Breaking News:

Cerpen Ismi Aliyah

Babi yang Berdoa

JAUH di dalam hutan, seekor babi menyeret langkahnya sambil menahan nyeri. Satu peluru pemburu menembus tepat di kakinya.

Ilustrasi Babi yang Berdoa 

"Sial, apa babi itu sudah mati?" tanya seorang pemburu dengan wajah yang kesal.

"Jika dia masih hidup, babi itu jelas bukan lawan berat bagi para anjing dan pertandingan akan jadi tidak menarik," balas pemburu lain, lalu diikuti suara anjing yang menggonggong.

"Akan lebih ketahuan jika kalian memeriksanya," perintah ketua pemburu itu.

Beberapa orang pemburu kemudian melangkah mendekati tubuh babi itu. Mereka meneriaki babi itu, tapi tetap tidak membuat babi itu bangun. Kemudian, mereka menyentuh perut babi itu. Namun babi itu juga tidak bergerak.

Seorang dari mereka memegang kepala babi itu dan tiba-tiba saat itulah babi itu sadar. Babi itu lalu menggigit tangan si pemburu. Peristiwa itu membuat para pemburu lain kaget dan pada saat itulah babi tersebut kabur. Tapi, baru beberapa langkah saja babi itu berlari, peluru dari senapan pimpinan pemburu berhasil mengenai kakinya hingga babi itu terkapar lagi. Sekarang keadaan babi itu bertambah parah karena kini kedua kakinya terluka.

Para pemburu begitu kesal dengan perlakuan babi tersebut. Mereka lalu menendang, bahkan memukuli babi itu dengan senapan. Babi itu menggeram, tapi tidak dapat lagi melakukan apa-apa. Setelah beberapa saat, para pemburu akhirnya meninggalkan babi itu dan mengunci pintu arena.

Babi itu merangkak pelan menuju kubangan lumpur di sudut arena. Perlakuan para pemburu membuat dia menjadi lebih payah dari sebelumnya. Dia merebahkan tubuhnya di kubangan lumpur. Dalam sakitnya, dia mencoba untuk berbahagia dengan berguling-guling untuk yang terakhir kalinya.

Tiba-tiba saja dia berhenti. Dilihatnya bulan begitu terang menyinari langit malam. Babi itu kemudian berdoa lagi. Doa yang sama saat ia menahan nyeri beberapa jam sebelumnya.

Siang hari, babi itu terbangun oleh suara riuh dari seluruh arena. Suara gamelan dari CD bajakan, teriakan para warga mulai dari tua, muda, sampai anak kecil sudah mulai terdengar menentukan waktu dan harga yang mereka pasang, anjing-anjing pemburu juga semakin nyaring menyalak.

Babi itu kini dapat melihat jelas seluruh arena yang terbuat dari kayu dan bambu. Dia juga melihat wajah warga kampung yang begitu bahagia. Sangat bahagia untuk merayakan kematiannya.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved