Cerpen Isbedy Stiawan ZS

Zaitun

BELANDA dingin pada bulan November, selepas musim gugur. Pohon-pohon di tepi jalan sudah kehilangan daun, bagaikan lelaki plontos.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi cerpen Zaitun 

"Akibatnya, jadwal perjalanan kereta api terganggu. Karena banyak yang bunuh diri," kata kawanku suatu saat.

Sebaliknya, warga Belanda layaknya anak-anak pada musim panas. Mereka bergembira dan membawa semua kursi ke depan rumah—dan tepi jalan—hanya untuk berpanas-panas di bawah matahari, buka pakaian.

**

SUDAH pukul 17.00 waktu Amsterdam. Suhu mendekati 4 derajat di luar. Aku membeli tiket kereta Inter City menuju Rotterdam. Sudah kukabari pada kawanku. Dia mengatakan, segera saja setiba di Rotterdam ke pintu keluar. Lalu lurus saja, menyeberangi jalan dan ada kasino di sebelah Hotel Manhattan. Masuk saja mall itu hingga keluar, lalu belok kanan dan di situ apartemen kawanku.

Tak sulit menemukan apartemen Ajo. Aku pencet nomor yang disarankan. Lalu suara Ajo terdengar bersamaan pintu lift terbuka. Aku masuk dan menuju rumah ajo di lantai 2. Beberapa malam aku menumpang, sebelum ke Leiden untuk urusan lain.

Leiden tengah hari, namun aku tak berpeluh. Dingin tak jauh beda dengan Rotterdam ataupun Amterdam. Ini kota tua bagi dunia pendidikan di Belanda. Sebuah universitas, yaitu Universitas Leiden, sangat terkenal. Sebab universitas ini telah melahirkan banyak manusia Indonesia yang cerdas dan sukses.

Di univeristas ini, esok malam aku akan membaca puisi di hadapan mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Tentu saja mahasiswa dari negara lain. Untuk menunggu esok aku mendapat penginapan di kediaman warga Belanda. Sekalian aku ingin beradaptasi, baik makanan maupun lainnya.

Leiden adalah kota yang sangat menghargai sastra. Di sejumlah tembok atau dinding rumah dan toko dipajang puisi (karya sastra) dari para sastrawan dunia. Setidaknya ada tiga sastrawan Indonesia yang karyanya diabadikan di dinding rumah, yakni penyair Chairil Anwar dengan puisinya "Aku", Ronggo Warsito, dan La Galigo. Kemudian para sastrawan dunia, seperti Khalil Gibran, Tagore, Shakespeare, dan lain-lain.

"Di sini juga ada bekas rumah Snouck Hurgronje," kata Nazar, mahasiswa S.3 di Universitas Leiden. "Di sana dekat kampus juga ada rumah semasa Rembraud remaja," lanjutnya.

Usai diskusi sastra, seseorang mendekatikku. Ia ingin meminta tanda tangan di buku puisiku yang baru dia beli.

"Apa perlu namamu kutulis sebagai persembahan sebelum kutandatangani buku ini?" aku menggoda. Sebetulnya aku ingin tahu namanya.

Ia mengangguk. Lalu menulis namanya: Denise Zaitun Thorugh. Aku pun menulis di lembar pertama buku puisiku yang dibelinya: To Denise Zaitun: Selamat membaca.

Malam itu kawan-kawan di Universitas Leiden mengajak makan bersama di sebuah restoran ala Italia. Denise tak ketinggalan. Sepanjang jalan aku mengobrol dengannya.

Denise, seperti kata dia, masih ada darah Indonesia. Ibunya etnis Jawa, sedangkan ayahnya warga negera Belanda. Namun, ibunya kemudian melepas warga negara Indonesia. "Tapi kedua orang tuaku sudah berpisah saat aku masih anak-anak," ujar dia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved