Sabtu, 13 Juni 2026

Cerpen N Mursidi

Aroma Kematian

TEPAT tengah malam, Ustaz Ma'ruf terbangun. Samar-samar, dia merasakan tanah di bawah ranjang seperti retak, seakan bumi diguncang gempa.

Tayang:
Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Aroma Kematian 

TEPAT tengah malam, Ustaz Ma'ruf terbangun. Samar-samar, dia merasakan tanah di bawah ranjang seperti retak, seakan bumi diguncang gempa. Keringat membasahi dahi dan punggungnya. Apalagi, setelah dia mendengar suara aneh yang tiba-tiba menelusup telinga. Suara ganjil yang terdengar seperti tubrukan dua benda asing yang beradu dan menimbulkan suasana mencekam dan menakutkan.

Sudah terbiasa Ustaz Ma'ruf bangun tengah malam untuk menunaikan salat Tahajud di musala, di sebelah rumahnya, lalu membaca Al-Quran sekitar satu juz. Tapi malam itu, dia merasakan suasana lain, seolah-olah berada di sebuah tempat sempit yang membuatnya sesak napas, tapi dia sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi.

Dia turun dari ranjang, bersijingkat menuju jendela. Dari balik gorden, dia mengintip ke arah musala. Berkali-kali, dia memicingkan mata, hampir tak percaya. Keranda di samping musala bergoyang seakan minta diturunkan dari tempatnya. Tak jauh dari tempat keranda itu, kayu pemukul beduk berdiri di atas lantai seperti menari-nari. Sesekali, menimbulkan suara ganjil akibat beradu dengan lantai. Belum pupus keheranan Ustaz Ma'ruf dengan apa yang dia lihat, hidungnya mencium bau aneh yang menguar dari keranda seperti bau bangkai.

Ustaz Ma'ruf menutup hidung, tak kuat menahan bau busuk yang menguar ke segala penjuru. Kira-kira semenit. Lalu keranda itu tak bergoyang. Kayu pemukul beduk tak bergerak. Perlahan aroma tak sedap pun hilang. Ustaz Ma'ruf tercenung, berdiri kaku di balik jendela, tapi tak memiliki firasat apa pun tentang kejadian itu.

Dan malam itu, Ustaz Ma'ruf tak jadi menunaikan salat Tahajud. Dia masuk ke kamar, menarik selimut, kembali tidur.

**

MENJELANG Subuh, Ustaz Ma'ruf masih meringkuk, berselimutkan sarung.

Maimunah heran. Tak pernah ia bangun pada sepertiga malam menjumpai suaminya masih tidur seperti pagi itu. Ia memegang kening suaminya. Dugaannya tidak salah, suaminya sakit. Keningnya panas. Ia enggan membangunkan lelaki yang telah mendampinginya selama lima tahun itu.

Tapi menjelang Subuh, ia mendengar pintu rumahnya diketuk. Setelah membuka pintu, ia menjumpai Saripah berdiri di depan pintu dengan napas tersengal.

"Lelaki saya...," ujar Saripah seperti berat melanjutkan sepatah kalimat yang mengganjal di tenggorokan. Ada sesuatu yang berat untuk dikatakan. "Suami saya... sakaratul maut. Saya ke sini untuk meminta tolong Ustaz datang ke rumah agar mau membimbing suami saya sebelum ajal menjemput."

Maimunah ikut gugup, merasakan kecemasan yang dialami Saripah. Tetapi ia bimbang membangunkan suaminya. Ia diam cukup lama, hingga rasa iba menjalar pelan-pelan. "Baiklah, Mbak pulang dulu. Saya akan meminta Ustaz segera datang. Semoga semuanya dimudahkan Allah."

Selepas kepergian Saripah, ketika berjalan ke kamar hendak membangunkan suaminya, ia masih bimbang. Tapi, ia terperanjat saat memasuki kamar justru suaminya sudah bangun.

"Siapa yang datang?"

"Saripah. Ia bilang suaminya sakaratul maut."

Ustaz Ma'ruf tercengang. Dia teringat peristiwa ganjil tadi malam.

"Oh, ya... Saripah ke sini meminta Ustaz datang ke rumahnya."

"Saya akan segera datang."

"Tapi... bukankah Ustaz sedang demam?"

"Urusan umat harus didahulukan daripada kepentingan pribadi," jawab Ustaz Ma'ruf tegas. Padahal, dia sendiri heran. Peristiwa aneh itu tiba-tiba membuatnya demam, tapi setelah mendengar kabar suami Saripah sakaratul maut, perlahan dia pulih. Tiba-tiba, tubuhnya sehat.

Selepas mengambil air wudu, Ustaz Ma'ruf bergegas ke rumah Saripah. Tapi, ketika dia menginjakkan kaki di rumah Saripah, suami Saripah sudah menemui ajal.

Sepanjang jalan pulang, tak henti-henti dia tercenung.

**

SEJAK kejadian itu, Ustaz Ma'ruf seperti bisa mencium aroma kematian. Awalnya, dia tidak yakin jika peristiwa ganjil malam itu adalah sebuah isyarat tentang datangnya kematian orang-orang di kampungnya. Tapi, setelah kejadian itu dialaminya berkali-kali, dia tidak menepis dan semakin yakin peristiwa keranda di sebelah musala yang bergoyang seakan minta diturunkan, kayu pemukul beduk yang berdiri di atas lantai menari-nari, dan bau bangkai itu adalah kabar dari langit yang memberikan isyarat tentang kematian seseorang yang akan terjadi.

Seminggu sejak kejadian ganjil itu, dia kembali terbangun tergerap, lalu mengintip dari balik jendela, dan lagi-lagi melihat keranda bergoyang, kayu pemukul beduk menari-nari, juga mencium bau busuk yang menyengat hidung. Dalam hati, dia membatin: apakah ini pertanda.... Tapi, dia tidak berani mendahului takdir.

Ustaz Ma'ruf merasa heran, jika selepas kejadian tengah malam seminggu yang lalu dia tiba-tiba demam, tetapi kali ini justru dia tidak kuasa menepis bau busuk yang tak kunjung hilang dari hidungnya. Bau busuk itu pun mengingatkannya pada misteri kematian. Apalagi, bau busuk itu menguar tak kunjung hilang. Meski bau itu menguar dari jarak yang cukup jauh, tetapi merambatkan kabar ke hidung Ustaz Ma'ruf. Diam-diam, selepas salat Tahajud Ustaz Ma'ruf mengikuti rambatan bau busuk yang menguar itu dan mengantarkannya ke sebuah rumah di pinggiran kampung.

Dan ternyata siang harinya, Ustaz Ma'ruf mendapat kabar bahwa salah satu orang yang menghuni rumah tersebut meninggal.

Apa yang aneh dengan peristiwa itu? Ustaz Ma'ruf tidak pernah bisa menebak. Dia mengingat-ingat masa lalunya dan baru sadar dulu sewaktu masih jadi santri di salah satu pesantren di Jawa Timur dia memang pernah menjalani puasa untuk mendapatkan kesaktian. Tapi, dia merasa puasanya itu gagal karena ketika dia mengujinya dengan menggoreskan golok di tangan dan kakinya, ternyata kulitnya tergores. Apakah kesaktian itu baru muncul sekarang ini meski kesaktian itu tidak berujud kekebalan tubuh, tapi penciuman yang tajam membaca kematian? Ustaz Ma'ruf sendiri tak yakin.

Tapi, sejak kejadian pada malam yang ganjil itu, dia seperti dianugerahi penciuman yang tajam dan seakan bisa membaca kabar dari langit tentang kematian. Apalagi, setelah terjadi berkali-kali dan Ustaz Ma'ruf menjumpai rumah yang menebarkan aroma busuk, ternyata pada pagi atau siangnya, didapati salah satu dari penghuni rumah tersebut mati.

Dia tahu, tak ada satu orang pun yang bisa membaca kabar kematian seseorang. Tetapi, setelah dia menjumpai kejadian ganjil itu dan menemukan kenyataan yang tidak dapat dia tepis, dia tetap tidak sombong dan merasa tahu sebelum kejadian itu terjadi. Dia yakin semua itu adalah anugerah dari Allah. Maka Ustaz Ma'ruf menyembunyikan semua itu, tak menceritakan kepada siapa pun tentang kelebihan yang dianugerahkan Tuhan bahwa dia bisa mencium aroma kematian, termasuk kepada istrinya.

**

SUDAH berkali-kali Ustaz Ma'ruf terbangun tengah malam dan menjumpai peristiwa ganjil seperti itu.

Hingga suatu hari, Ustaz Ma'ruf terbangun dan merasakan tanah seperti retak. Lalu, dia beranjak menuju jendela, dan mengintip keluar. Dia melihat keranda di sebelah musala bergoyang seakan minta diturunkan, kayu pemukul beduk berdiri di atas lantai, menari-nari kemudian diiringi semerbak bau bangkai yang menyesakkan hidung. Tatapi, kini, Ustaz Ma'ruf benar-benar tidak bisa menelusuri muasal bau busuk itu. Selepas Subuh, dia hanya tahu bau busuk itu tak jauh dari rumahnya. Sayang, walaupun sudah mondar-mandir mengelilingi rumah, tetap saja dia tidak menemukan sumber bau itu. Anehnya lagi, setelah dia keluar dari rumah, bau busuk itu tetap menyertainya.

Kali ini, Ustaz Ma'ruf merasa kesaktiannya bisa mencium aroma kematian benar-benar hilang. Hingga matahari di atas ubun-ubun, dia bahkan tidak kunjung menemukan muasal bau itu. Akhirnya, dia pun pulang. Tapi sesampai di rumah, dia justru dikejutkan ucapan istrinya, "Dari tadi, saya mencium bau busuk di rumah ini. Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak kunjung menemukan muasal bau itu."

"Jadi, bau busuk itu ada di rumah kita?"

"Ya," jawab Maimunah. "Tapi, saya rasa... ada yang aneh."

"Ada yang aneh?"

"Saat Ustaz tadi keluar rumah, justru bau itu hilang."

Ustaz Ma'ruf merasa heran, tapi dia seketika sadar. Dia mencuim bajunya, dan betapa terkejutnya dia ketika tahu bau busuk itu justru dari sekujur tubuhnya. Dan dia ingat, tadi pagi, dia menerima amplop dari salah satu tim sukses pemilihan calon gubernur. Saat dia menerima amplop itu, masih terngiang di telinganya, "Ustaz jangan lupa, dalam cemarah besok Ustaz harus berceramah untuk mengarahkan calon pemilih, mau tak mau, mereka harus memilih calon yang kami usung."

Ustaz Ma'ruf langsung merogoh saku baju koko yang dikenakan, menemukan amplop dalam saku, dan langsung menciumnya. Rupanya, bau itu bersumber dari amplop tersebut. Buru-buru, dia berlari ke teras dan menyalakan sepeda motor. Beberapa menit kemudian, dia sudah melaju kencang di atas sepeda motor, entah hendak pergi ke mana. Berkali-kali istrinya memanggil, tapi dia seperti tak peduli.

Hari itu, Maimunah melihat tingkah suaminya dengan penuh tanda tanya. Lebih aneh lagi, ia merasa seperti mencium aroma kematian.

***

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved