Teras

Teras: Air

MODEL pertama gerakan politik.

Teras: Air
dok. pribadi / facebook
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

KONFRONTASI kadang-kadang memang penting, tapi bagaimana menempatkannya dan strateginya, sangat tergantung pada tujuannya. Orang Sunda pada tahun 1950-an berada dalam dinamika sosial pascakemerdekaan.

Kaum nasionalis yang direpresentasikan oleh Soekarno dan kaum pengusung demokratis yang diwakili oleh Hatta adalah dua tokoh yang membawa Indonesia berhadapan dengan Belanda yang ingin memeluk kembali tanah jajahannya.

Bung Karno, yang melakukan konfrontasi sejak muda di Bandung, mendapat dukungan luas dari rakyat, terutama kaum nasionalis dan tokoh-tokoh pergerakan, sehingga akhirnya sepakat memilihnya sebagai presiden pertama didampingi oleh Bung Hatta.

(lihat juga: VIDEO: Terharu, Masya Allah! Bocah Ini Baca Alquran Sambil Menangis, Badannya Berdarah)

Fakta tak terbantahkan Bung Karno melampaui kekaguman bangsanya.

Perjuangannya berkonfrontasi dengan Belanda mendapat dukungan dari negara-negara yang senasib, sekaligus menjadi ancaman bagi negara-negara penganut merkantilisme seperti Amerika Serikat.

Konfrontasi Bung Karno mendapat simpati dunia. Kekuatan besar geopolilik saat itu belum muncul signifikan.

Baru setelah Bung Karno berkuasa, terutama menjelang terguling, dua kekuatan dunia, Cina dan AS, saling berebut pengaruh.

(lihat juga: VIDEO: Detik-detik Penandatanganan Kontrak Pemain Persib Bandung)

Dalam situasi itulah muncul gerakan dari masyarakat Sunda, yang berdasarkan hasil kajian Teddi Muhtadin, doktor ilmu humaniora dari Universitas Padjadjaran, muncul dalam dua model.

Halaman
1234
Penulis: cep
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved