Cerpen Toni Lesmana
Lakon Borok
SEBUAH pertigaan tengah kota. Trotoar di depan gedung kesenian yang mau ambruk. Bergelimpangan tubuh-tubuh budug tanpa selimut.
SEBUAH pertigaan tengah kota. Trotoar di depan gedung kesenian yang mau ambruk. Bergelimpangan tubuh-tubuh budug tanpa selimut. Ada yang tiba-tiba bangkit bergetar. Mula-mula menggigil. Matanya beringas. Buas. Satu demi satu pakaian dilucuti. Merangkak. Tubuh kering keriput. Kepala mengilap.
Borok, gelandangan tua itu, bugil seperti anjing. Gigil. Melesat ganas menggempur seorang pejalan miring. Dibanting botol. Terkaing-kaing. Bergulingan di trotoar. Menyeringai. Grrr. Geram di bawah lampu jalan. Lidah terjulur. Liur meluncur. Pelacur tua ngibrit hendak digigit. Borok menjilati tiang listrik. Mengacak-acak isi tong sampah. Menyalak.Gelandangan lain kabur sambil kantuk memeluk kardus, sebagian lenyap ke sebuah gang yang gelap dan kelam. Borok dicaci. Cuih. Ditinggal sendiri. Menyalak galak ke arah langit malam.
Purnama. Bulan bulat sewarna nanah deras melimpah menyiram kota. Celurit angin dini hari. Pertigaan jadi sepi. Trotoar tinggal tebar kardus berserakan. Semua pergi terusir.
Edan lagi! Sarah muncul terbungkuk dari mulut gang, terburu menarik celana dalam yang nyangkut di lutut, tak sempat menurunkan rok. Asu! Berlari dengan mulut penuh kutukan. Gincu dan pupur bertempur di pipinya. Belepotan.
Borok masih menyalak di atas tempat sampah seperti serigala yang ingin menggigit langit. Menjilat bulat nanah yang pongah.
Sarah membongkar buntalan sarung di atas hampar kardus. Berantakan. Pakaian, kutang, celana dalam, kaus, celana, biskiut, kopi, mi instan, lipstik, bedak. Lekas meloloskan semacam tali yang tersembunyi di dasar buntalan. Tambang panjang dengan bulatan simpul dan sebuah pecut. Memunguti kembali yang berceceran.
"Kumat seenaknya! Aku belum selesai. Belum dibayar!" hardik Sarah. Melengking. Jerit sengit. Mirip seorang pawang. Pecut teracung di tangan kanan, tambang bersiap di tangan kiri. Buntalan sarung di punggung. Satu dua langkah. Hap. Melompat. Menubruk. Bergelut dalam tong sampah. Tarrr! Suara pecut bergetar bikin gentar.
Keduanya melompat bersamaan ke atas trotoar. Borok tetap merangkak liar dengan leher sudah terjerat tambang. Simpul yang sengaja longgar dilehernya. Meronta-ronta. Menggeram. Benar-benar mirip anjing piaraan. Ujung tambang erat dipegang tangan kiri Sarah.
Pecut melecut-lecut di udara. Sarah tertarik tenaga Borok yang terus maju. Mendengus-dengus sepanjang trotoar. Menyusuri gedung-gedung yang tertidur. Membubarkan tubuh-tubuh yang bergelimpangan di atas kardus.
"Sudah lepaskan saja! Biarkan dia koit!" teriak seseorang.
"Tua, gila! Masih saja dipiara!" sungut yang lainnya.
"Kapan matinya anjing edan itu!" timpal yang lainnya lagi.
Sarah melotot dan murka. Pecut dilecutkan ke arah suara-suara. Borok berusaha menggigit ke sana kemari. Lidahnya terus menjulur. Liurnya terus meluncur.
Tenaga Borok seperti tak habis, malah makin edan. Sarah tergusur. Meringis. Borok makin liar dan beringas. Sepasang remaja yang sedang berciuman di bawah lampu jalan dibikin saling gigit sambil kencing. Seorang satpam sebuah bank terperanjat lari mengunci diri dalam posnya. Tukang ojeg ngacir di depan minimarket yang terjaga 24 jam. Borok terus menyeret Sarah ke arah alun-alun.
Pos polisi. Dua orang polisi minggir dan bergidik. Jijik. Diam-diam meraba pistol masing-masing ketika Borok dan Sarah datang melabrak. Tentu mereka terlalu sayang untuk menghamburkan peluru hanya untuk dua manusia gila yang malam-malam buta keliling kota dengan tingkah tidak wajar. Sesekali lecut pecut lemah terdengar.
Bulan nanah di atas langit seperti wajah yang sedang tergelak. Terbahak-bahak. Bintang-bintang seperti tebaran tawa. Terpingkal-pingkal di angkasa. Tumpah nanah purnama dari mulut-mulut nganga luas langit malam.
Alun-alun. Sarah menarik tambang. Terengah-engah. Hampir jatuh tergusur di atas rumput. Susah payah berpegangan pada tiang sebuah lampu taman. Sedikit-sedikit berusaha menyeret yang tengah menggusur. Borok masih menggebu. Menerjang-nerjang. Kedua tangannya mencakar ke sana-sini. Merobek-robek angin, menggigit-gigit udara dingin.
Tangan Sarah akhirnya berhasil membelitkan tambang ke tiang lampu. Mengunci mati. Asu lapuk! Desisnya sambil menjatuhkan diri dan melempar pecut dengan kesal. Menanggalkan buntalan sarung, lalu terbaring di atas rumputan memandang langit yang melimpah nanah.
"Kalau bukan ayahku, sudah kucekik dan kukirim dengan tanganku sendiri ke rumahmu," bisik Sarah seperti melempar letih dan perih. Tangannya merogoh kutang. Menghitung uang. Terkikik seperti menangis. Diambilnya sebungkus mi instan. Meremasnya dengan gemas. Digoyang-goyang hingga melahirkan bunyi. Seperti sengaja menggoda yang masih menggeram dan meronta di ujung tambang.
Sarah bangkit. Merobek bungkus. Serpih mi kering itu ditumpahkan ke telapak tangan. Mendekati Borok.
"Ayo, ini untuk laparmu, Tua Bangka! Kita harus tetap hidup untuk menyumpal mulut takdir kita yang bobrok."
Borok menjulurkan lidah ke tangan Sarah. Menjilat serpih mi. Rakus. Habis. Borok melonjak-lonjak. Lapar. Sarah menumpahkan lagi serpih mi ke telapak tangan. Matanya berlinang. Butiran-butiran air mata berjatuhan ke rumput. Borok melotot. Tatapnya perlahan jinak. Menjilati pecahan butiran di rumputan.
"Minumlah, minumlah kesedihanku! Jilati sampai kering! Kesedihan adalah air minum keabadian!" Sarah mengelus dan mencium botak batok kepala Borok.
Gemuruh kereta api terdengar di kejauhan. Suara tahrim menetas dari arah masjid agung seberang alun-alun. Rekaman merdu ayat-ayat suci terlantun.
Borok mendongak ke langit. Bulan nanah tumpah ke arah barat. Awan tipis berlarian. Salaknya dan geramnya terdengar lagi. Meronta. Menerjang. Tiang lampu taman penambat tambang bergetaran mengekang yang hendak lepas.
Sarah memekik. Berdiri seperti seseorang yang bangkit dari rasa sakit. Buntalan sarung diangkut lagi ke punggung. Pecut diraih. Meledak di udara. Isyarat yang tak bisa meredakan yang meradang, menerjang-nerjang ke arah masjid agung.
"Tenanglah, Tua Bangka. Tak ada siapa-siapa di sana. Tidak juga dia. Diamlah di sini." Sarah mulai berteriak dibalas lolongan panjang.
Di langit, bulan nanah terus terbahak. Terguncang-guncang seperti hendak meledak.
Borok menggeram. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram rumput. Merunduk. Seperti sedang mengambil ancang-ancang untuk menyerang dengan sepenuh tenaga. Seperti sedang mengerami ledak tenaga penghabisan. Matanya nyalang.
Tepat, ketika Sarah hendak menunduk dan mengelus, Borok tiba-tiba melompat ganas. Ikatan tambang lepas dari tiang lampu. Borok melompat dan berlari di atas rumput alun-alun memburu masjid agung.
Sarah terjengkang. Cepat bangkit mengejar. Di luas lengang alun-alun. Kejar mengejar. Borok mengejar masjid agung. Sarah mengejar Borok.
"Berhentilah, Tua Bangka! Mereka akan membunuhmu!" Sarah menjerit-jerit. Beberapa kali hendak meraih ujung tambang. Namun selalu luput. Hampir ke tepi, di depan gerbang masjid agung, Sarah melompat dan menubruk langsung memeluk Borok. Mereka bergulingan. Terbanting-banting.
Sarah memeluk erat Borok yang meronta dan menggigit. Pelukan yang terus diperkuat. Mereka bergulingan. Banjir keringat dan air mata.
"Tidurlah, tidurlah dalam pelukku. Ayo, gigit yang kuat rasa sakitku. Seperti nasib menggigit koyak hidup kita. Tidurlah, tidurlah Tua Bangka." Sarah berteriak marah sambil menangis.
Borok masih melawan. Menggigit. Berangsur lemah ketika air mata Sarah deras memandikan tubuh bugilnya. Ia mengerang. Kejang-kejang. Sebelum surut, mengerut, dan meringkuk dalam peluk Sarah. Terdengar dengkur.
"Tidurlah, tidur. Pergilah purnama sialan! Pergi! Biarkan Tua Bangka ini tidur, lelap dari gila yang kau tumpahkan ke kepalanya. Pergilah!" Sarah memeluk erat sambil menangis sejadi-jadinya.
Bulan nanah masih saja terbahak di angkasa. Gemanya terbang ke mana-mana. Menyusup merdu dalam lantunan ayat suci.
Sarah pelan membuka tambang yang menjerat leher Borok. Hati-hati dipangkunya tubuh kurus bugil Borok yang kini lemah terkulai. Tubuh yang terus dihujani deras air mata. Tubuh yang tak henti dicium sepenuh cinta.
Sarah hampir sempoyongan memangku Borok melintasi pekarangan masjid agung. Mengendap takut tepergok orang-orang yang hendak ke masjid. Senyap memasuki kamar mandi, menggantungkan buntalan karung. Mengelap bersih bugil tubuh Borok lantas memakaikan baju dan sarung.
Adan Subuh. Sarah terlihat menidurkan Borok dalam posisi duduk, bersandar di tembok gerbang masjid agung, menghadapi sebuah mangkok kosong. Sarah sendiri sudah berpakaian tertutup plus kerudung sambil memeluk buntalan sarung. Terkantuk-kantuk.
"Gila! Ini masih subuh. Kau sudah mangkal." Seseorang datang berjalan limbung. Langganan Sarah.
"Lumayan, nunggu rezeki sambil tidur." Sarah menjawab dengan malas.
"Ayahmu sudah jinak? Semalam lebih gila dari bulan kemarin!" terkekeh sambil menatap ngeri ke arah Borok yang ngorok.
"Tentu. Purnama segera habis. Dia sedang lelap bekerja. Pergilah, jangan mengganggu."
"Eh, Nanti malam aku minta gratis, ya. Semalam kau kabur sebelum meletus."
"Enak saja! Tak ada yang gratis dalam hidup ini! Pergi." Sarah mengacungkan pecut. Orang itu pergi sempoyongan sambil menirukan bacaan shalat yang terdengar dari pengeras suara masjid agung.
Seseorang berkopiah berjalan tergesa. Berhenti, sejenak. Melempar uang ke dalam mangkuk kosong. Berlari ke arah masjid. Borok ngorok. Sarah menguap sambil mengusap air mata. Bulan nanah masih terbahak di atas runcing kubah. Celurit angin masih mengiris.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/lakon-borok_20161022_214451.jpg)