Cerpen N Mursidi
Aroma Kematian
TEPAT tengah malam, Ustaz Ma'ruf terbangun. Samar-samar, dia merasakan tanah di bawah ranjang seperti retak, seakan bumi diguncang gempa.
SUDAH berkali-kali Ustaz Ma'ruf terbangun tengah malam dan menjumpai peristiwa ganjil seperti itu.
Hingga suatu hari, Ustaz Ma'ruf terbangun dan merasakan tanah seperti retak. Lalu, dia beranjak menuju jendela, dan mengintip keluar. Dia melihat keranda di sebelah musala bergoyang seakan minta diturunkan, kayu pemukul beduk berdiri di atas lantai, menari-nari kemudian diiringi semerbak bau bangkai yang menyesakkan hidung. Tatapi, kini, Ustaz Ma'ruf benar-benar tidak bisa menelusuri muasal bau busuk itu. Selepas Subuh, dia hanya tahu bau busuk itu tak jauh dari rumahnya. Sayang, walaupun sudah mondar-mandir mengelilingi rumah, tetap saja dia tidak menemukan sumber bau itu. Anehnya lagi, setelah dia keluar dari rumah, bau busuk itu tetap menyertainya.
Kali ini, Ustaz Ma'ruf merasa kesaktiannya bisa mencium aroma kematian benar-benar hilang. Hingga matahari di atas ubun-ubun, dia bahkan tidak kunjung menemukan muasal bau itu. Akhirnya, dia pun pulang. Tapi sesampai di rumah, dia justru dikejutkan ucapan istrinya, "Dari tadi, saya mencium bau busuk di rumah ini. Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak kunjung menemukan muasal bau itu."
"Jadi, bau busuk itu ada di rumah kita?"
"Ya," jawab Maimunah. "Tapi, saya rasa... ada yang aneh."
"Ada yang aneh?"
"Saat Ustaz tadi keluar rumah, justru bau itu hilang."
Ustaz Ma'ruf merasa heran, tapi dia seketika sadar. Dia mencuim bajunya, dan betapa terkejutnya dia ketika tahu bau busuk itu justru dari sekujur tubuhnya. Dan dia ingat, tadi pagi, dia menerima amplop dari salah satu tim sukses pemilihan calon gubernur. Saat dia menerima amplop itu, masih terngiang di telinganya, "Ustaz jangan lupa, dalam cemarah besok Ustaz harus berceramah untuk mengarahkan calon pemilih, mau tak mau, mereka harus memilih calon yang kami usung."
Ustaz Ma'ruf langsung merogoh saku baju koko yang dikenakan, menemukan amplop dalam saku, dan langsung menciumnya. Rupanya, bau itu bersumber dari amplop tersebut. Buru-buru, dia berlari ke teras dan menyalakan sepeda motor. Beberapa menit kemudian, dia sudah melaju kencang di atas sepeda motor, entah hendak pergi ke mana. Berkali-kali istrinya memanggil, tapi dia seperti tak peduli.
Hari itu, Maimunah melihat tingkah suaminya dengan penuh tanda tanya. Lebih aneh lagi, ia merasa seperti mencium aroma kematian.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/aroma-kematian_20160611_212318.jpg)