Cerpen Greeny Azzahra
Salim
Sudah hampir sembilan tahun aku jadi preman dan baru kali ini aku menemukan seseorang yang bodoh seperti dia.
Saat itu aku sedang bertengkar dengan istriku karena ketahuan mengencani seorang penjual jamu. Seharian aku uring-uringan dan menenggak minuman berbotol-botol. Aku yang tengah meracau tak jelas tak sengaja menubruknya. Tidak seperti orang lain yang langsung ketakutan ketika melihatku. Ia malah tersenyum padaku. Jelas aku tersinggung!
"Heh, ngapain lu senyum-senyum! Mau cari mati, ya, lu!"
"Apa ada yang bisa saya bantu, Bang?"
"Bantu-bantu! Memang mau lu ngasih duit ke gue?!"
"Berapa, Bang?" tanyanya kembali dengan senyum yang tetap tersungging.
Serta-merta kugeledah tiap sudut baju yang ia pakai. Begitu menemukan sebuah benda persegi hitam lusuh yang kuyakin pasti tempat ia menyimpan uang, aku langsung berhambur pergi meninggalkannya. Tak kupedulikan lagi apakah ia masih tersenyum atau merengut kesal.
Dan begitu hari-hari berikutnya ia tetap pasrah aku "permainkan", aku semakin senang! Tak ada yang lebih menyenangkan daripada mempunyai pelayan pribadi. Karena anak-anak buahku hanyalah segerombolan penakut yang berusaha berlindung di balik jubah kekuasaanku.
**
"BANG, Si Brewok embat lahan Abang di pasar sebelah!" Sore itu aku yang tengah bermain judi di pos keamanan terminal, yang kini berubah menjadi lapak judi, dikagetkan dengan berita yang dibawa oleh Si Mamet. Salah satu anak buah kepercayaanku.
Sontak aku emosi. Naluriku berang. Berani-beraninya ia melawan gue?!
Tanpa menyelesaikan permainan judi, aku loncat dari dudukku. Mulutku tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah. Dengan gerakan seperti singa yang siap menerjang, aku melangkah menuju pasar. Kulewati para pedagang asongan, tukang becak, sopir angkot, sopir bus, dan orang-orang yang mengerut ketakutan. Terakhir kulewati Pak Salim yang tengah menyapu, senyumnya terbit begitu melihatku. Namun kulalui ia begitu saja, tanpa mengubah ekspresi wajahku yang pasti menyeramkan.
Beberapa menit kemudian, aku tengah berada di dalam pasar. Dapat kucium bau anyir dan basah sisa dagangan tadi pagi. Bahkan beberapa masih berserakan memenuhi jalanan yang becek dan berlalat. Hanya saja tak kutemukan lagi sosok para pedagang berjajar menjajakan barang. Jam berdagang telah usai. Atau mungkin mereka telah buru-buru pergi dari sini, begitu mengetahui kedatanganku.
Kini di ujung tempatku berdiri, terlihat sosok laki-laki tinggi besar berambut ikal. Wajahnya dipenuhi oleh brewok. Di tiap sampingnya berdiri beberapa pria dengan perawakan yang lebih kecil darinya.
Tunggu dulu! Agaknya beberapa orang itu aku kenali. Bahkan sangat aku kenali. Bukankah itu Si Baron, Si Pepeng, dan beberapa anak buahku?! Kenapa mereka di samping Si Brewok?! Tiba-tiba firasat buruk menghinggapiku. Belum sempat aku mencerna semua yang terjadi, sebuah hantaman benda keras mendarat di kepalaku. Diikuti oleh pukulan-pukulan berikutnya. Dan dengan tubuh yang menahan sakit dapat kulihat pria kurus yang memukulku dengan besi itu. Dia orang yang selama ini sangat kupercaya. Mamet!
Serangan yang tiba-tiba membuatku tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti. Semua pria yang tadi berdiri tak jauh di depanku ikut mengeroyokku. Bahkan anak buahku pun ikut memukulku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/salim_20161112_192016.jpg)