Cerpen Adi Zamzam

Hanya Firman Tuhan

Sekali ia melihat kemungkaran di jalan, tangannya takkan ragu memukul dan kakinya takkan segan menendang.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Hanya Firman Tuhan 

"Ha-ha-ha. Jadi ini hanya soal Tuhannya siapa yang benar-benar Tuhan, kan?"

"Mereka juga menganggap Tuhan kita sebagai berhala, Guru," tambah si pengikutnya tadi.

"Jadi, sekarang terserah kau! Jika kau percaya dengan mereka, ikutlah! Tapi, jika kau yakin dengan keyakinanmu sekarang, kalau perlu tampar mereka jika berbicara demikian di hadapanmu!"

Kalimat itu bersambut anggukan penuh takzim para pengikutnya.

**

LELAKI ini amat membenci orang-orang yang menyembah Tuhan yang bukan Tuhan yang ia sembah. Baginya, mereka tak lebih dari keledai dungu yang butuh dipukuli jika tak juga mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Misalnya saja ketika ada sekelompok orang "kafir" yang membangun tempat ibadah di tengah-tengah perkampungan para pengikut lelaki kita. Ia takkan segan menyuruh para pengikutnya untuk merobohkan bangunan itu. Betapa pun kericuhan akan terjadi.

"Karena keledai itu memang enggak punya otak. Mereka pasti berpikir kita akan terpengaruh dengan Tuhan mereka. Robohkan saja bangunan itu. Biar para keledai itu berpikir."

"Mereka pasti akan mengadukannya kepada pemerintah, dan kita lagi-lagi akan dicap sebagai perusuh, Guru."

"Tak apa-apa dianggap sebagai perusuh oleh manusia. Yang penting di mata Tuhan kita adalah pahlawan."

Demikianlah keyakinan lelaki ini. Keyakinan yang sudah menyatu dalam sumsum tulang bahkan hingga meresap ke dalam mimpi. Dalam mimpi, lelaki ini justru lebih tegas dan lebih berani. Ia tiada segan menumpahkan darah ribuan nyawa manusia yang dianggapnya telah turun derajat menjadi hewan rendahan lantaran telah mempersekutukan atau bahkan memusuhi Tuhan.

Tapi belakangan, malam tak lagi menjadi waktu yang asyik bagi lelaki ini. Waktu yang biasa ia gunakan untuk bermesra-mesra dengan Tuhan telah teracuni kegelisahan yang bermuara dari sebuah mimpi.

Malam yang khusyuk saat itu. Ia baru saja menyelesaikan ibadah malam yang biasa ia lakukan demi menebalkan rasa cintanya kepada Tuhan. Rembulan termangu. Dedaun tiba-tiba membeku lantaran angin tak berani mengusik. Saat itulah tiba-tiba hadir sebuah suara yang mengaku sebagai Firman Tuhan.

"Aku tidak akan meridaimu selama engkau masih membenci orang lain...."

Sayangnya, lelaki ini terbangun ketika ia berteriak menanyakan siapa si pemilik suara dan apa maksud ucapannya itu. Pikirannya mulai terganggu. Tapi ia tak mau begitu saja memercayai mimpi itu mentah-mentah. Ia curiga mimpi itu adalah ulah Setan yang tak menyukai sepak terjangnya. Dalam sejarahnya, banyak juga orang alim yang bisa disesatkan Setan yang menyaru sebagai Tuhan. Maka lelaki ini pun teguh pada pendiriannya semula. Orang-orang "kafir" dan orang-orang yang enggan melaksanakan perintah Tuhan adalah musuh yang tak layak mendapatkan belas kasih.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved