Cerpen Adi Zamzam
Alquran di Atas Kepala
Pagi-pagi benar. Cahaya bahkan belum menampakkan diri di ufuk timur. Tanah becek sisa hujan semalam. Mendung masih bersekongkol mericuhi langit.
Dentuman besar mengaum tak jauh di belakang Cahyo. Sebuah pohon waru yang sebelumnya memang sudah doyong terlihat tersungkur ke tanah. Dada Cahyo berdebar kencang.
**
"MAS, dipanggil Emak," ujaran istriku membuyarkan lamun. Bau pesing turut menyeruak saat ia keluar dari kamar Emak. Tugas rutin setelah beliau tak lagi bisa mengurus diri sendiri.
"Letakkan saja di bawah pancuran samping rumah. Sampai pesingnya hilang," aku pun beranjak dari kursi.
"Awan belum pulang, kan, Mas?" tanya istriku sekembalinya dari luar. Wajahnya tersaput cemas saat aku menggeleng. Suara guntur baru saja menggema.
Aku masuk kamar dengan perasaan sedih. Tapi perempuan itu menyambutku dengan wajah gembira. Selalu begitu. Dulu, hampir setiap hari beliau menasihatiku untuk bersabar. Pernah aku sampai membayangkan kapan perempuan itu mati. Agar aku bisa lepas dari orang tua yang sudah sering sakit-sakitan dan hanya merepotkan. Saat hati capek, berbuat baik kadang bisa terasa begitu hambar. Sialnya, aku ini anak semata wayang.
Dengan suara lembut—dan lemah—perempuan itu bertanya tentang kesehatanku, pekerjaanku, dan segala tentang anakku setelah bercerita bahwa kehamilan istriku sehat dan baik adanya. Seolah ia memastikan bahwa doanya telah dikabulkan Tuhan.
Aku hanya diam mendengarkan. Sebagian hatiku tengah berjalan sendiri, menyusuri sejarah hidup, mencari pembenaran atas segala ucapan perempuan itu. Bahwa keberadaanku memang dimaksudkan untuk menjaga dirinya.
"Kau ingat petir yang sungkan mengunyahmu dulu?" Emak pun lantas kembali meneruskan kalimatnya. Sementara sebagian hatiku justru menyangkal serta mereka-reka andai ketika itu nyawaku diambil petir. Betapa Emak senang sekali merangkai-rangkai setiap episode yang telah kami lalui sebagai sesuatu yang telah terencana.
Saat keluar kamar sebagian diriku masih terus mencari dan merangkai keterkaitan antara satu episode dengan episode lain. Hingga anakku pulang, dengan membawa sebuah keributan kecil.
Ia pulang dengan membawa banyak pengawal. Teman-temannya bercerita bahwa Awan baru saja mengalami sebuah keajaiban. Ia selamat dari sebuah kecelakaan beruntun. Sebuah mobil menabrak sebuah sepeda motor yang dengan bodohnya kemudian berbelok ke arah dirinya yang sedang berjalan pulang dari mengaji. Ajaibnya, sepeda motor itu kemudian oleng lantaran sebuah batu besar membelokkan roda depan. Awan selamat meski sempat tersenggol. Hanya tersenggol.
"Untung Alqurannya enggak jatuh lagi, Pak," senyum Awan kepadaku, yang lalu disusul dengan cerita bahwa ia sempat menjatuhkan Alquran yang ia bawa sebelumnya.
Mataku langsung terpaku ke arah Alquran di atas kepala mungil itu. Isi kepalaku coba mereka-reka skenario besar apa yang mungkin akan dipersiapkan untuknya kelak. Tapi gambaran-gambaran itu tersaput gelap.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/alquran-di-atas-kepala_20160618_223519.jpg)