Breaking News:

Cerpen Wida Waridah

Tamparan Pak Martabat

"SAYA akan tampar kamu lebih keras lagi jika kamu tak mau mengikuti aturan saya. Kamu paham?" Pak Martabat berdiri tegak ...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Tamparan Pak Martabat 

Murid-murid datang dan pergi. Mereka satu per satu meninggalkan masa SMA-nya, lalu memasuki masa perkuliahan, lalu memasuki fase kehidupan seterusnya, dan seterusnya.

Banyak muridnya yang berhasil menjadi dokter, ahli ekonomi, pengusaha, pengacara, pejabat, bahkan politikus. Ada juga murid-murid yang masih dikenalinya terlihat menjadi sopir angkutan kota, pedagang kaki lima, atau bahkan peminta-minta.

Tapi menjadi apa pun kelak murid-murid yang diajarinya, Pak Martabat tetaplah hanya seorang guru honorer. Dulu, saat dia masih muda sekali, Pak Martabat merasa bahwa menjadi guru adalah cara paling tepat baginya untuk mengabdi kepada negeri yang dicintainya.

Pak Martabat merasa bahwa semangat dan kepiawaiannya dalam menjelaskan materi akan melahirkan generasi-generasi yang cemerlang. Generasi yang kelak akan membawa negerinya menjadi negeri yang makmur sentosa. Gemah ripah loh jinawi.

Pak Martabat muda adalah sosok guru yang menyenangkan, meski dikenal keras dan disiplin. Dia percaya, anak muda harus dikenalkan pada kerja keras dan disiplin. Menjadi apa pun muridnya kelak, mereka bisa menghadapi semua kesulitan hidupnya dengan kerja keras dan disiplin.

Sungguh, Pak Martabat tak pernah mengeluh ketika setiap tahun, satu per satu teman satu profesinya diangkat menjadi pegawai negeri. Dia malah makin bersyukur bahwa pengabdiannya tak pernah bisa digantikan oleh uang. Dia tetap mengajar meski gajinya sering habis hanya dalam seminggu.

Setelah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki, Pak Martabat mencari tambahan dengan mengajar les privat pelajaran Kimia dan Matematika bagi anak-anak orang kaya di sekitar rumahnya. Itu cukup menambah penghasilannya yang pas-pasan.

Namun semangat Pak Martabat muda pada akhirnya mesti kalah oleh banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. Istrinya yang mendadak terkena stroke, anaknya yang dipenjara karena kedapatan memiliki narkoba, dan tetek-bengek kebutuhan sehari-hari yang makin tak terjangkau olehnya sedikit demi sedikit mengikis semangat dan idealismenya.

Kini, Pak Martabat tua menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang itu-itu juga. Bangun pukul empat pagi. Mandi. Salat. Membereskan rumah. Memasak. Memandikan lalu menyuapi istrinya. Sarapan. Berangkat ke sekolah pukul setengah tujuh. Mengajar hingga pukul dua. Pulang dari sekolah mampir ke pasar. Belanja. Pulang ke rumah mengurusi istrinya. Memeriksa tugas murid-muridnya jika ada. Hingga pukul delapan malam, semua rutinitas itu berakhir.

Pak Martabat akan terlelap di depan televisi, nyaris tanpa mimpi. Lalu terbangun tepat pukul empat. Begitulah lima tahun terakhir kehidupannya. Tak ada lagi mimpi dan harapan membangun generasi cemerlang. Dia seperti robot yang otomatis bergerak karena ada baterai, yang memiliki daya, yang menggerakkannya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved