Teras
Teras: Air
MODEL pertama gerakan politik.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
(lihat juga: VIDEO: Masya Allah! Bayi di Vietnam Ini Kembar, Satu Ibu Beda Ayah)
Maka tidak terlalu mengherankan apabila gerakan politik para nonoman Sunda itu kehilangan simpati dan langsung dibungkam serta tokoh-tokohnya ditangkapi.
Berbeda dengan gerakan politik, gerakan kultural lebih liat, seperti air yang selalu menemukan celah untuk meneruskan perjalanannya meskipun disumbat dari berbagai arah.
Para seniman Sunda dari kalangan muda menunjukkan suatu sikap, yang dalam pandangan Teddi Muhtadin menolak Jawa sentris tetapi secara halus dan dalam kerangka menuju keindonesiaan.
Dalam kesenian karawitan, para seniman Sunda menunjukkan identitas kesenian Sunda yang melepaskan diri dari pengaruh kesenian Jawa.
Justru dengan melepaskan diri dari pengaruh Jawa, konsep Bhinneka Tunggal Ika menemukan konteksnya.
Hingga kini, karawitan Sunda sudah mendunia dan sejajar dengan kesenian dari daerah lain.
Dalam sastra, seperti diungkapkan Teddi, para penulis Sunda melakukan pembangkangan terhadap bentuk dangding yang kaku karena harus teguh pada patokan guru lagu dan guru wilangan.
Bentuk dangding merupakan warisan tradisi Mataram, kerajaan di Jawa Tengah yang pengaruhnya sempat meluas ke wilayah lain, terutama mencengkeram tatar Priangan.
Pembangkangan bentuk dangding memicu polemik. Para penulis senior merasa mapan dengan dangding karena konsep estetikanya jelas, sedangkan bentuk sajak dianggap liar karena bebas tak ada aturan.
Sebaliknya, penulis muda menganggap penulis dangding tak bisa melepaskan diri dari keterjajahannya, dan dikaitkan dalam politik hal itu paralel dengan kaum menak yang nyaman berkoalisi dengan kolonial.
Meskipun pada awalnya penulis dangding masih kuat bertahan, lama-lama tersisih oleh para penulis sajak modern. Para penulis sajak menganggap bentuk sajak lebih demokratis dan cocok dengan alam kemerdekaan.
Hingga masa kontemporer ini, sajak mengalami perkembangan yang pesat dan telah lahir penyair-penyair dari berbagai generasi.
Di sisi lain ada kegentingan. Para penulis tetap menggunakan bahasa Sunda. Dalam konteks politik kebudayaan, susah untuk menembus pengakuan bahwa sastra Indonesia adalah sastra berbahasa daerah.
Sastra Indonesia adalah sastra berbahasa Indonesia. Peminggiran tersebut tak lepas dari sejarah Sumpah Pemuda dan nasioanalisme untuk membangun negara kesatuan yang kuat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-ngopi-starbuck_20160201_083353.jpg)