Cerpen Guntur Alam
Pembunuhan Atas Edgar Allan Poe
TELAH bertahun-tahun aku merahasiakan ini. Menjahit mulut dengan rapat dan berpura-pura tak tahu sama sekali tentang kematian Edgar Allan Poe.
TELAH bertahun-tahun aku merahasiakan ini. Menjahit mulut dengan rapat dan berpura-pura tak tahu sama sekali tentang kematian Edgar Allan Poe. Namun semakin lama aku merahasiakannya, aku semakin tertekan—tapi sekaligus senang karena tak ada yang mengetahuinya selain diriku. Ketika aku menyadari perasaan senang yang menjijikkan itu, aku bergidik. Kurasa sisi iblis dalam diriku telah bangkit dan bisa jadi mulai memakan jiwaku. Pikiran itu pula yang membuatku teringat akan ucapan Poe sebelum setan neraka menyeret rohnya ke alam baka.
"Lord, selamatkan jiwaku."
Benar! Aku gelisah. Aku takut. Aku cemas. Aku tak pernah bisa tidur nyenyak lagi setelah kata-kata terakhir Poe sebelum menemui ajal itu terus-menerus menerorku. Padahal, malam setelah aku melihatnya tergeletak meregang nyawa di dalam selokan Jalan Baltimore, Washington, aku dapat tidur demikian lelap. Ah, sekarang bulu kudukku benar-benar meremang bila mengingat semua itu. Sepertinya, saat aku memilih untuk lari dan bungkam dan tidak melapor kepada polisi atas apa yang kusaksikan malam itu, sejak itu pula sesosok iblis bermukim di hatiku. Aku yakin sekali.
**
KITA rekonstruksi ulang kejadian malam itu, beberapa jam sebelum Poe ditemukan sekarat. Gambaran kejadiannya lebih kurang seperti ini. Poe tengah menikmati segelas rum di antara para tamu, suara musik mengalun dan orang-orang berdansa di lantai. Dia terlihat tercenung.
Kutebak, mungkin dia masih memikirkan almarhum istrinya, Clemm. Kata orang-orang, dia sangat mencintai perempuan itu, tetapi hati kecilku mengatakan bukan itu. Poe tengah memikirkan kisah seram apa yang bisa dia temukan di pesta ulang tahun ini. Mungkin cerita pembunuhan atas seorang tamu yang di dalam minumannya telah dicampur sianida.
Ini menggelikan, bukan? Aku mencintai sekaligus membenci Poe karena cerita-ceritanya itu. Kisah-kisah yang dia tulis terlalu menyeramkan. Terlalu menjijikkan. Di saat orang-orang memuji ceritanya karena berbeda dari pembual-pembual lainnya, aku justru muak tapi juga memujanya. Ini memang ganjil. Aku terobsesi oleh cerita-cerita Poe.
Ya, ini obsesi yang tak lazim. Aku ingin mewujudkan seluruh cerita Poe ke dalam dunia nyata. Aku ingin melakukan adegan-adegan penuh kekejaman yang dilakukan tokohnya. Aku ingin mencongkel mata kucing hitam seperti yang dia lakukan, lalu menyulang kepala istriku dan mengubur mereka di dinding ruang bawah tanah.
Aku juga ingin membunuh laki-laki tua yang tinggal di lantai atas apartemen kami. Aku tak membenci laki-laki itu, tak juga punya dendam pribadi. Dia laki-laki yang santun dan ramah dan senang sekali diajak bercerita. Namun masalahnya, saat aku memperhatikan laki-laki itu lebih jeli, aku benci melihat matanya.
Ya, matanya! Mata laki-laki itu seperti mata seekor burung pemangsa dan saat menyadari itu, aku langsung teringat cerita Poe. Darahku seketika berdesir, ada gairah aneh yang menjijikkan tetapi menyenangkan tumbuh di seluruh tubuhku. Aku membayangkan dapat membunuh laki-laki itu, mencongkel biji matanya yang menyebalkan.
Nah, bukankah itu sangat mengerikan? Kurasa aku telah menjelma monster karena termakan cerita Poe. Aku begitu terobsesi dan tergila-gila padanya. Lalu lambat laun, ketika aku sadar bila perasaan itu tak lazim, aku membenci Poe. Aku terus mengikutinya, ke mana pun dia pergi. Mengawasinya dan memperhatikan gerak-geriknya. Aku hanya ingin memastikan dia tak menulis cerita yang memuakkan seperti itu, agar aku tak kembali terobsesi.
Ada ide terlintas di benakku. Cara terbaik untuk menghentikan obsesi ini adalah melenyapkan penyebabnya dan itu Poe. Bila aku membunuhnya, dia tak akan bisa menulis cerita menjijikkan lagi. Namun aku mengurungkan niat itu. Rasanya tak mungkin aku melakukannya. Selain membencinya, bukankah aku mencintainya? Aku menyukai cerita-ceritanya. Hanya lewat ceritanya imajinasi liarku tumbuh dan hidup. Sesuatu yang tak pernah kusadari sebelumnya dan ternyata begitu menyenangkan merasakannya—kurasa aku memang gila.
**
SAAT pikiranku terus-menerus dimakan obsesi dan khayalan akan cerita Poe, seseorang menghampirinya. Seorang laki-laki bersetelan hitam dengan topi laken warna senada. Dia membisikkan sesuatu di telinga Poe. Aku melihat Poe sedikit terperanjat, dia menjauhkan wajah dari pembisik itu. Mengerutkan kening dan seperti menyimak dengan saksama. Lalu dia mengangguk-angguk, seakan setuju dengan ucapan laki-laki pembisik. Tak lama, Poe pergi bersama laki-laki itu.
Aku mengikuti mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pembunuhan-atas-edgar-allan-poe_20160402_212511.jpg)