Cerpen Greeny Azzahra

Salim

Sudah hampir sembilan tahun aku jadi preman dan baru kali ini aku menemukan seseorang yang bodoh seperti dia.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Salim 

Samar di antara kesadaranku yang semakin tipis, dapat kudengar cacian dan sumpah serapah yang mereka sertakan bersama pukulan dan tendangan. Baru kali ini aku merasakan ketakutan yang sangat. Beginikah yang orang-orang rasakan ketika aku nistakan mereka dengan hujan pukulan? Aku belum mau mati!

**

TUBUHKU serasa remuk. Perih menjalari sekujurnya. Aku tak tahu ini jam berapa. Hanya dapat kutangkap sinar remang lampu pijar yang menggantung tepat di atasku. Ternyata aku ada di rumah. Dengan sedikit memaksakan diri aku menolehkan kepalaku, istriku tengah tertidur di kursi kayu di samping ranjang.

Kapan aku kembali? Siapa yang menolongku? Apa istriku? Ah, sudahlah, itu tidak penting. Setidaknya aku selamat. Itu sudah untung bagiku.

Tapi ternyata petaka itu tak hanya cukup sampai di sini. Sebulan berada di rumah memang membuat badanku sedikit mendingan. Luka-luka sudah mengering. Namun kaki kananku tak bisa digerakkan. Aku tak tahu kenapa. Yang jelas mengetahui kondisiku itu, istriku cukup kaget. Sorot matanya lain ketika menatapku. Tapi aku tak bisa menerka apa artinya itu. Yang jelas, selang dua hari dari peristiwa itu, aku tak menemukan kembali istriku di rumah. Ia pergi. Entah ke mana. Meninggalkanku.

Melihat ketidakberdayaanku, Pak Mukhlis, pemilik kontrakan, mengusirku dengan paksa. Ia tidak lagi takut padaku. Di matanya kini, aku bukan siapa-siapa yang perlu ia takuti. Aku hanya seorang preman lumpuh yang tidak punya kekuasaan lagi untuk mengancamnya!

"Tinggal di kontrakan orang nggak pernah bayar! Sekarang pergi lu! Pergi sana sampah masyarakat!" begitulah kalimat perpisahan dari Pak Mukhlis.

Tadinya aku ingin tinggal di terminal. Tapi niatku urung begitu dari jauh kulihat Si Brewok dan anak buahnya tengah berada di sana. Mereka mengambil alih kekuasaanku. Aku belum bisa menganggap ini nyata. Ke mana kehebatanku dulu? Ke mana kekuasaanku dulu? Ke mana kepongahanku dulu? Habis! Habis sudah! Batinku.

Aku pun kembali berjalan dengan langkah diseret dan tongkat kayu di pegangan. Cuaca yang panas dan perut yang lapar membuatku memilih duduk di selasar masjid tak jauh dari terminal. Kurasa ini tempat yang aman agar aku tak terlihat oleh Si Brewok dan konco-konco-nya. Mana mungkin mereka mau singgah ke masjid!

"Apa ada yang bisa saya bantu, Bang?" tiba-tiba seseorang menyapaku. Suaranya tak asing.

"Salim?!" Sedikit kaget aku mendapati sosok lelaki tua itu. Ia tersenyum seraya duduk di sampingku. Aku baru ingat, sudah hampir dua bulan aku tak berjumpa dengannya. Bahkan aku nyaris lupa dengannya.

"Sedang apa lu?!" bentakku. Mungkin aku masih merasa sebagai bos preman terminal.

"Mau salat, Bang. Ini, kan, sudah masuk waktu Asar." Asing aku dengan kosakata yang ia ucapkan. Belum sempat aku membalas ia melanjutkan.

"Abang sudah makan? Ini ada nasi bungkus. Kebetulan tadi ada orang baik hati yang ngasih ke saya. Tapi alhamdulillah, saya sudah makan. Jadi, kalau Abang mau, ini buat Abang saja," ucapnya halus. Tangan keriputnya menyodorkan keresek hitam padaku. Aku tak kuasa menolak.

Kumakan nasi bungkus itu. Lahap. Sudah dua hari perutku tak terisi makanan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved