Cerpen Arafat Nur
Komandan Zen
Teman seperjuangan yang paling dekat denganku syahid ditembak tentara. Ada rasa bersalahku padanya yang sulit kuungkapkan.
"Lari...!" teriak Zen.
Spontan kami bangkit. Begitu cepat berlari, menjauhi arah tembakan. Sialnya, ada tembakan dari arah lain. Desingan peluru merobek daun-daun. Kami terpaksa tiarap lagi menghindari ganasnya timah panas.
Trap, trap, trap!
Sebutir mortir meledak di depan kami. Membuat lubang setengah meter. Tubuh kami terguncang. Sendi-sendi tubuhku mau putus. Getaran mortir cukup buat melemahkan mental hanya dengan suara dan getarannya. Apalagi kalau mengenai tubuh.
"Kita mundur teratur. Aku yang menembak duluan. Lalu Thaib, Maun, dan Basyah!" perintah Zen.
Kami menambah peluru ke magazen yang hampir kosong. Kulihat Zen membidik.
Tum, tum, tum!
"Ayo!" teriaknya.
Kami bertiga lari membungkuk. Zen masih membidik dengan SP-nya. Kira-kira agak jauh darinya, aku pun melepaskan tembakan. Aku berusaha melindungi Komandan Zen. Gantian Zen lari membungkuk ke arah kami. Ketika Zen tiba, terdengar Maun melepaskan tembakan.
Dummm! Terdengar lagi ledakan hebat.
Mortir meledak kembali. Sebatang pohon besar tumbang. Maun melepaskan butiran peledak dari M-60. Serangan peledak dari lawan berhenti. Yang tampak adalah bebayangan gelap. Asap mesiu bergerak naik.
"Zen, mereka Kostrad!" kataku.
"Tahu dari mana?"
"Cara mereka mengepung."
"Bagaimana meloloskan diri dari sini? Di belakang kita gunung. Bahkan, kita tidak menguasai daerah. Kau punya rencana?" tanya Zen sambil mengisi peluru SP-nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/komandan-zen_20161210_201351.jpg)