Cerpen Isbedy Stiawan ZS

Zaitun

BELANDA dingin pada bulan November, selepas musim gugur. Pohon-pohon di tepi jalan sudah kehilangan daun, bagaikan lelaki plontos.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi cerpen Zaitun 

BELANDA dingin pada bulan November, selepas musim gugur. Pohon-pohon di tepi jalan sudah kehilangan daun, bagaikan lelaki plontos. Angin sangat kencang saat suhu sekira 7 derajat celcius.

Baru pukul 15.00 saat aku keluar dari perut Bandar Udara Schiphol Amsterdam. Pertama-tama adalah mengganti kartu telepon dari provider Indonesia ke Belanda. Tak sulit untuk menukar, yang penting ada uang—tentu saja euro. Setelah mengaktifkan kartu baru, segera kuhubungi kawanku di Rotterdam melalui messenger facebook.

"Aku sudah di Amsterdam, Ajo," tulisku. Tak lama kawanku asal Minang yang sudah menetap 15 tahun di Rotterdam karena mendapat pekerjaan di sebuah rumah sakit itu menjawab: "Sebaiknya main-main saja dulu di Amsterdam, aku pulang dari kantor pukul 19.00."

Aku pun, seperti para wisatawan, berfoto-foto dulu. Sebuah tulisan "I Love Amsterdam" sangat besar, aku beraksi di sana. Meminta warga yang liwat untuk membidik. Di negara orang, aku tak malu berfoto diri. Dan, ini lazim dilakukan oleh para pejalan. Mengabadikan kenangan.

Ah, kenangan. Betapa indah untuk diabadikan. Betapa pedih jika hilang atau dilenyapkan. Begitulah. Musim dingin di bulan November tak membuatku malas diguyur angin kencang hanya untuk berfoto-riang. Lebih dari 10 kali dengan beragam gaya aku berfoto. Tak ketinggalan foto bersama perempuan pirang yang kebetulan sedang berfoto juga.

"Boleh kita foto?" kataku dengan bahasa Inggris yang sedikit kumiliki.

Perempuan pirang asal Prancis itu mengaangguk, lalu merangkul bahu kananku. Kami berfoto bersama. Begitu mesra. Layaknya sepasang kekasih. Kebetulan ia baru saja membeli bunga tulip di dalam stasiun. Katanya, untuk kekasihnya yang akan berulang tahun.

Aku sempat berkenalan, menyebut nama masing-masing. Hanya saja, aku lupa lantaran lidahku yang tak ramah melafal nama kosakata Eropa itu. Tetapi, pentingkah nama seseorang dalam sebuah perjalanan? Nama yang kelak dilupakan setelah kita berpisah?

Tetapi, aku sudah memiliki foto dia; bergaya di depan Schiphol dalam musim dingin di bulan November. Tiba-tiba aku berguman dan baris-baris kata meluncur:

menunggu kereta tiba
di schiphol bawah tanah
rotterdam tak terbayang
usai musim gugur

ingin merangkulmu

Ah, ini bukan Indonesia. Kuhapus keinginan-keinginan akibat dingin yang menyergap. Angin sangat kencang. Para pemacu sepeda nyaris terjungkal. Sejak tadi aku sudah memakai baju tebal, syal di leher, dan topi koplo. Tapi tak bisa juga membangun kehangatan. Beberapa batang rokok "inlander" sudah kulumat di bawah sepatuku. Kedua tanganku sudah kubalut dengan sarung. Kaus kaki dua lapis.

Aku heran saja, kenapa manusia Eropa bisa tahan hidup dalam musim dingin, lalu masuk musim salju? Apakah mereka tak beku? Hidup bagaikan dalam kulkas (freezer) tetap menikmati saja; bergegas ke tempat kerja dan pulang juga dengan gegas. Gerimis rinai. Namun tak membawa payung.

Bukan berarti orang Belanda—juga Eropa mungkin—tak bisa frustrasi. Aku pernah mendengar cerita, banyak orang Belanda yang bunuh diri pada musim salju. Saat itu, seharian mereka dalam gelap. Tak ada matahari. Hidup jadi resah. Salah satu bunuh diri yang ampuh adalah meloncat ke rel saat kereta api lewat.

"Akibatnya, jadwal perjalanan kereta api terganggu. Karena banyak yang bunuh diri," kata kawanku suatu saat.

Sebaliknya, warga Belanda layaknya anak-anak pada musim panas. Mereka bergembira dan membawa semua kursi ke depan rumah—dan tepi jalan—hanya untuk berpanas-panas di bawah matahari, buka pakaian.

**

SUDAH pukul 17.00 waktu Amsterdam. Suhu mendekati 4 derajat di luar. Aku membeli tiket kereta Inter City menuju Rotterdam. Sudah kukabari pada kawanku. Dia mengatakan, segera saja setiba di Rotterdam ke pintu keluar. Lalu lurus saja, menyeberangi jalan dan ada kasino di sebelah Hotel Manhattan. Masuk saja mall itu hingga keluar, lalu belok kanan dan di situ apartemen kawanku.

Tak sulit menemukan apartemen Ajo. Aku pencet nomor yang disarankan. Lalu suara Ajo terdengar bersamaan pintu lift terbuka. Aku masuk dan menuju rumah ajo di lantai 2. Beberapa malam aku menumpang, sebelum ke Leiden untuk urusan lain.

Leiden tengah hari, namun aku tak berpeluh. Dingin tak jauh beda dengan Rotterdam ataupun Amterdam. Ini kota tua bagi dunia pendidikan di Belanda. Sebuah universitas, yaitu Universitas Leiden, sangat terkenal. Sebab universitas ini telah melahirkan banyak manusia Indonesia yang cerdas dan sukses.

Di univeristas ini, esok malam aku akan membaca puisi di hadapan mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Tentu saja mahasiswa dari negara lain. Untuk menunggu esok aku mendapat penginapan di kediaman warga Belanda. Sekalian aku ingin beradaptasi, baik makanan maupun lainnya.

Leiden adalah kota yang sangat menghargai sastra. Di sejumlah tembok atau dinding rumah dan toko dipajang puisi (karya sastra) dari para sastrawan dunia. Setidaknya ada tiga sastrawan Indonesia yang karyanya diabadikan di dinding rumah, yakni penyair Chairil Anwar dengan puisinya "Aku", Ronggo Warsito, dan La Galigo. Kemudian para sastrawan dunia, seperti Khalil Gibran, Tagore, Shakespeare, dan lain-lain.

"Di sini juga ada bekas rumah Snouck Hurgronje," kata Nazar, mahasiswa S.3 di Universitas Leiden. "Di sana dekat kampus juga ada rumah semasa Rembraud remaja," lanjutnya.

Usai diskusi sastra, seseorang mendekatikku. Ia ingin meminta tanda tangan di buku puisiku yang baru dia beli.

"Apa perlu namamu kutulis sebagai persembahan sebelum kutandatangani buku ini?" aku menggoda. Sebetulnya aku ingin tahu namanya.

Ia mengangguk. Lalu menulis namanya: Denise Zaitun Thorugh. Aku pun menulis di lembar pertama buku puisiku yang dibelinya: To Denise Zaitun: Selamat membaca.

Malam itu kawan-kawan di Universitas Leiden mengajak makan bersama di sebuah restoran ala Italia. Denise tak ketinggalan. Sepanjang jalan aku mengobrol dengannya.

Denise, seperti kata dia, masih ada darah Indonesia. Ibunya etnis Jawa, sedangkan ayahnya warga negera Belanda. Namun, ibunya kemudian melepas warga negara Indonesia. "Tapi kedua orang tuaku sudah berpisah saat aku masih anak-anak," ujar dia.

Ia memilih tinggal bersama sang ibu. Ia mengaku jarang bertemu dengan ayahnya. Apalagi ayahnya sangat kaku. "Aku lebih nyaman bersama ibu. Ibu juga perlu dikasihani," ucapnya lirih.

Lalu diam. Malam amat dingin. Kami melewati beberapa lorong dan melintasi jembatan kanal sebelum sampai ke restoran ala Italia itu. Perempuan Belanda-Indonesia di sebelah kiriku banyak bercerita tentang kekagumannya pada Indonesia. Meski ia tak mau jadi orang Indoensia.

"Itu sebabnya aku kuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Aku juga menyenangi sejarah dan hal-hal mengenai Indonesia," lanjut dia.

Zaitun, kata dia, bukan karena ibunya muslim. Namun karena nama itu sangat familier bagi orang Indonesia. Zaitun, ah, nama yang indah seindah dirinya. Zaitun adalah nama pohon yang amat disukai Nabi Muhammad. Sampai-sampai minyak zaitun kerap dipakai untuk kesehatan.

"Apa kamu juga bakal menyehatkan suamimu kelak, seperti zaitun?" tanyaku menggoda.

Ia tersenyum. Kuamati; senyumnya pun akan menyehatkan dan menenteramkan, terutama orang yang dicintai.

"Semoga saja," jawabnya kemudian. Pendek.

Saat berdialog, Zaitun kerap menggunakan kata-kata pendek. Bukan sebab ia tak fasih berbahasa Indonesia. Soalnya dalam surat-surat elektroniknya kepadaku, suka menggunakan kalimat panjang.

Usai makan, Zaitun pamit pulang ke Amsterdam. Dia kembali menemuiku lagi di kampusnya. Tubuhnya basah. Rambut sebahunya juga basah. Ia tampak kedinginan. Di kafe Universitas Leiden kami menikmati kopi.

Di halaman gerimis luruh. Sebentar lagi malam.

***

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved