Cerpen Risda Nur Widia
Lima Puluh Tahun: Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta
SUDAH 50 tahun sejak aku mulai menulis surat-surat untukmu. Surat yang tidak pernah kaubalas.
Pria Tua: Surat-Surat yang Tak Pernah Lelah
SUDAH 50 tahun sejak aku mulai menulis surat-surat untukmu. Surat yang tidak pernah kaubalas. Pun akhirnya aku hanya terus menunggu sembari menata satu per satu tatakan batu bata rasa gelisahku hingga menjadikannya rumah rehat yang murung; yang perlahan-lahan mulai melahirkan anak-anak sunyi di hati. Bahkan dengan cara muskil—pun apabila dipikir tidak ada orang yang dapat setabah diriku—menunggu balasan surat cinta darimu.
Aku berpikir: Ratusan surat yang aku kirim padamu tak pernah sampai tujuan? Muncul curiga dalam benakku bahwa tukang pos yang mengantarkan surat mengalami tragedi, dan tak pernah memberikan surat-surat kepadamu. Kau tahu: jalanan sulit ditebak. Tetapi cinta—entah mengapa selalu tak masuk akal—melahirkan harapan baru di tempurung hatiku. Aku tidak pernah lelah menulis surat-surat berisikan rindu padamu. Hari ini untuk yang ke-101 dan memakan sekitar 1.875 kata, aku menulis dan mengirimkan sepujuk surat lagi. Ungkapan rindu yang aku harapkan kaubalas dari jauh.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga loket pos.
"Tolong kirimkan surat ini," kataku.
Wanita penjaga loket itu mengernyit kening. Ia sudah hafal betul dengan surat-surat yang terus kukirimkan ke alamat yang sama. Dan semua yang terjadi di antara aku serta penjaga loket itu hanyalah sebuah seremonial monoton yang menjemukan bila dibaca. Seperti adegan film yang diulang-ulang: ketika seorang pria masuk dari sebuah pintu kantor pos dengan wajah murung, menunggu nomor antrean, mengantarkan secarik kertas kepada seorang yang dirindu. Semua terus terjadi. Penjaga loket itu menulis kelengkapan administrasi, menyorongkan senyum yang dibuat-buat, menagih ongkos kirim surat, memberikan harapan bahwa surat akan sampai tepat waktu.
Tetapi setelah surat ke-101 yang kukirimkan padamu tidak pernah kaubalas. Aku terus menunggu. Dua minggu aku menunggu. Satu bulan rasa gelisah datang. Tiga bulan akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat lagi kepadamu. Begitulah. Terus berulang. Aku menulis surat ke-102 untukmu. Surat yang menanyakan keberadaanmu; keadaanmu di sana dengan sedikit membumbukan rasa rindu. Dan siang harinya aku kembali mengirim surat tersebut. Wanita penjaga loket kembali menyambutku. Alisnya keriput ketika mengetahui aku kembali datang membawa surat.
"Rajin sekali mengirim surat," tegurnya berbasa-basi. "Untuk keluarga atau untuk?"
Aku memotong, "Untuk kekasihku."
Wanita penjaga loket menyeringai. Ia pasti sedang mengejekku, atau merasa iba melihat kenyataan seorang pria tua masih mengirim surat pada kekasihnya. Tapi aku tak peduli. Mengirim surat bukan sesuatu yang berdosa. Pun ritual yang sama kembali terjadi di loket pos: aku melengkapi administrasi, senyum yang dibuat-buat, membayar ongkos kirim, sebuah kalimat harap bahwa surat pasti sampai tepat waktu.
"Lihat pria tua tersebut," kata seorang pedagang amplop. "Sudah tua tapi masih ganjen. Ia mengirim surat cinta pada wanita lain yang bukan istrinya."
Aku memang sering mendengar cibiran tentang diriku. Banyak kabar mengatakan: Aku adalah pria bengal yang acap merayu istri orang di jauh sana. Tapi sekali lagi aku tidak berusaha untuk mendengarkan semua itu. Aku tetap menanam keyakinan dalam diri: Mengirim surat pada kekasih yang dicintai bukanlah dosa. Apalagi aku masih ingat sebelum kami berpisah; kau berjanji akan kembali dan kita menikah. Aku hanya ingin konsisten menepati janji dengan terus menunggumu, menanyakan kabarmu, dan berharap—walau kecil kemungkinan—janji itu menjadi nyata.
Kenyataan memang seperti pepatah tua milik seorang pengarang tua cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, yaitu: Tidak ada yang lebih pasti selain perubahan. Kau bisa saja sudah menikah. Melupakanku. Hidup dengan orang yang kaucintai. Tetapi aku setia menunggumu. Setidaknya aku berharap: Kau memberikan kepastian penantianku ini. Tiga bulan berikutnya berlalu. Dan tidak ada satu surat balasan darimu. Hingga aku memutuskan untuk terus menunggumu di depan pintu kantor pos, berharap seorang tukang pos datang menghampirku, memberikan surat balasan darimu yang aku tunggu.
Tukang Pos: Sebuah Alamat Ajaib di Ujung Dunia
ADA sebuah surat misterius yang tak pernah bisa aku sampaikan. Surat dengan alamat gelap kepada seorang yang hingga kini tak pernah aku temukan. Tidak jelas di mana alamat surat tersebut. Surat-surat itu hanya bertuliskan alamat sebagai berikut: Jalan Kepastian, RT 07, Kampung Surga. Tidak pernah ada alamat dan nama tempat seaneh itu. Aku sempat menganggap surat-surat yang dikirimkan tersebut hanya tingkah pemuda iseng. Tetapi—di luar dugaanku—surat-surat itu terus datang beberapa bulan sekali. Bahkan selama 50 tahun terakhir, aku sering terkena marah karena surat-surat itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/lima-puluh-tahun_20170211_204718.jpg)