Breaking News:

Cerpen Toni Lesmana

Lakon Borok

SEBUAH pertigaan tengah kota. Trotoar di depan gedung kesenian yang mau ambruk. Bergelimpangan tubuh-tubuh budug tanpa selimut.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lakon Borok 

Sarah terjengkang. Cepat bangkit mengejar. Di luas lengang alun-alun. Kejar mengejar. Borok mengejar masjid agung. Sarah mengejar Borok.

"Berhentilah, Tua Bangka! Mereka akan membunuhmu!" Sarah menjerit-jerit. Beberapa kali hendak meraih ujung tambang. Namun selalu luput. Hampir ke tepi, di depan gerbang masjid agung, Sarah melompat dan menubruk langsung memeluk Borok. Mereka bergulingan. Terbanting-banting.

Sarah memeluk erat Borok yang meronta dan menggigit. Pelukan yang terus diperkuat. Mereka bergulingan. Banjir keringat dan air mata.

"Tidurlah, tidurlah dalam pelukku. Ayo, gigit yang kuat rasa sakitku. Seperti nasib menggigit koyak hidup kita. Tidurlah, tidurlah Tua Bangka." Sarah berteriak marah sambil menangis.

Borok masih melawan. Menggigit. Berangsur lemah ketika air mata Sarah deras memandikan tubuh bugilnya. Ia mengerang. Kejang-kejang. Sebelum surut, mengerut, dan meringkuk dalam peluk Sarah. Terdengar dengkur.

"Tidurlah, tidur. Pergilah purnama sialan! Pergi! Biarkan Tua Bangka ini tidur, lelap dari gila yang kau tumpahkan ke kepalanya. Pergilah!" Sarah memeluk erat sambil menangis sejadi-jadinya.

Bulan nanah masih saja terbahak di angkasa. Gemanya terbang ke mana-mana. Menyusup merdu dalam lantunan ayat suci.

Sarah pelan membuka tambang yang menjerat leher Borok. Hati-hati dipangkunya tubuh kurus bugil Borok yang kini lemah terkulai. Tubuh yang terus dihujani deras air mata. Tubuh yang tak henti dicium sepenuh cinta.

Sarah hampir sempoyongan memangku Borok melintasi pekarangan masjid agung. Mengendap takut tepergok orang-orang yang hendak ke masjid. Senyap memasuki kamar mandi, menggantungkan buntalan karung. Mengelap bersih bugil tubuh Borok lantas memakaikan baju dan sarung.

Adan Subuh. Sarah terlihat menidurkan Borok dalam posisi duduk, bersandar di tembok gerbang masjid agung, menghadapi sebuah mangkok kosong. Sarah sendiri sudah berpakaian tertutup plus kerudung sambil memeluk buntalan sarung. Terkantuk-kantuk.

"Gila! Ini masih subuh. Kau sudah mangkal." Seseorang datang berjalan limbung. Langganan Sarah.

"Lumayan, nunggu rezeki sambil tidur." Sarah menjawab dengan malas.

"Ayahmu sudah jinak? Semalam lebih gila dari bulan kemarin!" terkekeh sambil menatap ngeri ke arah Borok yang ngorok.

"Tentu. Purnama segera habis. Dia sedang lelap bekerja. Pergilah, jangan mengganggu."

"Eh, Nanti malam aku minta gratis, ya. Semalam kau kabur sebelum meletus."

"Enak saja! Tak ada yang gratis dalam hidup ini! Pergi." Sarah mengacungkan pecut. Orang itu pergi sempoyongan sambil menirukan bacaan shalat yang terdengar dari pengeras suara masjid agung.

Seseorang berkopiah berjalan tergesa. Berhenti, sejenak. Melempar uang ke dalam mangkuk kosong. Berlari ke arah masjid. Borok ngorok. Sarah menguap sambil mengusap air mata. Bulan nanah masih terbahak di atas runcing kubah. Celurit angin masih mengiris.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved