Cerpen Yus R Ismail
Hari Paling Aneh dalam Hidup Saya
TIDUR saya tentu terganggu. Teriakan minta tolong itu melengking peluit kereta. Saya keluar dari gubuk.
TIDUR saya tentu terganggu. Teriakan minta tolong itu melengking peluit kereta. Saya keluar dari gubuk. Di sekeliling, persawahan dan perkebunan, tidak ada yang mencurigakan.
"Tolooong...! Ampuuun...! Tooolooongng...!" teriak pluit kereta itu terdengar lagi.
Saya berlari ke arah kebun jagung. Teriakan itu semakin jelas. Saya terus berlari melewati kebun jagung, kebun singkong, dan akhirnya ke perkampungan.
"Tolooong...! Ampuuun...! Tooolooongng...!" Suara melengking itu berasal dari seekor ular yang sedang dikepung dan dilempari anak-anak.
Tentu saja saya terpana.
"Kamu itu mendengar, tapi tuli! Saya minta tolong dari tadi, badan sudah mau hancur, masih diam saja!" teriak ular yang kepayahan itu.
Saya segera menghampiri anak-anak dan membubarkannya. Setelah anak-anak pergi, saya berjongkok.
"Awalnya saya tidak tahu kamu yang meminta tolong," kata saya sepelan angin semilir.
"Sudahlah, tolonglah saya sekarang. Saya haus dan badan penuh luka. Sakit dan perih," rintih ular itu.
"Dari tadi saya mau nolong, tapi tidak tahu caranya, saya tidak mengenal dunia ular."
"Bawa saya ke sungai di pinggir sawah itu dan segera celupkan ke air."
Saya membawa ular belang itu dengan sebilah bambu bekas pagar rumah. Setelah dicelupkan ke air, ular belang itu menarik napas panjang. Ekornya mulai bergerak. Lidah bercabangnya yang dari tadi menjulur sudah tenang di dalam mulutnya.
"Saya kapok ke perkampungan manusia lagi," keluhnya. "Manusia mudah main siksa siapa pun yang tidak berkomunikasi dengannya."
"Lagian, siapa yang suruh main ke perkampungan manusia?" bela saya. Ya, bagaimanapun saya ini, kan, manusia. Tidak bisa, dong, disalahkan begitu saja, apalagi hanya oleh seekor ular.
"Saya tidak main! Saya sedang mencari bayangan!" bentak ular itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/hari-paling-aneh-dalam-hidup-saya_20160827_214315.jpg)