Breaking News:

Cerpen Risda Nur Widia

Lima Puluh Tahun: Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta

SUDAH 50 tahun sejak aku mulai menulis surat-surat untukmu. Surat yang tidak pernah kaubalas.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lima Puluh Tahun 

"Lihat pria tua tersebut," kata seorang pedagang amplop. "Sudah tua tapi masih ganjen. Ia mengirim surat cinta pada wanita lain yang bukan istrinya."

Aku memang sering mendengar cibiran tentang diriku. Banyak kabar mengatakan: Aku adalah pria bengal yang acap merayu istri orang di jauh sana. Tapi sekali lagi aku tidak berusaha untuk mendengarkan semua itu. Aku tetap menanam keyakinan dalam diri: Mengirim surat pada kekasih yang dicintai bukanlah dosa. Apalagi aku masih ingat sebelum kami berpisah; kau berjanji akan kembali dan kita menikah. Aku hanya ingin konsisten menepati janji dengan terus menunggumu, menanyakan kabarmu, dan berharap—walau kecil kemungkinan—janji itu menjadi nyata.

Kenyataan memang seperti pepatah tua milik seorang pengarang tua cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, yaitu: Tidak ada yang lebih pasti selain perubahan. Kau bisa saja sudah menikah. Melupakanku. Hidup dengan orang yang kaucintai. Tetapi aku setia menunggumu. Setidaknya aku berharap: Kau memberikan kepastian penantianku ini. Tiga bulan berikutnya berlalu. Dan tidak ada satu surat balasan darimu. Hingga aku memutuskan untuk terus menunggumu di depan pintu kantor pos, berharap seorang tukang pos datang menghampirku, memberikan surat balasan darimu yang aku tunggu.

Tukang Pos: Sebuah Alamat Ajaib di Ujung Dunia

ADA sebuah surat misterius yang tak pernah bisa aku sampaikan. Surat dengan alamat gelap kepada seorang yang hingga kini tak pernah aku temukan. Tidak jelas di mana alamat surat tersebut. Surat-surat itu hanya bertuliskan alamat sebagai berikut: Jalan Kepastian, RT 07, Kampung Surga. Tidak pernah ada alamat dan nama tempat seaneh itu. Aku sempat menganggap surat-surat yang dikirimkan tersebut hanya tingkah pemuda iseng. Tetapi—di luar dugaanku—surat-surat itu terus datang beberapa bulan sekali. Bahkan selama 50 tahun terakhir, aku sering terkena marah karena surat-surat itu.

"Apakah kau mau membuat seorang gelisah di sana karena surat-suratnya tidak pernah sampai?!" bentak atasanku.

"Tetapi alamat di dalam surat-surat itu tidak jelas, Pak," Aku mengiba.

"Tidak jelas bagaimana?"

"Tak ada tempat bernama: Jalan Kepastian, RT 07, Kampung Surga!"

"Pasti ada. Kau harus sabar. Karena 'tidak ada' yang benar-benar 'tidak ada' di dunia ini. Semua tempat di dunia ini memiliki alamat. Bahkan sebuah harapan."

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved