Cerpen Mashdar Zainal

Kemarau

MAK Rus memanggul periuk wadah air itu di atas bahunya, sementara satu tangannya yang lain menenteng jeriken yang juga berisi air.

Editor: Hermawan Aksan

MAK Rus memanggul periuk wadah air itu di atas bahunya, sementara satu tangannya yang lain menenteng jeriken yang juga berisi air. Ia tergopoh-gopoh melewati jalan setapak yang membelah ladang kering milik Sarwi. Semenjak kemarau panjang menjerang, hampir semua sumur warga mengalami kekeringan. Termasuk sumur tua milik Mak Rus, sumur tua yang digali sendiri oleh mendiang suaminya. Kini, mau tak mau, warga harus mengambil air di belik yang jaraknya cukup jauh dan jalanannya curam harus naik-turun.

Setiap kali mengambil air di belik, Mak Rus selalu melewati jalan pintas itu—jalan yang membelah ladang Sarwi. Ladang itu tak pernah ditanami apa pun kecuali singkong atau jagung, itu pun hanya ketika musim penghujan tiba. Jadi, selama musim kemarau, ladang itu menjelma tanah kosong yang ditumbuhi belukar kering, terkadang-kadang ladang itu digunakan oleh anak-anak kecil untuk bermain bola atau menerbangkan layang-layang, itu pun kalau Sarwi tidak memergoki mereka.

**

BEBERAPA hari lalu, ketika Mak Rus hendak ke belik mengambil air, ia terkaget-kaget mendapati jalan itu telah ditutup dengan ranting-ranting bambu kering yang berduri di sana-sini. Ranting-ranting itu sengaja ditata dan diselengkatkan sedemikian rupa untuk menutupi jalan.

"Apa ini ulah si Sarwi?" Mak Rus menggumam sendiri sambil menurunkan periuk dan jeriken wadah airnya. Pelan-pelan Mak Rus menyingkirkan ranting-ranting berduri itu supaya bisa ia lewati. Mak Rus tak bisa membayangkan betapa capainya ia jika harus mengambil jalan memutar yang jauhnya hampir lima kali lipat.

Beberapa hari berikutnya, ketika Mak Rus hendak ke belik, mengambil air lagi, ia melihat Sarwi sedang mematok kayu untuk membuat pagar paten di batas ladangnya. Mak Rus menghampirinya dengan raut muka cemas.

"Kenapa jalannya kaututup, Wi?"

"Ini bukan jalan umum, Mak. Ini ladang. Dan saya tahu siapa yang kemarin nekat menerobos ladang ini."

"Tapi jalan itu sudah lama sekali digunakan warga, sudah berpuluh-puluh tahun malah, sejak ladang itu masih punya mak saya."

"Sekarang ladang ini punya saya, Mak. Dan kalau ladang itu terus-terusan dipakai lalu lalang orang, apalagi dibuat main bola oleh anak-anak semprul itu, bisa-bisa tanahnya menjadi padat, dan kalau tanahnya sudah padat, bakal susah kalau ditanami."

"Lha, kalau jalan itu kamu tutup, terus orang-orang mau lewat mana?"

"Kan masih banyak jalan yang lain, Mak. Memutar sedikit tidak apa-apa, sambil olahraga. Lebih baik begitu, kan, daripada merusak tanah orang."

Mak Rus terdiam. Ia tahu, artinya mulai detik itu jika ia mau ke belik mengambil air, atau mau berangkat ke surau, atau ke pasar, ia harus memutar, melewati jalan besar yang jauhnya nyaris lima kali lipat. Kepala Mak Rus berdenyut-denyut membayangkan bahunya yang ringkih itu harus memanggul air dengan jarak sejauh itu. Tapi Mak Rus tak bisa berbuat apa-apa. Ladang itu sudah bukan miliknya lagi.

Benar, sebelumnya, ladang itu adalah ladang milik Mak Rus. Namun, delapan tahun silam ia telah menjualnya ke Sarwi—dengan harga yang sangat murah. Ketika itu Mak Rus benar-benar kepepet, ia membutuhkan uang untuk berobat suaminya yang terkena stroke. Namun begitulah, hingga uang jual tanah itu ludas, suami Mak Rus tak juga dikaruniai kesembuhan, malah ia bablas menghadap Tuhan. Dan Mak Rus tak pernah menyesalinya. Mungkin sesekali menangisinya.

**

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved