Breaking News:

Cerpen Ismi Aliyah

Babi yang Berdoa

JAUH di dalam hutan, seekor babi menyeret langkahnya sambil menahan nyeri. Satu peluru pemburu menembus tepat di kakinya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Babi yang Berdoa 

Pada mulanya, para warga kampung kesal karena babi sering merusak ladang mereka. Bahkan setiap tahun, selalu saja ada warga terserang penyakit yang berasal dari kotoran-kotoran babi itu. Jika salah satu warga telah jadi korban, para laki-laki dewasa kampung itu akan memburu babi-babi itu dan langsung membunuhnya di tempat.

Hari-hari berlalu, tapi babi-babi itu tetap merugikan mereka. Bahkan, pernah ada seorang anak meninggal karena diserang seekor babi. Para warga kampung kemudian bermusyawarah agar babi-babi itu dibuat lebih menderita. Mereka akhirnya sepakat membuat pertandingan yang tidak pernah dimenangkan babi.

Warga kampung itu kemudian membuat sebuah arena di perbatasan antara kampung dan hutan. Selain sepi, tempat itu dipilih agar para babi yang belum tertangkap warga mendengar jerit kesakitan kawannya yang sedang bertanding.

Seiring berjalannya waktu, arena tersebut bukan hanya jadi tempat penyiksaan babi. Adanya arena itu membuat para warga memiliki penghasilan tambahan. Para warga mengadu keberuntungan masing-masing dengan berjudi. Perjudian itu tidak memilih siapa yang menang antara anjing dan babi, tapi pada menit keberapa babi itu akan mati. Selain itu, jika warga memiliki anjing yang dapat mengalahkan babi paling cepat atau menerkam kuping babi sekali gigit, dia bisa menjual anjingnya dengan harga mahal.

Begitulah, semenjak saat itu para warga kampung tidak hanya menyuburkan kebun untuk bertahan hidup, tapi agar mereka tetap dapat berjudi.

**

PARA pemburu merasa aneh dengan tingkah babi itu. Tidak seperti babi lain yang tetap meronta meski telah terluka parah, babi itu seolah pasrah saat mereka menggotong tubuhnya keluar dari hutan.

"Sepertinya babi ini tidak ingin berusaha hidup lebih lama lagi," kata seorang pemburu yang sedang menggotong tubuh babi itu.

"Bicara apa kau ini," timpal pemburu lain yang juga menggotong tubuh babi itu. "Semua mahluk hidup selalu berupaya agar tetap hidup. Hanya saja mahluk ini tidak beruntung karena terlahir sebagai babi. Sial, berat juga babi ini. Ayo cepat kita selesaikan pekerjaan ini."

Sesampainya di perbatasan antara hutan dan pemukiman, para pemburu itu langsung menuju arena. Mereka melempar tubuh buruannya ke tengah arena tempat babi itu bertanding esok hari. Babi itu masih tidak bergerak dan tidak sedikit pun mengeluarkan suara. Mereka kini curiga jika babi itu telah benar-benar mati.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved