Cerpen Risda Nur Widia
Lima Puluh Tahun: Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta
SUDAH 50 tahun sejak aku mulai menulis surat-surat untukmu. Surat yang tidak pernah kaubalas.
KARENA malu, akhirnya atasan menyuruhku mengembalikan ratusan surat dari seorang pria sinting itu. Aku kembali mendapat tugas sialan ini. Sepanjang jalan menuju rumahnya, aku terus merutuki nasib malangku. Tapi tak kutemukan ia. Akhirnya aku bawa kembali ratusan surat ke kantor pos. Aku sempat menabrak seorang pria gila. Ada sepasang mata bahagia saat menatapku. Sepasang mata yang seolah menungguku puluhan tahun. Kenyatanya—karena emosi—aku tidak peduli; melewatinya begitu saja. Aku menemui kepala kantor pos. Ia menyambutku.
"Ada 102 surat yang tak pernah sampai ke alamatnya."
"Maksudmu?"
"Ada ratusan surat yang tak sampai tujuan."
"Kalau begitu bakar saja!"
"Tapi? Nanti bukannya semua harapan ini musnah begitu saja?"
"Kau tahu, tidak ada yang lebih pasti selain perubahan di dunia ini!"
Seorang staf kantor mengambil surat-surat tersebut. Aku memberikannya pasrah; mengutuki tingkah kepala kantor yang pendek akal. Dan ketika aku keluar dari kantor; aku masih melihat pria tua itu. Pria yang tampak sedang menunggu sesuatu.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/lima-puluh-tahun_20170211_204718.jpg)