Cerpen Guntur Alam
Pembunuhan Atas Edgar Allan Poe
TELAH bertahun-tahun aku merahasiakan ini. Menjahit mulut dengan rapat dan berpura-pura tak tahu sama sekali tentang kematian Edgar Allan Poe.
"Oh, tidak, tidak. Kaulah yang gila." Laki-laki itu terkekeh. "Apa kau benar-benar berniat mengubur Clemm di tembok ruang bawah tanah?"
Poe menggebrak meja. Sekali lagi, pemilik bar yang terkantuk-kantuk di belakang mejanya terperanjat. Dia terloncat dari kursi, memandang ke arah meja Poe, lalu mengumpat halus. Bila saja pengunjung barnya ramai malam ini, dia pasti akan mengeluarkan sumpah serapah yang paling durjana.
"Kurasa kau benar-benar melakukannya. Iya, kan? Aku benar, kan?" dia tersenyum, menang. "Clemm meninggal 1842. Dan Kucing Hitam kau publikasi setahun setelahnya."
Poe mengepalkan tangan. Giginya bergemerutuk. Dia mencengkeram kerah baju laki-laki di depannya. Api matanya semakin berkobar.
"Bila kau berucap sembarangan lagi. Aku benar-benar akan mencongkel biji matamu, juga mengayunkan kapak di kepalamu. Dan kau akan benar-benar kukubur di ruang bawah tanah." Tubuh Poe bergetar. Dia menggeram penuh kemarahan.
Kejadian selanjutnya benar-benar tak bisa kulupakan. Laki-laki itu berbalik, melempar pisau panjang dan tajam ke arah pemilik bar yang tak sempat menghindar. Pisau itu menancap tepat di lehernya. Dia sekarat. Poe terperenyak. Dan laki-laki itu menikamnya, memukulinya dan aku dapat melihat seringai di wajah laki-laki itu saat darah Poe muncrat, mengotori wajahnya.
Darah merembes. Kobaran di mata Poe meredup. Dia menyeret Poe dan meninggalkannya di dalam selokan. Sebelum dia pergi, dia membisikkan sesuatu pada Poe.
"Aku kucing hitam yang ingin kaubunuh. Kau benar dan Clemm yang salah. Kucing hitam memang jelmaan penyihir." Dia menyeringai. "Sayangnya, kau telat menyadari itu. Sekarang, pergilah ke neraka, Poe."
"Lord, selamatkan jiwaku," Poe mendesis dengan wajah semakin memias.
Hei, tunggu dulu. Aku seperti melupakan sesuatu. Kenapa laki-laki itu membunuh pemilik bar sementara aku tidak? Bukankah aku saksi pembunuhan Poe juga? Dan baru kusadari bila pantulan di cermin depanku menampakkan seekor kucing hitam besar dengan mata berkobar, mulut menganga merah. Dia menyeringai. Lord, selamatkan jiwaku!
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pembunuhan-atas-edgar-allan-poe_20160402_212511.jpg)