Cerpen Mashdar Zainal
Kemarau
MAK Rus memanggul periuk wadah air itu di atas bahunya, sementara satu tangannya yang lain menenteng jeriken yang juga berisi air.
SEHARI dua hari, Mak Rus masih kuat menempuh perjalanan mengambil air ke belik, tapi sepekan dua pekan, punggung dan kakinya mulai terasa pegal-pegal. Sedangkan musim hujan masih jauh tanda-tandanya. Mah Rus tak tahu apakah tubuh tuanya masih sanggup untuk berjalan setiap hari, menaik-turuni ceruk, terbungkuk-bungkuk, demi seperiuk dan sejeriken air sampai nanti musim hujan datang.
Mak Rus mengempaskan napas berat dan terduduk di kursi anyamnya yang sudah jebol. Ia melirik persediaan air di dalam gentong yang tinggal beberapa ciduk. Mak Rus berpikir keras, bagaimana ia bisa mendapatkan air lagi tanpa harus menaik-turuni ceruk curam itu. Dan Mak Rus tak menemukan ide cemerlang apa pun. Satu-satunya hal yang kemudian muncul dalam kepalanya ialah sumur itu. Sumur di belakang rumah yang digali sendiri oleh mendiang suaminya. Bila musim kemarau tiba, Mak Rus memang selalu menutup sumur itu, supaya tidak kotor, tidak kemasukan daun ataupun debu. Mak Rus menutupnya dengan menggunakan papan-papan bekas yang dijajar sedemikian rupa, dan di atas papan itulah Mak Rus meletakkan segala perkakas dapurnya.
Detik itu, ketika kepalanya buntu, Mak Rus mencoba membongkar papan-papan penutup sumur itu. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sumurnya berlimpah air. Sumur itu dalamnya nyaris sepuluh meter, dan di bawah sana dengan jarak kurang dari delapan meter Mak Rus melihat air berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari. Mah Rus seperti mimpi, ia tersenyum-senyum sendiri. Girang. Antara percaya dan tidak.
Segeralah Mak Rus mengambil timba yang telah lama tak terpakai itu. Dilemparkannya timba itu tergesa-gesa ke ceruk sumur, ke dalam ruahan air, hingga terdengarlah suara "pyaak" di dasar sumur. Dengan wajah semringah Mak Rus menarik timbanya ke atas, dan di dalam timba itu ia mendapati air jernih yang bergolak-golak. Mak Rus tak henti-henti menyebut nama Tuhan. Baginya, kejadian itu adalah sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan padanya. Karena masih belum percaya, Mak Rus berlari ke rumah Marni untuk memastikan apakah hanya sumurnya yang meruah air.
"Mar, Marni," panggil Mah Rus tersengal-sengal.
"Ada apa, Mak?"
"Sudah lihat sumurmu?"
"Memangnya kenapa dengan sumurku?"
"Sumur Mak ada airnya, barangkali sumurmu juga," sahut Mak Rus sambil berlari ke arah sumur Marni.
Marni menguntit di belakang. "Mak bercanda? Ini masih kemarau, Mak."
Mak Rus menengok sumur Marni yang menganga tanpa penutup. Dan di dalam sumur itu, Mak Rus tak mendapati apa pun kecuali bebatuan yang teronggok di dasar sumur.
"Ayo ke sumurku, kau harus lihat sumurku, bawa ember sama jeriken yang besar," Mak Rus menarik tangan Marni.
"Sebentar, Mak, sebentar," Marni ikut girang.
Entahlah, saat itu Mak Rus merasa tubuhnya kembali segar, pegal dan linu-linu yang menggempur punggung dan kakinya seperti hilang seketika.
Sampai di rumah Mak Rus, tepatnya di belakang rumah Mak Rus, di bibir sumur, Marni terlongok-longok tak percaya, "Ini mukjizat, Mak, ini mukjizat."