Cerpen R Yulia

Lelaki Baik

IA lelaki baik. Kata kakekku, orang baik cepat mati. Tapi kuharap ia tak terlalu cepat mati.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lelaki Baik 

IA lelaki baik. Kata kakekku, orang baik cepat mati. Tapi kuharap ia tak terlalu cepat mati. Karena orang baik yang cepat mati hanya akan meninggalkan kenangan baik yang menyakitkan. Padahal mengenang adalah satu-satunya cara untuk mengingat bahwa ia adalah lelaki yang baik.

Aku mengenalnya pada suatu senja yang kelabu, ketika langit semata abu-abu, menaungi gelap pikiran serupa bayang kepak kelelawar raksasa. Aku mematung di sebuah gang yang lengang, menghapus air mata dan menelan api yang berkobar-kobar memakan lidahku. Ribuan kata mendadak jadi debu.

Dengan tangan kanan yang menggenggam erat belati di dalam tas, aku mencoba meredakan kegugupan yang mengirimkan geletar di ujung-ujung jemari. Kubayangkan wajah seseorang dengan mata tertutup dan air mata yang mengucur tanpa jeda. Ia (entah bagaimana aku membedakan rupa dalam bayangan dengan rupa yang ada di depan mata) menundukkan kepala dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. Kedua tangannya bertumpu pada tembok di belakang tubuhku. Genggamanku pada belati semakin erat.

Kurasakan hangat napasnya merayap di kulit leherku. Rahangku mengeras seketika dan mengirimkan kekuatan untuk menarik belati keluar dari dalam tas. Sebuah sentakan kuat, dan kupastikan belati itu akan menancap, tertanam dengan cepat ke perutnya. Demikian gambaran itu kekal di kepalaku, sejak beberapa menit yang lalu.

Tapi... "Traanngg...!"

Belati meluncur ke tanah setelah menubruk entah benda keras apa hingga menciptakan bunyi seperti di film-film laga. Wajahnya masih begitu dekat dengan wajahku. Ia bernapas pelan—beraroma mint—seolah merasakan geletar tanganku yang tak kunjung reda. Ditariknya wajah sedikit menjauh dan menatap lurus tepat ke manik mataku. Dua tangannya masih bertopang pada tembok di belakang tubuhku. Kukira aku tengah meresapi aroma musk dari tubuhnya yang mengantar rasa nyaman.

"Siapa yang menyuruhmu?"

Aku merapatkan geligi hingga berbunyi gemeretuk sesaat dan mengigit bibir kuat-kuat. Setetes darah mengalir pelan karenanya. Ikrar bersetia atas nama nyawa mengiang di telinga. Saat itu aku merasa benar-benar ingin buang air. Tak ada yang menjawab pertanyaannya, selain bulir gerimis yang jatuh satu demi satu di atas wajahku. Ia menarik wajahnya lebih jauh, juga tangannya, juga pandangannya. Dan tubuhnya bergerak ke sampingku, menyandar ke tembok dengan wajah tengadah ke langit. Sepertinya ia sudah tak butuh jawaban. Ia tahu.

"Sebentar lagi hujan deras. Bagaimana kalau kita mememesan dua gelas kopi di kafé ujung jalan?"

Aku menggigit biar kian kuat. Darah menitik. Air mata seperti alir sungai yang menghilir. Tiba-tiba ia menarik tanganku seraya berbisik, "Hapus air matamu." Lantas begitu saja kami bergandengan dalam diam di tepi jalan seperti sepasang kekasih yang akan berpisah, setelah bertemu sesaat, yang tentu sebelumnya telah terpisah sekian waktu. Dan gerimis adalah pelengkap suasana yang pas.

Ia lelaki baik. Tato kepala elang bermata tajam pada lengan kanan dan naga murka di dadanya tak membuat ia menjadi lelaki yang tak baik di mataku. Sungguhpun di luar sana orang mengatakan ia bukan lelaki baik.

Ia ketua organisasi jalanan yang kerap terlibat keributan berujung terbunuhnya tiga empat orang yang tak seorang pun adalah dirinya, yang selalu terlihat duduk di meja judi didampingi perempuan-perempuan berbusana seksi dan berdandan menor. Kala ia mengangkat sebelah alis yang ditujukan pada anak-anak muda di sekitarnya, maka tak lama kemudian akan ada seseorang entah di ujung jalan mana yang mengerang kesakitan atau pingsan, bahkan mati. Lalu mayatnya ditemukan keesokan hari, entah mengapung di sungai, meringkuk di koper atau tergilas kereta api. Toh bagiku, ia tetap lelaki baik.

Saban petang aku menunggunya pulang di teras rumah. Ia tiba pada pukul 17:15 WIB, memelukku, mencium dahiku, lalu duduk di kursi rotan putih pada sudut kanan beranda. Aku menyajikan kopi dan ia menikmatinya dengan bahagia.

Adegan kemudian adalah apa yang kami lakukan dulu pada suatu senja dengan rinai gerimis di sebuah kafé. Membiarkan angin menjadi penguasa.

Oh ya, dua cangkir kopi di kafé itu hanya sekali kami cicipi, dengan duduk bersisian dan matanya yang senantiasa memandang jauh, pada jalanan lengang yang sesekali dilintasi kendaraan, atau orang-orang berpayung, atau gegas pejalan yang putus asa mencari tempat berteduh. Semakin hari para pemilik gedung semakin pelit menyediakan kanopi bagi para peneduh.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved