Teras
Sihir
SUARANYA amblas dan ia sempat mengurung diri.
Penulis: cep | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Apa yang harus dipersoalkan? Bukankah demokrasi mengharamkan diskriminasi? Bukankah Amerika Serikat sebagai negara kampiun demokrasi pun telah memberikan contoh yang sama?
Soal etika dan moral cukup ada di buku-buku pelajaran dan dibahas di ruang kelas.
Kekuasaan memang sihir. Amien Rais, yang sempat menuai kekaguman banyak orang karena sikap heroiknya menjelang Soeharto tumbang, pada akhirnya terkena sihir juga.
Ia didukung banyak tokoh untuk maju dalam pertarungan pemilihan presiden 2004.
(lihat juga VIDEO: Seperti Ini Atraksi Barongsai Tonggak di Area Plaza Trans Studio Mall Bandung)
Saya masih ingat, dalam salah satun kampanyenya di Dadaha, Tasikmalaya, ia berpidato di tengah lautan pendukungnya dan mengatakan, "Saya tinggal selangkah lagi menuju kursi presiden."
Mungkin benar ia tinggal selangkah lagi, yaitu menunggu hari pencoblosan. Tapi dalam suaranya yang lantang dan eforia pendukungna terasa nada kemenangan. Ia begitu percaya diri.
Saya terharu dan sedih karena sang idola di alam reformasi itu ternyata tak menyadari bahwa politik penuh kekuatan sihir. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana apabila ia kalah.
Dan kenyataannya, suaranya amblas dan ia sempat mengurung diri.
Di masa-masa genting ketika para petarung politik dari masa lalu bertebaran, muncul pula para petarung baru. Politik memang membutuhkan orang-orang baik. Maka datanglah jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Siaful Djarot, Arya Bima dan wajah baru lainnya. mereka membawa harapan baru untuk tidak meniru para pemain lama, yang menemnpatkan politik tak lebih dari ajang mencari pekerjaan di sebuah korporasi. Mereka adalah harapan agar politik kembali ke marwahnya.
Jokowi rupanya kena sihir juga dan nasib cukup beruntung. Solo ia tinggalkan untuk memenuhi tugas partai yang melepasnya ke DKI. Jakarta pun ia tinggalkan karena partai memintanya jadi pemimpin nasional.
(lihat juga VIDEO: Detik-detik 2500 Seragam Batik Karya Siswa Santo Aloysius Bandung Masuk MURI)
Demi tugas partailah ia berjibaku bertarung di kancah politik dan ia bertuntung dalam petarungan ke pertarungan nasib baik selalu memihaknya.
Namun ia lupa dengan tugas suci politik, menuntaskan pengabdiannya pada warga yang telah memilihnya, baik di Solo maupun di Jakarta.
Dari perspektif tersebut saya sulit memahami nalar Wali Kota Bandung mengapa ia harus repot- repot bertanya kepada warga Kota Bandung di media sosial, apakah ia perlu ikut bertarung di kancah politik memperebutkan DKI 1 atau tidak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cecep-burdansyah-ngopi-starbuck_20160201_083353.jpg)