidak mungkin karena kau bukan muhrimku, agar halal maka kau ingin aku menjadi istrimu.

Ya, Tuhan. Entah apa yang mesti kulakukan. Jika keinginanmu hanya sekadar mati di pangkuanku, lalu apakah aku tak kalah lebih berdosa? Aku tak punya waktu untuk berpikir karena aku baru menyadari bahwa selama ini kau sakit parah dan menyembunyikannya dariku. Sering kau bermain-main dengan kematian, hanya karena kau tahu lebih dulu kapan kau akan mati. Kau tahu? Air mataku tak henti berderai, aku seperti akan menghadapi kematianku sendiri karena selama ini kita sering bercanda tentang selisih kematian kita, tak akan beda terpaut jauh. Jika kau mati lebih dulu, aku akan menyusulmu kemudian, begitu pun sebaliknya. Maka tak ada waktu lagi, aku mengiyakan ajakanmu untuk menikah sebelum kanker getah beningmu itu lebih cepat mengambil dirimu dariku. Aku seolah tengah mempersiapkan kematianku sendiri.

"Akan kuterima kematianku dengan ikhlas!" katamu sesaat setelah kita resmi menjadi suami- istri. Air mata menghalangi pandanganku ke wajahmu begitu saja. Semua mengabur tak jelas.

"Kamu takut?" tanyaku.

"Aku sangat takut."

Lalu aku memelukmu.

"Bimbing aku untuk hijrah," pintamu. Aku mengangguk, mencium tanganmu berkali-kali, menggenggamnya penuh dengan sejuta rasa. Akan aku nikmati sekawanan detik ini bersamamu, tak peduli seberapa lama. Barangkali cukup, untuk kita saling mengerti arti cinta yang sebenarnya, sebelum kesunyian hinggap di nisanmu esok, atau entah.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved