Teras
Teras: Air
MODEL pertama gerakan politik.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Bila separatisme dalam segala bentuknya punya alasan kuat untuk dibungkam, apakah peminggiran budaya cukup kuat alasannya? Kita tahu dan mengakui bahasa Indonesia adalah bahasa politik, bahasa komunikasi, dan telah menjadi bahasa budaya.
Tak ada yang bisa menggugat. Dalam konteks kebhinnekaan, mungkin lebih manis jika sebagai bahasa budaya merangkul semua bahasa yang hidup.
Dengan demikian, sastra Indonesia tidak terbatas pada sastra berbahasa Indonesia, tapi juga sastra berbahasa daerah.
Perjuangan ke arah itu, tentu saja, tidak perlu dengan konfrontasi seperti arus balik yang dilakukan para nonoman Sunda dalam gerakan politik, yang arahnya bagi saya jelas soal kekuasaan yang telah lama dinikmati kaum menak tapi kaum nonoman tidak mampu melihat selubung itu sehingga mudah dijadikan martir.
Saya sependapat dengan Teddi Muhtadin bahwa gerakan kultural memang berbingkai keindonesiaan, konsepnya tidak emosional, bahkan ingin menunjukkan karakter Indonesia dengan keanekaragamannya.
Dalam menuju kebhinnekaan, sastra sebagai salah satu produk budaya perlu tetap pada karakternya, seperti air yang mengalir menemukan jalan, tapi bukan air bah yang mengamuk menerjang tanpa arah seperti yang diperlihatkan nonoman Sunda dalam gerakan politik. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Senin (21/3/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-ngopi-starbuck_20160201_083353.jpg)