Breaking News:

Perajin Masker Banjir Order Saat Pandemi Virus Corona, Kini OrdernyaTurun karena Banyak Saingan

Produsen masker kain di Arjasari, Kabupaten Bandung, sempat mendapat permintaan masker di atas normal, hingga 1.200 lusin per hari.

Editor: Januar Pribadi Hamel
Istimewa
Yuliyanti Perajin Masker Arjasari 

"Sudah menurun. Sebelumnya, saya pernah menerima pesanan hingga 1.000 lusin per hari," kata Yulianti melalui sambungan WhatsApp, Rabu (22/4).

Menurut Yuliyanti, permintaan masker kepadanya menurun karena banyak konfeksi yang beralih membuat masker. Itu juga terjadi di daerahnya yang mencoba peruntungan dalam membuat masker.

Aktivitas di Jalan Pasar Kiaracondong Sangat Ramai di Tengah Masa PSBB, Ada yang Tak Pakai Masker

4 Hari PSBB di Kota Bandung, 2.123 Orang Tidak Pakai Masker, 2.524 Kali Pembubaran Massa

Kedisiplinan Warga Masih Kurang, Belasan Ribu Masker akan Dibagikan Hingga Pelosok Cianjur

"Sekarang orderan sudah normal kembali ke semula, sebelum ada virus corona," kata Yuliyanti.

Usup Poniman, produsen masker lainnya, mengalami hal yang sama. Orderannya, kini, terus menurun. Dia sempat merasakan order masker hingga 100 lusin per hari. Penurunan itu dirasakan Usup sejak 10 hari yang lalu.

"Sekarang penjualannya sudah mulai sepi karena sudah banyak yang bikin dan orang-orang sudah banyak yang punya.

Ditambah banyak pembagian masker gratis oleh masyarakat," kata Usup, produsen masker di Kota Baru, Arjasari, lewat WhatsApp, Rabu (22/4).

Usup kini hanya menerima orderan 31 lusin per hari. Angka tersebut masih jauh dari order sebelum pandemi virus corona yang mencapai 50 lusin per hari.

"Mengalami penurunan juga. Tapi, mudah-mudahan normal kembali," kata Usup.

Dampak Isu Virus Corona, Masker Hijab Buatan Arjasari Mulai Dilirik Lagi, Februari Ini Meningkat

Produsen masker kain di Ciparay, Selya Laksmanawati, merasakan yang sama. Namun, katanya, sekarang angka itu telah bergeser kembali ke angka normal, hanya 10-40 lusin per 1 harinya.

"Sudah lewat masa ramainya, sudah mulai normal, karena masker kain kalah trending sama masker scuba," kata Selya lewat WhatsApp, Selasa (21/4).

Seli, panggilan Selya, tadinya mempekerjakan tetangganya untuk memenuhi pesanan tersebut. Namun, sekarang, karena permintaan sudah normal, pekerjaan menjahit diberikan pada karyawannya saja.

"Tadinya, memberikan lapangan kerjaan kepada tetangga," kata Seli.

Seli mengaku pernah menerima saran dari temannya untuk membuat masker scuba. Namun, Seli memilih tidak menurutinya karena takut produksi masker kain produksinya malah terbengkalai.

"Jenis bahannya beda dan saya memilih untuk tetap memproduksi masker kain saja," kata Seli. (januar ph)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved