Selasa, 28 April 2026

Cerpen Risda Nur Widia

Lima Puluh Tahun: Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta

SUDAH 50 tahun sejak aku mulai menulis surat-surat untukmu. Surat yang tidak pernah kaubalas.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lima Puluh Tahun 

"Apakah kau mau membuat seorang gelisah di sana karena surat-suratnya tidak pernah sampai?!" bentak atasanku.

"Tetapi alamat di dalam surat-surat itu tidak jelas, Pak," Aku mengiba.

"Tidak jelas bagaimana?"

"Tak ada tempat bernama: Jalan Kepastian, RT 07, Kampung Surga!"

"Pasti ada. Kau harus sabar. Karena 'tidak ada' yang benar-benar 'tidak ada' di dunia ini. Semua tempat di dunia ini memiliki alamat. Bahkan sebuah harapan."

Akhirnya—selama 50 tahun ini—aku hanya memiliki satu tugas pokok mencari alamat tersebut. Aku tidak perlu memikirkan surat-surat lainnya. Selama 50 tahun terakhir, aku terus mengelilingi kota-kota, samudra, dan pantai. Aku sudah menaiki bukit-bukit; menyibak tempat terpencil di belahan dunia. Tetapi aku tidak pernah menemukan alamat surat tersebut. Aku tidak pernah sampai ke alamat yang tertera di sana. Aku berpikir: Apakah benar setiap tempat di dunia ini memiliki alamat, bahkan harapan? Aku menarik gas motorku. Membelah gigil udara malam. Rembulan bersinar terang. 50 tahun aku mengelilingi dunia. Aku begitu rindu anak dan istriku yang ditinggalkan. Hingga aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan konyol ini. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku di rumah.

"Hanya orang gila yang menulis ratusan surat-surat bodoh ini," pekikku putus asa. "Tak ada alamat begitu gila dan asing seperti ini!"

Aku sempat ingin membakar semua surat tersebut. Tetapi hal itu urung aku lakukan. Aku memilih membawa pulang surat-surat itu ke kantor. Sesampainya di kantor, aku kembali menemukan tumpukan surat yang sama di kotak tunggu. Darahku naik. Ingin rasanya aku robek semua surat tersebut. "Kau sudah menyiksaku dengan harapan-harapanmu!"

Aku banting tas berisi ratusan surat hingga tercecer isinya. Aku pun mengamati satu per satu surat itu. Aku mencari surat yang paling tua yang pernah dikirim. Mataku jeli mengamati; mencari surat yang tak lagi mulus itu. Tiba-tiba hatiku gelisah. Selama 50 tahun, aku tidak pernah menyentuh satu pun surat itu. Kini aku ingin melihat apa isinya. Tetapi hal itu tidak jadi kulakukan.

Wanita Tua: Surat-Surat yang Ingin Dibalasnya

APAKAH kau masih mengirim surat-surat untukku? Aku tidak tahu: Bagaimana caranya agar kau berhenti mengirim surat-surat tersebut? Aku merasa kasihan pada tukang pos seandainya ia sungguh-sungguh mencari alamatku. Karena tukang pos itu tidak akan pernah menemukan alamatku. Begitu juga menyampaikan surat-suratmu. Karena lembar-lembar rindu itu tidak berumah untukku. Aku kini di sebuah tempat yang asing. Tempat murung di mana orang-orang hanya menunggu sesuatu, tapi tak pernah tahu apa yang mereka tunggu. Aku berharap kau melupakanku. Tidak ada gunanya lagi kau berharap. Kita tidak pernah dapat bersatu. Tuhan sudah mengatur semua pertemuan dan perpisahan kita.

Memang aku selalu merasa bersalah padamu. Dahulu seharusnya aku tidak memberimu harapan. Aku ingat saat di stasiun, ketika aku terakhir kali bertemu denganmu. Aku berjanji akan kembali dan kita menikah. Tetapi kini apa yang lebih pasti di dunia ini selain perubahan. Takdir mengubah semua harapan dan rencana kita. Lupakanlah aku. Tidak ada gunanya lagi kau mengirim surat-surat itu. Bahkan bila aku dapat membalas satu saja surat darimu, aku ingin mengatakan: Aku sudah mati pada sebuh kecelakaan kereta di Bintaro.

Pria Tua: Sebuah Harapan yang Masih Menunggumu

ORANG-orang kini menganggapku gila. Mereka memandangku dengan tatapan penuh tanya karena sudah lebih 50 tahun; setelah surat ke-102 yang aku kirimkan padamu tidak sampai. Tetapi aku tidak peduli. Aku masih menunggumu. Aku ingin mendapatkan kepastian dari semua janji. Siang dan malam aku berdiri di depan pintu kantor pos. Aku terus berdoa agar ada satu surat datang darimu; membalas ratusan surat yang sudah kukirimkan. Dan tidak ada! Hanya seorang tukang pos yang menabrak dengan wajah lelah. Tanpa ada surat. Aku seperti menunggu kepastian yang tidak berumah darimu.

Tukang Pos: Harapan yang Terbakar

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved