Cerpen N Mursidi
Aroma Kematian
TEPAT tengah malam, Ustaz Ma'ruf terbangun. Samar-samar, dia merasakan tanah di bawah ranjang seperti retak, seakan bumi diguncang gempa.
"Oh, ya... Saripah ke sini meminta Ustaz datang ke rumahnya."
"Saya akan segera datang."
"Tapi... bukankah Ustaz sedang demam?"
"Urusan umat harus didahulukan daripada kepentingan pribadi," jawab Ustaz Ma'ruf tegas. Padahal, dia sendiri heran. Peristiwa aneh itu tiba-tiba membuatnya demam, tapi setelah mendengar kabar suami Saripah sakaratul maut, perlahan dia pulih. Tiba-tiba, tubuhnya sehat.
Selepas mengambil air wudu, Ustaz Ma'ruf bergegas ke rumah Saripah. Tapi, ketika dia menginjakkan kaki di rumah Saripah, suami Saripah sudah menemui ajal.
Sepanjang jalan pulang, tak henti-henti dia tercenung.
**
SEJAK kejadian itu, Ustaz Ma'ruf seperti bisa mencium aroma kematian. Awalnya, dia tidak yakin jika peristiwa ganjil malam itu adalah sebuah isyarat tentang datangnya kematian orang-orang di kampungnya. Tapi, setelah kejadian itu dialaminya berkali-kali, dia tidak menepis dan semakin yakin peristiwa keranda di sebelah musala yang bergoyang seakan minta diturunkan, kayu pemukul beduk yang berdiri di atas lantai menari-nari, dan bau bangkai itu adalah kabar dari langit yang memberikan isyarat tentang kematian seseorang yang akan terjadi.
Seminggu sejak kejadian ganjil itu, dia kembali terbangun tergerap, lalu mengintip dari balik jendela, dan lagi-lagi melihat keranda bergoyang, kayu pemukul beduk menari-nari, juga mencium bau busuk yang menyengat hidung. Dalam hati, dia membatin: apakah ini pertanda.... Tapi, dia tidak berani mendahului takdir.
Ustaz Ma'ruf merasa heran, jika selepas kejadian tengah malam seminggu yang lalu dia tiba-tiba demam, tetapi kali ini justru dia tidak kuasa menepis bau busuk yang tak kunjung hilang dari hidungnya. Bau busuk itu pun mengingatkannya pada misteri kematian. Apalagi, bau busuk itu menguar tak kunjung hilang. Meski bau itu menguar dari jarak yang cukup jauh, tetapi merambatkan kabar ke hidung Ustaz Ma'ruf. Diam-diam, selepas salat Tahajud Ustaz Ma'ruf mengikuti rambatan bau busuk yang menguar itu dan mengantarkannya ke sebuah rumah di pinggiran kampung.
Dan ternyata siang harinya, Ustaz Ma'ruf mendapat kabar bahwa salah satu orang yang menghuni rumah tersebut meninggal.
Apa yang aneh dengan peristiwa itu? Ustaz Ma'ruf tidak pernah bisa menebak. Dia mengingat-ingat masa lalunya dan baru sadar dulu sewaktu masih jadi santri di salah satu pesantren di Jawa Timur dia memang pernah menjalani puasa untuk mendapatkan kesaktian. Tapi, dia merasa puasanya itu gagal karena ketika dia mengujinya dengan menggoreskan golok di tangan dan kakinya, ternyata kulitnya tergores. Apakah kesaktian itu baru muncul sekarang ini meski kesaktian itu tidak berujud kekebalan tubuh, tapi penciuman yang tajam membaca kematian? Ustaz Ma'ruf sendiri tak yakin.
Tapi, sejak kejadian pada malam yang ganjil itu, dia seperti dianugerahi penciuman yang tajam dan seakan bisa membaca kabar dari langit tentang kematian. Apalagi, setelah terjadi berkali-kali dan Ustaz Ma'ruf menjumpai rumah yang menebarkan aroma busuk, ternyata pada pagi atau siangnya, didapati salah satu dari penghuni rumah tersebut mati.
Dia tahu, tak ada satu orang pun yang bisa membaca kabar kematian seseorang. Tetapi, setelah dia menjumpai kejadian ganjil itu dan menemukan kenyataan yang tidak dapat dia tepis, dia tetap tidak sombong dan merasa tahu sebelum kejadian itu terjadi. Dia yakin semua itu adalah anugerah dari Allah. Maka Ustaz Ma'ruf menyembunyikan semua itu, tak menceritakan kepada siapa pun tentang kelebihan yang dianugerahkan Tuhan bahwa dia bisa mencium aroma kematian, termasuk kepada istrinya.
**
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/aroma-kematian_20160611_212318.jpg)