Breaking News:

Cerpen R Yulia

Lelaki Baik

IA lelaki baik. Kata kakekku, orang baik cepat mati. Tapi kuharap ia tak terlalu cepat mati.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lelaki Baik 

Ia lelaki baik. Tato kepala elang bermata tajam pada lengan kanan dan naga murka di dadanya tak membuat ia menjadi lelaki yang tak baik di mataku. Sungguhpun di luar sana orang mengatakan ia bukan lelaki baik.

Ia ketua organisasi jalanan yang kerap terlibat keributan berujung terbunuhnya tiga empat orang yang tak seorang pun adalah dirinya, yang selalu terlihat duduk di meja judi didampingi perempuan-perempuan berbusana seksi dan berdandan menor. Kala ia mengangkat sebelah alis yang ditujukan pada anak-anak muda di sekitarnya, maka tak lama kemudian akan ada seseorang entah di ujung jalan mana yang mengerang kesakitan atau pingsan, bahkan mati. Lalu mayatnya ditemukan keesokan hari, entah mengapung di sungai, meringkuk di koper atau tergilas kereta api. Toh bagiku, ia tetap lelaki baik.

Saban petang aku menunggunya pulang di teras rumah. Ia tiba pada pukul 17:15 WIB, memelukku, mencium dahiku, lalu duduk di kursi rotan putih pada sudut kanan beranda. Aku menyajikan kopi dan ia menikmatinya dengan bahagia.

Adegan kemudian adalah apa yang kami lakukan dulu pada suatu senja dengan rinai gerimis di sebuah kafé. Membiarkan angin menjadi penguasa.

Oh ya, dua cangkir kopi di kafé itu hanya sekali kami cicipi, dengan duduk bersisian dan matanya yang senantiasa memandang jauh, pada jalanan lengang yang sesekali dilintasi kendaraan, atau orang-orang berpayung, atau gegas pejalan yang putus asa mencari tempat berteduh. Semakin hari para pemilik gedung semakin pelit menyediakan kanopi bagi para peneduh.

"Jadilah istriku dan buatkan kopi untuk kita nikmati sepanjang sore. Mungkin akan ada anak-anak. Kalaupun tidak, aku sudah cukup bahagia dengan kopimu," katanya waktu itu, dengan pandangan yang masih juga dilabuh jauh, tidak ke wajahku. Tapi aku tahu, itu kalimat untukku dan ia tak butuh jawaban.

Menjadi istri lelaki (yang kuanggap) baik, tentu saja aku harus jadi istri yang baik. Meskipun ia tak pernah membuat aturan atau definisi tentang bagaimana istri yang baik, aku berusaha menciptakan figur istri yang baik.

Aku menunggunya dengan dua cangkir kopi saban petang, menyiapkan makanan, melepasnya pergi setiap pukul sembilan malam dan tertidur pulas menemani ranjangnya (itu ranjang ukuran single yang dibelinya sebelum menikah denganku dan ia tak merasa perlu untuk membeli ranjang yang lebih besar setelah menikahiku dengan alasan, "Ranjang besar akan membuat kau dan aku berjarak, kecuali saat bercinta. Jadi biar ranjang ini saja. Kau dan aku akan senantiasa tak berjarak. Kita akan membagi detak jantung dan dengkur, mungkin juga tetesan liur," ujarnya suatu ketika, tanpa kutanya. Toh, nyatanya bisa dihitung malam-malam di mana kami benar-benar tak berjarak. Dan entah bagaimana menghitung percintaan kami, karena itu tak pernah terjadi).

Selepas pergi di pukul sembilan, ia biasanya akan pulang dalam waktu yang tak menentu. Bisa dini hari, atau seiring azan Subuh. Tak pernah kurang dari itu. Ia pulang, berganti baju dan merendam baju sebelumnya dalam ember di kamar mandi, menghidupkan dua lagu yang itu ke itu saja: "Perfect Day"-nya Lou Reed dan "Fragile" Sting (yang awalnya membuatku terjaga namun kemudian hari berikutnya malah membuat tidurku semakin nyenyak) dan berbaring di sampingku dengan mata terpejam. Tapi ia tidak tidur. Atau terkadang ia berbaring miring menghadapku. Aku tahu ia menatapku, sungguhpun saat itu aku masih tertidur pulas. Karena aku sering memimpikannya, seorang lelaki baik, berparas tampan (tentu itu bukan wajahnya—entah siapa), menatapku berjam-jam dalam tidur, hingga kokok ayam bersahut-sahutan. Terkadang, kudengar ia mengucapkan kalimat-kalimat panjang, lain waktu lebih pendek. Aku mendengar dan air mataku bergulir karenanya. Tentu saja aku masih tertidur.

Kota itu adalah kota penyamun. Kau tidak akan pernah benar-benar tahu siapa nabi dan siapa penyamun. Jadi, jangan jatuh cinta pada seseorang di kota penyamun!

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved