Breaking News:

Cerpen Wida Waridah

Tamparan Pak Martabat

"SAYA akan tampar kamu lebih keras lagi jika kamu tak mau mengikuti aturan saya. Kamu paham?" Pak Martabat berdiri tegak ...

Ilustrasi Tamparan Pak Martabat 

"Teman-teman, hari ini kita dibebastugaskan dari soal-soal sialan di papan tulis itu. Hari ini kita akan bersenang-senang di sini. Ini berkat Satya, pahlawan kita! Darwis, petik lagi gitarmu." Soka berteriak kepada teman-temannya diikuti suara riuh kebahagiaan.

Bahagia karena tak perlu lagi berkutat dengan rumus-rumus jelimet yang akan membuat mereka tua sebelum waktunya. Bahagia karena mereka tak harus melewati menit-menit paling menegangkan, menunggu sebuah nama dipanggil ke depan untuk menyelesaikan sebuah soal.

Seisi kelas paham betul, kalau satu di antara mereka tak becus menyelesaikan soal, maka makian dan hantaman penggaris kayu ke atas meja adalah yang akan mereka dengar selanjutnya. Dan si anak yang kurang beruntung itu harus bersiap berdiri di depan kelas, menerima seluruh umpatan Pak Martabat.

"Dasar bodoh! Masa soal seperti ini saja tak bisa. Kalau punya otak itu dipake. Percuma tadi saya teriak-teriak menjelaskan kalau tak ada satu orang pun yang mengerti. Dasar tolol!" Umpatan Pak Martabat serupa lahar yang menyembur dari letusan gunung berapi, dan akan terdengar sampai jam pelajaran Kimia berakhir.

Belajar bersama Pak Martabat adalah 90 menit dalam siksaan. Tidak ada satu murid pun yang tidak pernah kena damprat Pak Martabat. Semua akan mendapat giliran. Satu per satu nama demi nama akan dipanggil untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Jika tak bisa, habislah mereka.

Satya menarik napas dalam. Dia tak mengerti, akan sampai kapan semua ini berhasil. Akan sampai kapan siasat ini disantap oleh gurunya mentah-mentah.

Terkadang terbit rasa kasihan kepada Pak Martabat dalam diri Satya. Tapi hanya sedetik. Sebab, setelah itu, dia akan mengingat betapa lebarnya telapak tangan Pak Martabat yang berhasil mendarat di pipi kirinya.

**

PAK Martabat, di usianya yang hampir menginjak kepala enam itu, kini merasa benar-benar lelah. Mungkin sudah saatnya dia berhenti mengajar, begitu pikirnya. Betapa menjadi guru adalah hal paling mengerikan saat ini menurutnya.

Bagaimana tidak mengerikan? Bertahun-tahun dia harus mengulang-ulang pelajaran yang sama kepada murid-murid yang selalu berbeda. Selalu ada murid yang begitu mudah menerima penjelasannya. Tapi banyak juga yang tak pernah mengerti apa pun sampai pelajaran usai, bahkan sampai rapor dibagikan. Untuk murid-murid seperti ini, Pak Martabat selalu punya nilai-nilai rekaan. Nilai yang bisa menyelamatkan murid-muridnya dari tinggal kelas.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved