Cerpen Wida Waridah
Tamparan Pak Martabat
"SAYA akan tampar kamu lebih keras lagi jika kamu tak mau mengikuti aturan saya. Kamu paham?" Pak Martabat berdiri tegak ...
"SAYA akan tampar kamu lebih keras lagi jika kamu tak mau mengikuti aturan saya. Kamu paham?" Pak Martabat berdiri tegak di hadapan seorang anak laki-laki. Anak itu hanya menunduk.
"Sekarang, kembalilah ke kelas. Katakan pada teman-temanmu, kamu akan mengikuti aturan saya. Dan teman-temanmu hari ini dibebaskan dari tugasnya menyelesaikan soal-soal di papan tulis. Mengerti?" Pak Martabat berkata sambil berlalu. Meninggalkan anak laki-laki yang masih juga menunduk. Bahkan makin menunduk.
Suara pintu dibuka membuat kelas menjadi hening. Suara-suara riuh seperti di sebuah pasar itu lenyap begitu saja. Anak laki-laki yang tengah bermain gitar di pojok kanan kelas tiba-tiba menghentikan petikan gitarnya.
Anak-anak perempuan ceriwis di bangku tengah, yang asyik membicarakan bagaimana caranya membuat laki-laki yang disukainya tertarik dalam sekali pandangan, seketika bungkam.
Anak-anak yang berkumpul di bangku paling depan, yang sedang terlibat percakapan serius tentang rumus-rumus kimia untuk mengetahui jawaban soal di papan tulis, langsung menghentikan segala aktivitasnya.
Pandangan semua orang di dalam kelas itu tertuju ke arah pintu. Wajah mereka menyimpan seluruh rasa penasaran yang pernah ada di muka bumi ini. Wajah mereka seolah berkata, apa yang akan terjadi setelah ini? Siapa yang membuka pintu itu?
Satya membuka pintu, pelan. Sangat pelan. Ingin sekali rasanya dia menjadi angin. Tidak perlu membuka pintu, hanya menyusup melewati lubang kunci, dia sudah berada di dalam kelas. Tapi itu tidak mungkin.
Pintu kelas yang didorongnya pelan malah semakin menegaskan suaranya. Seisi kelas hening. Dan kini Satya menyadari, semua pandangan tertuju kepadanya. Satya mematung di depan pintu.
"Bagaimana? Kau merasakannya juga? Tidak terlalu sakit, kan? Ayolah, tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Dia memang guru paling pemarah. Tapi dia paling mudah melupakan amarahnya. Minggu depan, dia tak akan ingat lagi, apa yang telah terjadi hari ini. He-he-he .... Ayolah, tak perlu menekuk wajahmu seperti itu." Soka merangkul pundak Satya, lalu mengajaknya duduk di bangku paling belakang.
"Tapi aku harus menyampaikan pesan dari Pak Martabat," suara Satya terdengar pelan, masih ada getar ketakutan di dalamnya. Panas di pipi sebelah kirinya masih terasa. Malah makin terasa.
"Teman-teman, hari ini kita dibebastugaskan dari soal-soal sialan di papan tulis itu. Hari ini kita akan bersenang-senang di sini. Ini berkat Satya, pahlawan kita! Darwis, petik lagi gitarmu." Soka berteriak kepada teman-temannya diikuti suara riuh kebahagiaan.
Bahagia karena tak perlu lagi berkutat dengan rumus-rumus jelimet yang akan membuat mereka tua sebelum waktunya. Bahagia karena mereka tak harus melewati menit-menit paling menegangkan, menunggu sebuah nama dipanggil ke depan untuk menyelesaikan sebuah soal.
Seisi kelas paham betul, kalau satu di antara mereka tak becus menyelesaikan soal, maka makian dan hantaman penggaris kayu ke atas meja adalah yang akan mereka dengar selanjutnya. Dan si anak yang kurang beruntung itu harus bersiap berdiri di depan kelas, menerima seluruh umpatan Pak Martabat.
"Dasar bodoh! Masa soal seperti ini saja tak bisa. Kalau punya otak itu dipake. Percuma tadi saya teriak-teriak menjelaskan kalau tak ada satu orang pun yang mengerti. Dasar tolol!" Umpatan Pak Martabat serupa lahar yang menyembur dari letusan gunung berapi, dan akan terdengar sampai jam pelajaran Kimia berakhir.
Belajar bersama Pak Martabat adalah 90 menit dalam siksaan. Tidak ada satu murid pun yang tidak pernah kena damprat Pak Martabat. Semua akan mendapat giliran. Satu per satu nama demi nama akan dipanggil untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Jika tak bisa, habislah mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tamparan-pak-martabat_20160903_213047.jpg)