Cerpen

Laki-laki yang Menyimpan Hatinya

Bagaimana mungkin kau begitu enteng memandang sebuah kematian? Padahal yang kutahu kau tak begitu pula menjalankan ibadah dengan tekun.

Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Bocah Gerimis 

Oleh Tati Y. Adiwinata

SEJAK lama aku mengagumimu, laki-laki pertama dan mungkin jadi yang terakhir. Wajahmu yang tampan tentu telah menarik perhatianku, tanpa kausadari. Kita suka sekali berdebat dalam beberapa percakapan. Silang pendapat itu sudah biasa. Tapi, beberapa kali kita juga sepakat.

Suatu kali, pada saat kita terakhir berdua di beranda rumah, saat senja dengan warna jingganya yang memukau mata, kita terlibat dalam percakapan yang serius bagiku, tapi mungkin seperti hanya percakapan biasa bagimu. Dan sungguh telah meninggalkan kesan yang begitu dalam. Sering terulang dalam bingkai ingatanku. Bagaimana kamu memperlakukan aku. Aku seperti tengah bertepuk sebelah tangan, mencintaimu diam-diam, dan itu sungguh menyiksaku.

Dalam percakapan kita kau bertanya, bukankah kematian harusnya disambut dengan sukacita? Karena kematian bagimu adalah pelepasan diri dari kefanaan menuju sebuah keabadian. Bagaimana mungkin kau begitu enteng memandang sebuah kematian? Padahal yang kutahu kau tak begitu pula menjalankan ibadah dengan tekun. Katamu, "Kita selalu terjebak antara surga dan neraka, hingga kematian begitu menakutkan. Kau takut masuk neraka, bukan?" Aku terdiam. Tentu aku takut masuk neraka karena ia digambarkan penuh kengerian. Penderitaan yang abadi dan jiwa yang membusuk di dalamnya. Kau lalu tergelak, binar matamu memancarkan rasa percaya diri. Sementara aku mulai merasa tidak nyaman, ingin sekali mengalihkan topik pembicaraan ke arah yang lebih ringan. Tentang cinta umpamanya? Ya, cinta kita yang tak jelas warnanya.

Namun, kau terus tertawa. Entah apa yang kau tertawakan. Apakah keluguanku memandang tentang kematian?

"Hei, bukankah kau ahli ibadah? Kau lakukan salat lima waktu ditambah pula salat sunat, puasa, sedekah, berkurban, berbakti kepada orang tuamu, sayang kepada saudaramu. Ibadah apa lagi yang belum atau tidak rutin kaulakukan? Oh, ya, tinggal naik haji, bukan? Lalu apa yang membuatmu cemas?" Ia bertanya lagi dengan nada yang sangat enteng.

"Sudahlah, beribadah saja dengan rasa bahagia. Jangan kauhiraukan surga atau neraka. Itu, kan, wilayah Tuhan. Kita hanya manusia yang diciptakan untuk beribadah saja, bukan?" tanyamu lagi tanpa membutuhkan jawaban.

Kematian bagimu seperti sebuah lelucon. Lagi-lagi kau tergelak. Aku merasa ada yang menghunjam ulu hatiku. Entah kenapa. Setiap kau tertawa, ada sesuatu yang coba kausembunyikan.

"Meski kaukatakan aku ahli ibadah, aku selalu merasa kurang dan abai kepada Tuhanku. Rasanya bekalku belum cukup," kataku lagi, serius. Aku tahu suaraku agak bergetar. Tiba-tiba saja, aku ingin menangis, mengingat jalan hidupku. Barangkali ada dosa yang luput kuingat.

"Sudahlah, jangan cemas oleh waktu yang akan datang. Siapa tahu aku mati lebih dulu daripadamu. Dan kau tahu, aku ini seorang pembangkang!" katamu lagi. Kali ini kulihat kau agak serius. Wajahmu terasa tegang, urat-urat di keningmu tampak seperti garis-garis yang melintang begitu saja, menandakan bahwa kau sedang berpikir keras. Jangan lagi tergelak untuk menyembunyikannya karena sekarang aku sudah fasih membaca mimik mukamu. Kapan kau serius dan kapan bercanda.

Percakapan ini dimulai ketika aku pulang dari sebuah kajian di tempat aku mengaji. Sang ustaz menerangkan, bagaimana nanti jiwa terlepas dari raga. Orang yang beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Kajian belum sampai kepada orang yang tidak beriman dan jahat, Ustaz akan membahasnya kemudian. Tapi, aku sudah ngeri duluan.

Terus terang sepulang kajian aku gelisah dan langsung menghubungimu, agar hatiku tenang. Namun, kau malah membuatku lebih gelisah. Aku ingin kau berubah, untuk lebih serius melaksanakan ibadah. Kembali kau tergelak, demi Tuhan aku ingin mencubit pipimu dengan keras.

"Ibadah itu ritual, percuma kau melaksanakan gerak lahiriahnya saja, tapi implementasinya dalam kehidupan sehari-hari tidak ada!" katamu lagi.

Aku setuju dengan pendapatmu kali ini. Ibadah bukan hanya ritual raga semata. Ia adalah perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. Ah, kau ada kalanya benar, tapi tak jarang kita berbeda pendapat. Dan kau merasa selalu benar, sementara aku lebih memilih untuk diam. Entah apa sebabnya. Apa aku terlalu mencintaimu? Hingga untuk menyalahkanmu aku tak sanggup. Hubungan kita yang tidak jelas ini tentu meresahkanku akhir-akhir ini, setelah beberapa waktu lalu aku memutuskan untuk hijrah dan melaksanakan agamaku dengan kafah. Aku bilang kau bukan muhrimku dan kebersamaan kita haram hukumnya. Kembali kau tertawa. Kau selalu menganggap lelucon apa-apa yang keluar dari mulutku. Padahal aku sungguh-sungguh, jika kau serius, aku telah siap kaunikahi. Tentu dengan syarat kau pun harus hijrah bersamaku. Tapi tentu perkataan ini hanya aku simpan dalam hati, tak pantaslah aku seorang wanita mengemukakan keinginanku lebih dulu. Kau merasa tidak ada yang salah dengan hubungan kita, toh kita bersahabat telah sejak lama. Semenjak kau pindah ke depan rumahku, saat kita masih memakai seragam berwarna biru. Tapi, menjadi masalah bagiku kini ketika aku sering datang ke pengajian. Sedikit demi sedikit mengubah cara hidupku. Kau tak mau mengerti, mengatakan bahwa apa yang aku lakukan adalah norak dan kampungan. Ini bukan norak, ini hukum yang mesti aku ikuti.

Semenjak itu, aku jauhi kau demi syariat. Kau terkejut dan berusaha mencegatku. Kau protes dan meradang, mengatakan aku tidak adil padamu. Bagaimana aku bisa memutuskan silaturahmi dengan cara tiba-tiba, sementara kau tidak mau mengerti jalan yang kupilih. Kita itu bukan muhrim dan kita haram bertemu muka.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved