Cerpen Arafat Nur
Komandan Zen
Teman seperjuangan yang paling dekat denganku syahid ditembak tentara. Ada rasa bersalahku padanya yang sulit kuungkapkan.
"Mereka sudah berkurang satu panser," bisikku.
Sekitar 60 meter dari balik pepohonan karet sebelah barat, sejumlah orang berpakaian loreng menunggu reaksi dari kami. Mereka berteriak-teriak. Kami tidak begitu menanggapi.
"Pemberontak!!!" terdengar teriakan lagi. "Nyerah kau!"
"Pa'i, pulanglah ke negerimu!" Zen membalas teriakan.
"Kalian hanya empat, kami seratus dua puluh!"
"Menyerahlah!" terdengar teriakan dari barat lagi.
"Kita pergi sekarang. Tembaklah sesekali!" bisik Zen.
Kami bangun, menembak sesekali ke arah suara teriakan tadi. Inilah cara terakhir. Zen membidik. Tembakannya berirama khas. Irama inilah yang ditakuti pasukan tentara pemerintah. Mereka sudah hafal irama ini.
Biasanya irama tembakan Zen memakan korban. Sebelum menjadi tentara gerilya, dia adalah pemburu rusa. Kijang di hutan pegunungan antara Bireun dan Panton Labu sering menjadi sasaran tembakannya.
Kami menunggu Zen yang sedang menembaki musuh. Sesaat dia muncul. Kami lari tanpa membungkuk. Keringat sudah membasahi sekujur tubuh. Napas kami memburu. Dada sesak. Asap-asap mesiu peledak membuat dada kami sakit.
"Kita harus segera mendapatkan air. Kalau tidak, kita bisa mati oleh racun," kata Zen dengan suara putus-putus.
Selama dua jam kami bisa menyingkir dari medan pertempuran. Tak seorang pun di antara kami jatuh korban atau cedera. Tetapi, kini nyawa kami terancam oleh banyaknya racun mesiu yang terhirup. Kami harus mendapatkan air sebagai penawar. Kalau tidak, kami bisa mati keracunan.
"Bang, Bang.... Kenapa Bang Thaib tercenung begitu lama," suara Putri mengejutkanku.
"Aku sedang memikirkan Zen?"
"Memangnya kenapa?"
"Dia sudah tewas!"
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/komandan-zen_20161210_201351.jpg)