Cerpen Arafat Nur

Komandan Zen

Teman seperjuangan yang paling dekat denganku syahid ditembak tentara. Ada rasa bersalahku padanya yang sulit kuungkapkan.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Komandan Zen 

Belum sempat kami mengambil keputusan, tiba-tiba sebuah panser loreng muncul. Tanpa aba-aba Maun langsung melepaskan sebutir GLM ke arah panser itu.

Dummm!

Gumpalan asap hitam mengepul, diikuti percikan api warna-warni. Panser terhenti. Kami melepaskan tembakan otomatis. Tak ada balasan.

Aku dan Maun memutar arah motor. Terdengar gemuruh dahsyat. Ribuan butir peluru muntah ke arah kami. Desingan menggiang-giang. Mengenai pohon, daun-daun, dan ilalang. Batang-batang karet berpatahan. Juga membuat lubang kecil di jalan. Debu-debu beterbangan. Aku dan teman-teman melompat ke parit yang ditumbuhi rumput panjang.

"Tidak biasanya mereka bergerak begitu cepat," kata Maun.

"Pemberontak, mampus kau!" terdengar teriakan lawan.

Begitu suara itu habis, tiga butiran TP meledak sekitar tiga meter dekat kami tiarap. Dua TP itu membuat lubang besar di jalan. Satu butiran lagi mengenai pohon karet di belakang kami. Pohon itu tumbang, cabang-cabang menindih ilalang.

"Mampus kau, pengkhianat!" terdengar lagi teriakan.

Lantas, suara gemuruh tembakan terdengar lebih gencar. Terlihat panser yang garang memuntahkan serangan. Kami tidak bisa keluar. Kami terpaksa bertahan dalam parit. Sialnya, kami juga tidak bisa membalas.

Aku memandang Zen.

Dia menggeleng-geleng.

"Kita harus tinggalkan tempat ini!" katanya.

Tetapi, ledakan itu terdengar lagi.

Dummm!

Anak TP meledak di tempat kedua motor kami. Kulihat api membubung tinggi. Gumpalan asap bercampur percikan warna-warni. Tercium bau mesiu menyesakkan paru-paru.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved