Cerpen Greeny Azzahra

Salim

Sudah hampir sembilan tahun aku jadi preman dan baru kali ini aku menemukan seseorang yang bodoh seperti dia.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Salim 

"Untuk apa sih kita hidup?" Lelaki kurus itu membuka suara. Aku tak menghiraukannya. Mulutku terlalu sibuk mengunyah makanan. "Orang-orang selalu heran dengan semua perbuatan saya, Bang. Tapi bagi saya, hidup itu memang untuk memberi. Saya senang jika orang lain senang. Kalau Abang sendiri, untuk apa Abang hidup?"

Jika pertanyaan itu ia ajukan dulu, mungkin aku akan mencacinya dan menampar mulutnya. Tapi dengan keadaanku sekarang, pertanyaan itu seperti sebilah pisau yang ditancapkan langsung pada ulu hatiku. Lidahku kelu. Selera makanku tiba-tiba menghilang.

"Orang mau menghina saya, memanfaatkan saya atau menyuruh-nyuruh saya. Tidak apa-apa. Saya yakin kebaikan pasti Allah balas dengan kebaikan pula. Hiduplah untuk kebaikan. Hiduplah untuk memberi. Itulah prinsip hidup saya." Kali ini aku tergugu mendengar ucapannya. Tanganku berusaha memasukkan sesuap nasi pada mulut, tetapi tubuhku yang terguncang-guncang membuat aku kesulitan melakukannya. Nasi itu jatuh dan jatuh lagi dari tanganku. Seiring dengan jatuhnya tetesan air di mataku.

Untuk apa aku hidup? Ah, pertanyaan itu agaknya tak pantas untukku. Karena aku rasa kebanyakan orang lebih mengharapkanku untuk mati.

"Apa aku pantas hidup?" kalimat itu meluncur dari mulutku.

Pak Salim terdiam sejenak. Lalu senyumnya mengembang.

"Tak ada kata terlambat."

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved