Breaking News:

Cerpen R Yulia

Lelaki Baik

IA lelaki baik. Kata kakekku, orang baik cepat mati. Tapi kuharap ia tak terlalu cepat mati.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lelaki Baik 

Sore itu aku menunggunya dengan hati gelisah. Sudah pukul 17:45, dan ia belum juga muncul. Ia tak pernah terlambat selama ini. Aku cemas membayangkannya. Kudengar pertikaian antarkelompok jalanan makin membara. Sudah banyak korban tewas atau luka. Tiap kali menunggunya di ambang senja, aku selalu dipenuhi kecemasan. Akankah ia mati lebih cepat daripada yang kuperkirakan? Ia lelaki baik dan bisa jadi ia akan cepat mati.

Bayangannya tiba di ujung jalan. Semakin dekat dan aku dapat melihat betapa letih tubuh dan wajahnya. Lebih dari biasa. Aku menyongsongnya segera. Kupeluk ia dengan tergesa, hingga benda di tangannya terpelanting dan terpuruk ke tanah. Aroma tubuhnya sedikit berbeda sore ini. Bukan musk, lebih mirip parfum yang dijajakan di pinggir jalan. Mungkin Kenzo KW-3.

Ia kaget dan gugup dengan sikapku. Tiada kuhiraukan. Aku mencemaskannya. Ia lelaki baik dan aku tak ingin ia mati. Kami berjalan bersisian menuju beranda. Kurasa ada yang salah dengan indraku hari ini. Selain aroma, ada hal-hal berbeda di gurat parasnya, yang kukira tak pernah dimilikinya. Tapi ia terlihat lebih tampan daripada biasanya.

Kami berbicara sedikit lebih banyak pada senja ini. Anehnya, ia berbicara hal-hal yang tak pernah ia bicarakan sebelumnya. Ia tak bicara tentang angin, Sting, atau The Velvet Underground. Ia bicara banyak tentang sebuah rumah, dengan seorang perempuan yang ia sebut istri dan anak! Aku mafhum, mungkin itu impiannya. Kelak kita akan punya anak, batinku.

"Aku punya hadiah untukmu. Mana dia tadi, ya? Nah, itu dia....," Ia menuding ke halaman, di mana sebuah payung hitam tergeletak. "Sebentar." Ia beranjak dan memungut payung, lalu kembali duduk bersisian denganku.

Diserahkannya payung padaku dan menatapku dengan senyum. "Ini untukmu. Kau akan memerlukannya esok. Bisa jadi udara akan lebih terik, atau hujan turun rintik-rintik. Bawalah saat kau keluar esok hari," katanya dengan lembut.

Aku menatap payung di tangan dengan hati remuk. Aku mencemaskannya dan ia hanya memberiku sebuah payung, berwarna hitam pula! Tiba-tiba aku membencinya. Gigiku beradu keras. Kucegah semampunya melahirkan bunyi. Aku mencemaskannya dan ia membayarku dengan payung? Oh, betapa aku istri yang malang, batinku mengerang. Terhina sedemikian rupa.

Senja tenggelam tanpa ada kisah yang penting untuk diceritakan. Kau tahu, aku terlalu membencinya yang bahkan aku mengutuki diri mengapa begitu mencemaskannya. Ia pergi pada pukul sembilan dan aku mendoakan ia mati hari ini. Di kecamuk perang kelompok jalanan atau di pelukanku di atas ranjang.

**

INI pemakaman yang sunyi. Hanya ada beberapa pelayat berbaju hitam yang tak semuanya benar-benar berwajah muram, dengan payung hitam dan wajah tertunduk di hadapan sebuah pusara basah. Seorang perempuan cantik mencoba menahan isaknya. Toh, mengucur juga bulir bening di pipinya, hingga kemudian isaknya mengguncang bahu dan sedunya singgah ke telingaku. Angin mendesirkan kabar kesedihan itu.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved