Cerpen Isbedy Stiawan ZS
Zaitun
BELANDA dingin pada bulan November, selepas musim gugur. Pohon-pohon di tepi jalan sudah kehilangan daun, bagaikan lelaki plontos.
"Itu sebabnya aku kuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Aku juga menyenangi sejarah dan hal-hal mengenai Indonesia," lanjut dia.
Zaitun, kata dia, bukan karena ibunya muslim. Namun karena nama itu sangat familier bagi orang Indonesia. Zaitun, ah, nama yang indah seindah dirinya. Zaitun adalah nama pohon yang amat disukai Nabi Muhammad. Sampai-sampai minyak zaitun kerap dipakai untuk kesehatan.
"Apa kamu juga bakal menyehatkan suamimu kelak, seperti zaitun?" tanyaku menggoda.
Ia tersenyum. Kuamati; senyumnya pun akan menyehatkan dan menenteramkan, terutama orang yang dicintai.
"Semoga saja," jawabnya kemudian. Pendek.
Saat berdialog, Zaitun kerap menggunakan kata-kata pendek. Bukan sebab ia tak fasih berbahasa Indonesia. Soalnya dalam surat-surat elektroniknya kepadaku, suka menggunakan kalimat panjang.
Usai makan, Zaitun pamit pulang ke Amsterdam. Dia kembali menemuiku lagi di kampusnya. Tubuhnya basah. Rambut sebahunya juga basah. Ia tampak kedinginan. Di kafe Universitas Leiden kami menikmati kopi.
Di halaman gerimis luruh. Sebentar lagi malam.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/zaitun_20160227_213439.jpg)