Cerpen Adi Zamzam

Alquran di Atas Kepala

Pagi-pagi benar. Cahaya bahkan belum menampakkan diri di ufuk timur. Tanah becek sisa hujan semalam. Mendung masih bersekongkol mericuhi langit.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Alquran di Atas Kepala 

Seperti hari kemarin, Cahyo masih mendapat tugas mengambil tempe. Pak Taha sempat melontarkan kekhawatirannya, separah apa sakit emaknya kok sampai menyuruh lagi anaknya yang kemarin hampir celaka. Tapi lelaki itu kemudian menyusuli kalimatnya dengan janji bahwa ia akan menengok emak Cahyo.

Seperti kemarin, pagi itu mendung masih senang mericuhi langit. Semalam air juga seperti ditumpahkan sehabis-habisnya dari langit. Embun belum sempat beranjak pergi dari rerumputan. Kaki Cahyo senang berkipat-kipat membersihkan diri dari tanah yang menempel padanya.

Cahyo masih terbayang-bayang dengan insiden kemarin. Keluarga Pak Taha sampai begitu hebohnya. Ia menjadi pusat perhatian mereka. Bahkan sampai disuguhi teh hangat dan getuk goreng yang enak betul. Berulang-ulang ia disebut "beruntung" lantaran televisi yang berada di dalam rumah pun turut meledak.

Di tempat mengaji tadi Cahyo juga menjadi menu keriuhan teman-temannya. Ia ditanya tentang kronologi kejadian berulang-ulang. Dua temannya sampai sengaja meniru-niru menyunggi Alquran demi memperagakan kejadiannya. Keriuhan itu baru henti tatkala Kiai Ridwan menegur mereka semua. Meski toh akhirnya beliau malah bertanya juga tentang detail kejadian itu.

Apakah yang ia alami kemarin adalah hal yang luar biasa? Cahyo bahkan tak bisa mengingat bagaimana perasaannya saat itu. Ia memang sempat melihat pohon sirsak yang langsung mati setelah tersambar petir. Apakah mungkin ia juga akan langsung mati setelah tersambar petir? Apakah kematian itu terasa begitu hebatnya sehingga orang-orang begitu heboh setelah tahu bahwa ia baru saja lolos dari maut?

Prokk!

Cahyo kaget saat menyadari ada yang terlepas dari pegangannya. Ia buru-buru memungutnya lagi dan langsung meletakkannya di atas kepala. Alangkah cerobohnya ia.

"Jangan sampai jatuh. Kalau sampai jatuh, lekas ambil dan letakkan di atas kepala. Mengerti?" pesan emaknya mengiang.

"Memangnya kenapa, Mak?" tanya Cahyo.

"Pokoknya letakkan di atas kepala. Jangan sampai kotor, apalagi sampai terinjak oleh kakimu sendiri," jawab emaknya.

"Mungkin karena ada Alquran di atas kepalamu," suara Yayan menggeser suara emaknya. Dia termasuk salah seorang teman yang paling antusias mengulang cerita kemarin pagi.

"Kata emakku, Alquran memang bisa menyelamatkan siapa pun yang menjaganya," kata Yayan.

"Nak, keberuntungan apa yang melindungi nyawamu tadi?" suara Yayan kemudian terusir oleh suara Pak Taha.

Langit masih diselimuti mendung. Angin dingin bertiup membangunkan bulu kuduk. Orang-orang di sepanjang jalan terlihat bergegas. Entah mengapa Cahyo merasa seperti tengah dibuntuti perasaan sepi. Persis sebelum.

Brukk!!

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved