Coffee Break
H. Duki
DI Lembang, Mak Emin Katminah memiliki kisah yang berbeda.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Di sebuah bus jurusan Bandung-Purwokerto, seorang kondektur juga memiliki kisah hidup yang bisa mengilhami banyak orang.
Saya mengenal beberapa kondektur bus karena secara rutin saya pulang kampung dan kembali ke Bandung dengan naik bus. Salah satu di antara kondektur itu bernama H. Duki. Nama itu terpasang di dada kanan seragam awak bus itu. H-nya benar-benar haji.
Di usianya yang sudah 65 tahun, ia tetap gesit. Kecelakaan yang pernah menimpanya, yang membuat salah satu kakinya cedera parah, tidak membuatnya pensiun. Kaki itu sudah sembuh dan hanya menyisakan bekas luka serta, kadang-kadang, rasa ngilu.
"Eeeh, kumaha damang?" begitulah H. Duki selalu menyapa jika kami bertemu, seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, dengan senyum di wajahnya yang ramah.
Pertemuan itu biasanya berlangsung di Terminal Bumiayu ketika saya naik busnya. Atau ketika saya sudah duduk dan dia menariki ongkos kepada para penumpang yang baru naik dari terminal itu.
"Alhamdulillah. Kumaha sawangsulna, Pa Haji?"
Kadang dia memberikan tarif kepada saya beberapa ribu lebih rendah daripada tarif resmi bus itu. Saya menghargainya sebagai sebuah perhatian dan persahabatan, tidak sekadar hubungan penumpang dan awak bus.
Pada pertemuan terakhir kami, sepekan lalu, ia menceritakan anak bungsunya yang baru saja diterima bekerja di sebuah bank besar pemerintah di Jakarta. Anak bungsunya itu lulusan Politeknik ITB.
H. Duki memiliki empat anak, semuanya lulusan perguruan tinggi dan sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Salah satu anaknya yang lain juga bekerja di sebuah bank pemerintah.
Anak pertamanya bekerja di sebuah perusahaan di Batam sambil menjalankan usaha kue.
"Anak-anak Pak Haji sukses semua. Mestinya Pak Haji bisa pensiun dan mengasuh cucu," kata saya.
H. Duki tertawa. "Anak saya juga bilang begitu. 'Sudahlah, Pa, bareng saya saja di sini'," katanya menirukan kata-kata salah seorang anaknya.
"Tapi Bapak menolak. Selama masih kuat, Bapak akan tetap menjalani pekerjaan ini."
Tak lama kemudian ia menariki penumpang lain, lalu menuju pintu depan.
Seraya berdiri menyandar pintu, kepalanya melongok keluar dan tangannya menunjuk jika ada calon penumpang di tepi jalan.
"Bandung, Bandung!" teriaknya. (*)
Naskah ini bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Minggu (17/1/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/hermawan-aksan-tengah-berbicara-pakai-mike_20160117_100753.jpg)