Cerpen Toni Lesmana
Lakon Borok
SEBUAH pertigaan tengah kota. Trotoar di depan gedung kesenian yang mau ambruk. Bergelimpangan tubuh-tubuh budug tanpa selimut.
Bulan nanah di atas langit seperti wajah yang sedang tergelak. Terbahak-bahak. Bintang-bintang seperti tebaran tawa. Terpingkal-pingkal di angkasa. Tumpah nanah purnama dari mulut-mulut nganga luas langit malam.
Alun-alun. Sarah menarik tambang. Terengah-engah. Hampir jatuh tergusur di atas rumput. Susah payah berpegangan pada tiang sebuah lampu taman. Sedikit-sedikit berusaha menyeret yang tengah menggusur. Borok masih menggebu. Menerjang-nerjang. Kedua tangannya mencakar ke sana-sini. Merobek-robek angin, menggigit-gigit udara dingin.
Tangan Sarah akhirnya berhasil membelitkan tambang ke tiang lampu. Mengunci mati. Asu lapuk! Desisnya sambil menjatuhkan diri dan melempar pecut dengan kesal. Menanggalkan buntalan sarung, lalu terbaring di atas rumputan memandang langit yang melimpah nanah.
"Kalau bukan ayahku, sudah kucekik dan kukirim dengan tanganku sendiri ke rumahmu," bisik Sarah seperti melempar letih dan perih. Tangannya merogoh kutang. Menghitung uang. Terkikik seperti menangis. Diambilnya sebungkus mi instan. Meremasnya dengan gemas. Digoyang-goyang hingga melahirkan bunyi. Seperti sengaja menggoda yang masih menggeram dan meronta di ujung tambang.
Sarah bangkit. Merobek bungkus. Serpih mi kering itu ditumpahkan ke telapak tangan. Mendekati Borok.
"Ayo, ini untuk laparmu, Tua Bangka! Kita harus tetap hidup untuk menyumpal mulut takdir kita yang bobrok."
Borok menjulurkan lidah ke tangan Sarah. Menjilat serpih mi. Rakus. Habis. Borok melonjak-lonjak. Lapar. Sarah menumpahkan lagi serpih mi ke telapak tangan. Matanya berlinang. Butiran-butiran air mata berjatuhan ke rumput. Borok melotot. Tatapnya perlahan jinak. Menjilati pecahan butiran di rumputan.
"Minumlah, minumlah kesedihanku! Jilati sampai kering! Kesedihan adalah air minum keabadian!" Sarah mengelus dan mencium botak batok kepala Borok.
Gemuruh kereta api terdengar di kejauhan. Suara tahrim menetas dari arah masjid agung seberang alun-alun. Rekaman merdu ayat-ayat suci terlantun.
Borok mendongak ke langit. Bulan nanah tumpah ke arah barat. Awan tipis berlarian. Salaknya dan geramnya terdengar lagi. Meronta. Menerjang. Tiang lampu taman penambat tambang bergetaran mengekang yang hendak lepas.
Sarah memekik. Berdiri seperti seseorang yang bangkit dari rasa sakit. Buntalan sarung diangkut lagi ke punggung. Pecut diraih. Meledak di udara. Isyarat yang tak bisa meredakan yang meradang, menerjang-nerjang ke arah masjid agung.
"Tenanglah, Tua Bangka. Tak ada siapa-siapa di sana. Tidak juga dia. Diamlah di sini." Sarah mulai berteriak dibalas lolongan panjang.
Di langit, bulan nanah terus terbahak. Terguncang-guncang seperti hendak meledak.
Borok menggeram. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram rumput. Merunduk. Seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk menyerang dengan sepenuh tenaga. Seperti sedang mengerami ledak tenaga penghabisan. Matanya nyalang.
Tepat, ketika Sarah hendak menunduk dan mengelus, Borok tiba-tiba melompat ganas. Ikatan tambang lepas dari tiang lampu. Borok melompat dan berlari di atas rumput alun-alun memburu masjid agung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/lakon-borok_20161022_214451.jpg)