Breaking News:

Cerpen Toni Lesmana

Lakon Borok

SEBUAH pertigaan tengah kota. Trotoar di depan gedung kesenian yang mau ambruk. Bergelimpangan tubuh-tubuh budug tanpa selimut.

Ilustrasi Lakon Borok 

"Tua, gila! Masih saja dipiara!" sungut yang lainnya.

"Kapan matinya anjing edan itu!" timpal yang lainnya lagi.

Sarah melotot dan murka. Pecut dilecutkan ke arah suara-suara. Borok berusaha menggigit ke sana kemari. Lidahnya terus menjulur. Liurnya terus meluncur.

Tenaga Borok seperti tak habis, malah makin edan. Sarah tergusur. Meringis. Borok makin liar dan beringas. Sepasang remaja yang sedang berciuman di bawah lampu jalan dibikin saling gigit sambil kencing. Seorang satpam sebuah bank terperanjat lari mengunci diri dalam posnya. Tukang ojeg ngacir di depan minimarket yang terjaga 24 jam. Borok terus menyeret Sarah ke arah alun-alun.

Pos polisi. Dua orang polisi minggir dan bergidik. Jijik. Diam-diam meraba pistol masing-masing ketika Borok dan Sarah datang melabrak. Tentu mereka terlalu sayang untuk menghamburkan peluru hanya untuk dua manusia gila yang malam-malam buta keliling kota dengan tingkah tidak wajar. Sesekali lecut pecut lemah terdengar.

Bulan nanah di atas langit seperti wajah yang sedang tergelak. Terbahak-bahak. Bintang-bintang seperti tebaran tawa. Terpingkal-pingkal di angkasa. Tumpah nanah purnama dari mulut-mulut nganga luas langit malam.

Alun-alun. Sarah menarik tambang. Terengah-engah. Hampir jatuh tergusur di atas rumput. Susah payah berpegangan pada tiang sebuah lampu taman. Sedikit-sedikit berusaha menyeret yang tengah menggusur. Borok masih menggebu. Menerjang-nerjang. Kedua tangannya mencakar ke sana-sini. Merobek-robek angin, menggigit-gigit udara dingin.

Tangan Sarah akhirnya berhasil membelitkan tambang ke tiang lampu. Mengunci mati. Asu lapuk! Desisnya sambil menjatuhkan diri dan melempar pecut dengan kesal. Menanggalkan buntalan sarung, lalu terbaring di atas rumputan memandang langit yang melimpah nanah.

"Kalau bukan ayahku, sudah kucekik dan kukirim dengan tanganku sendiri ke rumahmu," bisik Sarah seperti melempar letih dan perih. Tangannya merogoh kutang. Menghitung uang. Terkikik seperti menangis. Diambilnya sebungkus mi instan. Meremasnya dengan gemas. Digoyang-goyang hingga melahirkan bunyi. Seperti sengaja menggoda yang masih menggeram dan meronta di ujung tambang.

Sarah bangkit. Merobek bungkus. Serpih mi kering itu ditumpahkan ke telapak tangan. Mendekati Borok.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved