Cerpen Yus R Ismail

Hari Paling Aneh dalam Hidup Saya

TIDUR saya tentu terganggu. Teriakan minta tolong itu melengking peluit kereta. Saya keluar dari gubuk.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Hari Paling Aneh dalam Hidup Saya 

"Jangan marah, dong. Kalau kamu tidak tahu, jangan nebak-nebak sembarangan dong. Ular itu berterima kasih kepadamu. Kenapa kamu jengkel?" kata selembar daun itu.

"Ya iya, lah, ular itu mengancam, lalu pergi begitu saja, tanpa mengatakan apa pun. Brengsek itu namanya!"

"Begitulah cara ular berterima kasih." Daun itu malah mengejek. "Ketahuan, sudah lama kamu tidak mendengar kami bicara. Lihat, dong, ke langit! Dunia ini luas! Bumi ini tidak hanya dihuni manusia!"

Saya memandang langit. Langit yang luas. Awan berarak. Matahari sembunyi. Ke mana bulan? Ke mana bintang? Angin terasa tapi tidak terlihat. Apa iya saya tidak memperhatikan mereka?

"Lihat, dong, pohon padi merunduk diberati isi, pepohonan menari, air pergi mengembara, batu semadi dalam sunyi. Bicara, dong, dengan mereka. Dunia ini indah. Dunia ini mencerahkan."

Saya tidak bicara sepatah pun.

"Dan saya sendiri, lihat begitu gembiranya saya, kamu tahu warna apa tubuh saya?"

"Kuning."

"Ha-ha... tubuh tua ini menyenangkan. Tinggal menunggu empasan angin kencang, saya gugur ke bumi, menjadi busuk makanan cacing, dan tanah subur diserap akar menjadi tunas yang hijau yang segar yang muda yang...."

"Iya, kamu tidak usah bekerja, tidak usah mengumpulkan kekayaan!"

"Ho-ho... nyantai aja, Kawan. Kamu datang ke bumi ini tidak membawa apa pun, kenapa pulang mesti membawa sesuatu? Kenapa mesti meninggalkan sesuatu? Cukup meninggalkan hati. Hati kita yang akan mewarnai dunia ini setelah kita pulang. Dan hati, seperti angin terasa tapi tidak terlihat. Dan hati, seperti matahari menghangatkan menerangi tapi tidak terlihat."

"Ah, kalian itu bangsa nomor dua. Tetap saja kami manusia yang nomor satu."

"Ho-ho-ho, sombong sekali. Ya, manusia bisa nomor satu, tapi bisa juga nomor terakhir. Hanya manusia yang tidak pernah kenyang."

Saya berbalik dan melangkah lagi menuju gubuk di pinggir sawah itu.

"Ho-ho-ho... lihat, saya gugur, saya gugur, saya melayang, ho-ho-ho. Dunia yang indah, dunia yang indah."

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved