Cerpen R Yulia

Lelaki Baik

IA lelaki baik. Kata kakekku, orang baik cepat mati. Tapi kuharap ia tak terlalu cepat mati.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lelaki Baik 

"Jadilah istriku dan buatkan kopi untuk kita nikmati sepanjang sore. Mungkin akan ada anak-anak. Kalaupun tidak, aku sudah cukup bahagia dengan kopimu," katanya waktu itu, dengan pandangan yang masih juga dilabuh jauh, tidak ke wajahku. Tapi aku tahu, itu kalimat untukku dan ia tak butuh jawaban.

Menjadi istri lelaki (yang kuanggap) baik, tentu saja aku harus jadi istri yang baik. Meskipun ia tak pernah membuat aturan atau definisi tentang bagaimana istri yang baik, aku berusaha menciptakan figur istri yang baik.

Aku menunggunya dengan dua cangkir kopi saban petang, menyiapkan makanan, melepasnya pergi setiap pukul sembilan malam dan tertidur pulas menemani ranjangnya (itu ranjang ukuran single yang dibelinya sebelum menikah denganku dan ia tak merasa perlu untuk membeli ranjang yang lebih besar setelah menikahiku dengan alasan, "Ranjang besar akan membuat kau dan aku berjarak, kecuali saat bercinta. Jadi biar ranjang ini saja. Kau dan aku akan senantiasa tak berjarak. Kita akan membagi detak jantung dan dengkur, mungkin juga tetesan liur," ujarnya suatu ketika, tanpa kutanya. Toh, nyatanya bisa dihitung malam-malam di mana kami benar-benar tak berjarak. Dan entah bagaimana menghitung percintaan kami, karena itu tak pernah terjadi).

Selepas pergi di pukul sembilan, ia biasanya akan pulang dalam waktu yang tak menentu. Bisa dini hari, atau seiring azan Subuh. Tak pernah kurang dari itu. Ia pulang, berganti baju dan merendam baju sebelumnya dalam ember di kamar mandi, menghidupkan dua lagu yang itu ke itu saja: "Perfect Day"-nya Lou Reed dan "Fragile" Sting (yang awalnya membuatku terjaga namun kemudian hari berikutnya malah membuat tidurku semakin nyenyak) dan berbaring di sampingku dengan mata terpejam. Tapi ia tidak tidur. Atau terkadang ia berbaring miring menghadapku. Aku tahu ia menatapku, sungguhpun saat itu aku masih tertidur pulas. Karena aku sering memimpikannya, seorang lelaki baik, berparas tampan (tentu itu bukan wajahnya—entah siapa), menatapku berjam-jam dalam tidur, hingga kokok ayam bersahut-sahutan. Terkadang, kudengar ia mengucapkan kalimat-kalimat panjang, lain waktu lebih pendek. Aku mendengar dan air mataku bergulir karenanya. Tentu saja aku masih tertidur.

Kota itu adalah kota penyamun. Kau tidak akan pernah benar-benar tahu siapa nabi dan siapa penyamun. Jadi, jangan jatuh cinta pada seseorang di kota penyamun!

Sore itu aku menunggunya dengan hati gelisah. Sudah pukul 17:45, dan ia belum juga muncul. Ia tak pernah terlambat selama ini. Aku cemas membayangkannya. Kudengar pertikaian antarkelompok jalanan makin membara. Sudah banyak korban tewas atau luka. Tiap kali menunggunya di ambang senja, aku selalu dipenuhi kecemasan. Akankah ia mati lebih cepat daripada yang kuperkirakan? Ia lelaki baik dan bisa jadi ia akan cepat mati.

Bayangannya tiba di ujung jalan. Semakin dekat dan aku dapat melihat betapa letih tubuh dan wajahnya. Lebih dari biasa. Aku menyongsongnya segera. Kupeluk ia dengan tergesa, hingga benda di tangannya terpelanting dan terpuruk ke tanah. Aroma tubuhnya sedikit berbeda sore ini. Bukan musk, lebih mirip parfum yang dijajakan di pinggir jalan. Mungkin Kenzo KW-3.

Ia kaget dan gugup dengan sikapku. Tiada kuhiraukan. Aku mencemaskannya. Ia lelaki baik dan aku tak ingin ia mati. Kami berjalan bersisian menuju beranda. Kurasa ada yang salah dengan indraku hari ini. Selain aroma, ada hal-hal berbeda di gurat parasnya, yang kukira tak pernah dimilikinya. Tapi ia terlihat lebih tampan daripada biasanya.

Kami berbicara sedikit lebih banyak pada senja ini. Anehnya, ia berbicara hal-hal yang tak pernah ia bicarakan sebelumnya. Ia tak bicara tentang angin, Sting, atau The Velvet Underground. Ia bicara banyak tentang sebuah rumah, dengan seorang perempuan yang ia sebut istri dan anak! Aku mafhum, mungkin itu impiannya. Kelak kita akan punya anak, batinku.

"Aku punya hadiah untukmu. Mana dia tadi, ya? Nah, itu dia....," Ia menuding ke halaman, di mana sebuah payung hitam tergeletak. "Sebentar." Ia beranjak dan memungut payung, lalu kembali duduk bersisian denganku.

Diserahkannya payung padaku dan menatapku dengan senyum. "Ini untukmu. Kau akan memerlukannya esok. Bisa jadi udara akan lebih terik, atau hujan turun rintik-rintik. Bawalah saat kau keluar esok hari," katanya dengan lembut.

Aku menatap payung di tangan dengan hati remuk. Aku mencemaskannya dan ia hanya memberiku sebuah payung, berwarna hitam pula! Tiba-tiba aku membencinya. Gigiku beradu keras. Kucegah semampunya melahirkan bunyi. Aku mencemaskannya dan ia membayarku dengan payung? Oh, betapa aku istri yang malang, batinku mengerang. Terhina sedemikian rupa.

Senja tenggelam tanpa ada kisah yang penting untuk diceritakan. Kau tahu, aku terlalu membencinya yang bahkan aku mengutuki diri mengapa begitu mencemaskannya. Ia pergi pada pukul sembilan dan aku mendoakan ia mati hari ini. Di kecamuk perang kelompok jalanan atau di pelukanku di atas ranjang.

**

INI pemakaman yang sunyi. Hanya ada beberapa pelayat berbaju hitam yang tak semuanya benar-benar berwajah muram, dengan payung hitam dan wajah tertunduk di hadapan sebuah pusara basah. Seorang perempuan cantik mencoba menahan isaknya. Toh, mengucur juga bulir bening di pipinya, hingga kemudian isaknya mengguncang bahu dan sedunya singgah ke telingaku. Angin mendesirkan kabar kesedihan itu.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved