Cerpen Mashdar Zainal
Kemarau
MAK Rus memanggul periuk wadah air itu di atas bahunya, sementara satu tangannya yang lain menenteng jeriken yang juga berisi air.
"Hus, mukjizat cuma milik para nabi."
"Apalah namanya, Mak... yang penting kita nggak harus naik-turun belik lagi." Marni masih terbengong-bengong tak percaya.
**
SEMENJAK sumurnya menyembulkan keajaiban, Mak Rus tak perlu bersusah payah lagi menaik-turuni belik. Bahkan, Mak Rus mempersilahkan beberapa tetangga dekat untuk menimba air di sumurnya. Jadilah sumur Mak Rus ramai setiap hari. Lambat laun, berbilang pekan dan bulan, air di sumur Mak Rus kian melimpah. Setiap hari para tetangga mengurasnya, tapi airnya kembali penuh dan meruah seperti semula, terlebih kalau pagi.
Seiring dengan semakin melimpahnya debit air di sumur Mak Rus, tersiar kabar bahwa air di belik kian hari kian berkurang dan semakin keruh. Karena setiap hari warga dari berbagai desa turut mendatangi belik itu untuk mengambil airnya. Kian hari, kian banyak orang yang datang ke rumah Mak Rus untuk meminta izin menimba air di sumurnya, dan Mak Rus tak pernah berkata tidak pada mereka. Beberapa tetangga mengusulkan supaya Mak Rus menarik semacam infak dengan dalih untuk perbaikan sumur atau timba dan sebagainya, tapi Mak Rus tak pernah melakukannya.
Kini, yang bisa Mak Rus lakukan hanya bersyukur dan bersyukur. Siang hari Mak Rus sengaja memperuntukkan sumurnya bagi warga-warga jauh, ia dan beberapa tetangga dekat bisa menimba di malam hari, toh airnya semakin melimpah di malam hari. Semakin hari, orang-orang yang mengantre di sumur Mak Rus semakin banyak. Terlebih di siang hari. Dan di antara puluhan orang yang mengantre itu, Mak Rus melihat Sarwi dan istrinya tengah menenteng jeriken dengan wajah menunduk.
***