Coffee Break

Perkosa

KATA perkosa atau perkasa berasal dari prakosa (Sanskerta) yang berarti gagah, kuat, keras. Jelas, maknanya positif.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
TRIBUN JABAR
Hermawan Aksan. 

ENTAH bagaimana sejarahnya, kata perkosa dipakai dengan makna negatif yang salah satunya berkaitan dengan (tindakan) kekerasan seksual.

Kata perkosa atau perkasa berasal dari prakosa (Sanskerta) yang berarti gagah, kuat, keras. Jelas, maknanya positif.

Saya punya teman semasa SMA bernama Balarama Prakosa. Di PDI-P ada nama politikus Muhammad Prakosa, yang pernah menjadi menteri pertanian di era Gus Dur, menteri kehutanan di zaman Megawati, dan anggota DPR di kurun 2009-2014.

Seorang pakar search engine optimization (SEO) asal Indonesia bernama Bramantya Farid Prakosa. Di DPRD Solo ada nama Teguh Prakoso.

Di Kodam Jaya ada Kepala Penerangan Kodam Jaya, Letkol Inf Heri Prakosa. Dan pasti banyak lagi orang bernama Prakosa.

Dalam sejumlah bahasa daerah, kata perkosa masih dipakai dalam makna yang positif.

Dalam Sunda misalnya, ada ungkapan gagah perkosa, yang artinya kacida gagahna (sangat gagah). Ungkapan ini biasanya dipakai untuk memerikan sosok kesatria, misalnya Gatotkaca dalam pewayangan.

Anehnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak menjelaskan arti kata perkosa. Kamus ini hanya memberikan definisi bentuk berimbuhannya. Pertama, memerkosa—huruf p luluh karena perkosa merupakan kata dasar.

Kata memerkosa diartikan sebagai (1) menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol; (2) melanggar (menyerang dan sebagainya) dengan kekerasan. Kedua, pemerkosa, orang yang memerkosa. Ketiga, pemerkosaan, 1 proses, perbuatan, cara memerkosa; 2 pelanggaran dengan kekerasan.

Entah apa pula dasarnya kata gagah memiliki makna yang serupa. Kata gagah, menurut KBBI, memiliki tiga makna: (1) kuat; bertenaga; (2) besar dan tegap serta kuat (tentang badan); (3) tampak mulia; megah.

Ketiga makna itu positif. Namun, setelah ditambah awalan me dan akhiran i, menjadi menggagahi, artinya menjadi (1) menguasai dengan kekerasan; memaksa; (2) memerkosa.

Tapi anehnya, saat menjelaskan lema gagah ini KBBI (edisi III) menulisnya memperkosa. Kok bisa, ya? Mudah-mudahan di edisi terbaru tidak terjadi keanehan.

Okelah, KBBI memang berisi sejumlah keanehan. Mungkin tim editornya, atau penyelaras aksara KBBI, kurang teliti. Editor juga manusia.

Pertanyaan yang berkecamuk di kepala saya: apakah melakukan tindak kekerasan seksual dianggap tindakan yang gagah dan perkasa?

Laki-laki yang mampu melakukan hubungan seksual (tentu saja dengan pasangan yang sah) memang biasa disebut sebagai "laki-laki perkasa".

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved