Cerpen Guntur Alam

Pembunuhan Atas Edgar Allan Poe

TELAH bertahun-tahun aku merahasiakan ini. Menjahit mulut dengan rapat dan berpura-pura tak tahu sama sekali tentang kematian Edgar Allan Poe.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Pembunuhan Atas Edgar Allan Poe 

Ternyata mereka pergi ke sebuah bar kumuh di sekitar Baltimore. Aku ikut masuk ke sana. Untuk bar yang buka di musim panas, pengunjungnya tergolong sangat sepi. Mungkin orang-orang lebih memilih pergi ke pantai dan bersenang-senang di sana, daripada meminum wine atau rum di sini. Hanya ada Poe dan laki-laki bertopi laken, serta aku yang menjadi pengunjung. Pemilik bar terlihat terkantuk-kantuk di balik mejanya.

Kugambarkan seperti ini suasana bar dan posisi duduk Poe dan temannya.

Bar ini memiliki beberapa meja bulat dan bangku, kuhitung sekitar ada sepuluh meja. Poe dan temannya memilih meja pojok di sebelah selatan pintu masuk dan keluar. Mereka memesan beberapa botol minuman dan temannya menawarkan sesuatu. Aku menyipitkan mata.

Opium! Aku yakin sekali itu opium. Desas-desus yang kudengar Poe memang kecanduan benda itu. Mungkin setelah dia mengonsumsinya, daya khayalnya akan terbang tinggi. Lalu dia akan bisa dengan mudahnya menulis cerita-cerita yang menjijikkan.

Kutajamkan telinga untuk mendengar obrolan mereka. Dan inilah yang kudengar.

"Jadi bagaimana Clemm meninggal?"

Setahuku, perempuan itu memang sudah lama sekali sakit. Poe menikahinya saat dia masih berusia 13 tahun, pada tahun 1838. Sementara usia Poe saat itu sudah 27 tahun. Bagian ini agak memualkan juga. Bagaimana bisa seorang laki-laki dewasa menikahi anak-anak? Aku mual membayangkan Poe menyerang Clemm di atas ranjang mereka. Mungkin itu juga yang membuat Clemm menderita sakit di sepanjang hidupnya.

"Dia meninggal dengan tenang dan damai," Poe menyesap minumannya.

Laki-laki itu menggeleng. "Bukan itu." Dia meluruskan punggungnya. "Bagaimana cara dia meninggal? Apa sama seperti perempuan dalam cerita Kucing Hitam?"

Kulihat Poe terperenyak. Bola matanya seakan hendak melumat sosok di depannya.

"Apa maksudmu?" dia mengempaskan gelas di atas meja, begitu keras sehingga mengejutkan pemilik bar yang terkantuk-kantuk di belakang mejanya.

"Oh, ayolah. Aku tahu yang terjadi sesungguhnya," lalu laki-laki itu terkekeh. Tawanya terdengar ganjil. Aku seperti akrab sekali dengan irama tawa itu. Tak asing. Seakan-akan aku sangat mengenalnya, tetapi aku tak dapat mengingatnya dengan pasti.

"Clemm menghalangimu yang hendak mengayunkan kapak pada kucing hitam itu, kan? Tanpa sengaja kau mengenai kepalanya. Dia tersungkur, mati seketika. Aku benar, kan?"

Wajah Poe menegang. Aku dapat melihatnya dari tempat dudukku. Alis matanya bertaut. Bola matanya berkilat. Ada kobaran api di sana. Dan aku bersorak. Itu mata iblis yang kupuja.

"Kau gila!" dia mendengus.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved